Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » YKS – Migrant CARE Gelar Seminar Migrasi Aman Bagi Pelajar SMA Lembata

YKS – Migrant CARE Gelar Seminar Migrasi Aman Bagi Pelajar SMA Lembata

(596 Views) June 9, 2016 2:04 pm | Published by | No comment
anis hidayah

Anis Hidayah

LARANTUKA, aksiterkini.com – Dalam rangka mencegah terjadinya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dihadapi buruh migran, maka Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) dan Migrant CARE Jakarta akan menggelar seminar sehari tentang migrasi aman, bahaya trafficing dan perbudakan modern bagi para pelajar sekolah menengah atas dan kejuruan di Kabupaten Lembata.

Kegiatan yang akan berlangsung di Lewoleba, Selasa tanggal 14 Juni mendatang menghadirkan sejumlah narasumber dari Jakarta, antara lain artis dan juga duta anti perbudakan Melanie Sobuno, Direktur Migrant CARE Jakarta, Anis Hidayah, Komisioner AICHR Dinna Wisnu, dan

Team Leader Program MAMPU, Elisabeth Elson. Kegiatan ini akan menghadirkan 700 orang pelajar  SMA dan kejuruan yang tersebar di Kota Lewoleba dan sekitarnya.

Dalam kerangka acuan yang dikeluarkan oleh Migrant CARE Jakarta disebutkan, seminar ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pelajar bahwa bermigrasi adalah hak setiap warga negara yang dijamin dalam konstitusi. Karena itu para pelajar harus dibekali informasi  mengenai hak-hak bagi buruh migran dan resiko bermigrasi, seperti trafficking, perbudakan modern, dan kasus-kasus lainnya.

Tujuan lain dari seminar ini juga untuk memberikan informasi kepada pelajar mengenai langkah-langkah preventif untuk tidak terjebak sebagai korban pada masa kelak mencari kerja  dan sebagai awasan bagi pelajar untuk waspada terhadap pihak yang menawarkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi,  baik melalui sekolah maupun modus-modus lainnya.

Menurut Migrant CARE, buruh migran Indonesia,,  terutama perempuan masih mengalami kerentanan terhadap praktek pelanggaran HAM dalam migrasi. Vonis hukuman mati yang dijatuhkan Mahkamah Tinggi Penang Malaysia terhadap Rita Krisdianti 30 Mei 2016 lalu membuktikan hipotesa bahwa selama ini buruh migran menjadi salah satu sasaran sindikat narkoba dan sindikat perdagangan orang.

Data yang dihimpun Migrant CARE menyebutkan di Malaysia saat ini setidaknya ada 158 buruh migran yang terancam hukuman mati, dimana 102 orang adalah korban sindikat narkoba sekaligus korban perdagangan orang. Kasus teranyar di NTT adalah Dolfina Abuk, buruh migran perempuan asal TTU yang juga diduga kuat sebagai korban perdagangan orang hingga meninggal dunia yang  proses hukumnya  belum menunjukkan ada titik terang.

“Seperempat abad terbitnya Konvensi Internasional untuk Perlindungan Hak-hak Buruh Migran dan Anggota Keluarganya  adalah sebuah langkah maju untuk penghormatan martabat, perlindungan hak buruh migran dan pembangunan yang menyejahterakan Buruh Migran, belum menemukan relevansinya di Indonesia yang notabene sudah empat tahun ratifikasi konvensi tersebut. Sebaliknya, UU No. 6 tahun 2012 tentang Ratifikasi Konvensi Perlindungan Hak-hak Buruh Migran dan Anggota keluarganya berhenti menjadi tumpukan dokumen diatas kertas dan belum konkrit diimplementasikan dalam bentuk pembaruan kebijakan dan pelembagaannya,” tulis Migrant CARE.

Migrant CARE menyesalkan bahwa sampai saat ini, kebijakan setingkat undang-undang dan turunannya masih belum berpedoman pada instrumen tersebut. Padahal sebagai negara yang menjadi bagian dari instrumen tersebut, kewajiban utama yang dilakukan adalah mengharmonisasi kebijakan-kebijakan nasional agar berkesesuaian dengan instrumen perlindungan hak buruh migran dan anggota keluarganya. Akibatnya, kerentanan dan pelanggaran hak asasi yang dihadapi oleh buruh migran Indonesia dan anggota keluarganya masih terus terjadi.

Di bawah kepemimpinan pemerintahan baru dengan payung kebijakan lama, buruh migran Indonesia tetap berada di dalam kerentanan. Pelanggaran hak asasi manusia yang dihadapi buruh migran belum bergeser. Kasus-kasus ancaman hukuman mati terus meningkat, kekerasan dan penyiksaan terus berlangsung, trafficking semakin menguat di tengah moratorium yang tanpa pengawasan, kematian buruh migran juga tetap massif. Sementara untuk sektor ABK dan PRT migran juga masih mengalami perbudakan. Kasus kematian buruh migran juga semakin variatif dan ekstrim. Tahun ini dua PRT migran Indonesia dibunuh di Hongkong dengan cara yang keji, dimutilasi. Buruh migran yang meninggal akibat kapal tenggelam juga terus berulang. Pada 3 September 2015, kembali terjadi kapal tenggelam di perariran Sabak Berenam, Selangor Malaysia yang mengakibatkan 14 orang meninggal dunia. Moda transportasi kapal yang mengangkut 70 buruh migran tidak berdokumen yang hendak pulang ke Indonesia ini merupakan anti klimaks dari kebijakan monopoli pengurusan pemulangan buruh migran tidak berdokumen di Malaysia oleh IMAN Resources. (mans balawala)

Topik:
News:

No comment for YKS – Migrant CARE Gelar Seminar Migrasi Aman Bagi Pelajar SMA Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *