Menu Click to open Menus
Home » DESTINASI » Walang, Saat Panen Di Teriknya Kemarau

Walang, Saat Panen Di Teriknya Kemarau

(362 Views) September 27, 2017 3:22 pm | Published by | No comment

Menjejakan kaki di Walang, Desa Udak, Kecamatan Nubatukan, anda seolah diajak memasuki taman Eden. Ruas jalan utama yang membelah perkebunan ini, masih perawan, tanpa sentuhan proyek pemerintah. Suasana hutan pun tanpa rekayasa teknologi. Sejuknya hawa pegunungan menyapu bersih Hawa terik sepanjang perjalanan dari kota Lewoleba.

Letaknya di puncak perbukitan wilayah Desa Udak Melomata, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Walang menjadi lokasi ideal bagi perkebunan. Satu-satunya lokasi landscape datar di perbukitan Udak seluas lebih dari 20 Ha. Ribuan pohon kemiri terhampar di perbukitan itu menjulang tinggi. Dari lingkar batang dan tingginya pohon, diperkirakan sudah lebih dari 50 tahun usianya. Tak terhitung jumlah biji kemiri yang terhampar di bawah pohon.

Menyusuri jalan tanah setapak di sisi Selatan Walang, tanaman komoditi lain pun tak kalah mencuri perhatian. Hamparan buah kakao berwarna kuning bergelantungan di pohon, berpadu dengan deretan warnah merah kopi Udak yang masih bergelantungan di pohonnya.

Sejumlah perempuan dan laki-laki menghadap karung. Mereka mengisi karung tersebut dengan buah kemiri yang baru dikumpulkan. Tak lupa, mereka juga memetik kopi di pohon, memilih rentetan biji kopi yang telah terserak di tanah dimakan Luwak. Sesekali, mereka memungut biji kakao.

“Kalau musim kemarau seperti saat ini, kami datang ke kebun hanya untuk pilih kemiri, kakao dan kopi. Tetapi sekarang harga kemiri sedang naik, sehingga kami pilih kemiri saja. Sebab musim kemarau kebun kami yang lain tidak bisa dikerjakan. Ini saatnya kami mengumpulkan sebanyak-banyaknya kemiri yang sudah berjatuhan sejak beberapa tahun lalu,” ujar Guma Unarajan, petani setempat.

Setiap musim kemarau tiba, warga setempat memilih untuk bertani di Walang. Selain menghindari terik yang menyengat, para petani setempatpun masih terus bekerja. Memanen hasil yang ditanami bertahun-tahun silam.

“Setelah dikumpulkan, kemiri-kemiri ini dijemur selama dua hari kemudian dikupas kulitnya sebelum dijual ke kota Lewoleba. 1 kilogram kemiri pecah sekarang harganya 20 ribu rupiah per kilogram. Besok saya bawa ke Lewoleba untuk dijual. Saya bawa 50 kilogram kemiri kupas. Ini hasil yang saya kumpulkan selama 1 minggu,” ujar Guma.

Menurut Guma, ia akan membawa pulang uang 10 juta rupiah setelah ditimbang kepada pengusaha komoditi di kota Lewoleba.

Walang menjadi tumpuan hidup petani setempat. Mengumpulkan komoditi lalu mendapatkan uang. Di musim paceklik sekalipun, Walang terus memberi hidup.

 

Ruas Jalan Terparah

Dibalik magnet komoditi yang mampu menghidupi warga, namun petani setempat dihadapkan pada buruknya ruas jalan. Terakhir proyek APBD II Kabupaten Lembata diarahkan untuk merubah ruas jalan sejauh 1 kilometer. Ditambah lagi proyek lapen yang dikerjakan sejauh 2 kilometer. Namun kontraktor itu hengkang, menyisahkan proyek jalan dalam kondisi terbengkelai. Ruas jalan hanya di agregat B.

Segmen paling membahayakan adalah dari kali Paubokol menuju Desa Uruor. Jalanan tanah berlubang, dipenuhi debu. Saking buruknya, pemerintah Desa bersama Warga Desa Uruor mengerjakan rabat semen secara swadaya pada segmen kritis. Hingga pada jalur mematikan, Kerbau Knoki. Segemen yang sulit ditaklukan dengan anggaran sedikit itu butuh perhatian extran dari pemerintah.

“Komiditi banyak tapi kami kesulitan jalan. Entah sampai kapan pemerintah bisa perhatikan kami,” ujar Guma sambil bergumam.

 

Kawasan Penyangga Ekonomi

Dibawah Pemerintahan Bupati Eliazer Yentji Sunur dan Thomas Ola Langoday, wilayah jalur tengah yang membentang dari Desa Bakalerek hingga ke Wulandoni ditetapkan sebagai irisan kawasan peyanggah ekonomi.

“Jalur tengah masuk dalam daerah irisan kawasan penyangga ekonomi, sebagai cluster penjaga ketahanan pangan. Pemerintah sudah menetapkan tiga kawasan ekonomi yakni kawasan Pada, Waijarang dan Nagawutun; kawasan Botani (Bobu dan Tobotani). Sementara jalur tengah sebagai kawasan irisan penyangga ekonomi akan diback up dari Kementerian PMK. Ini akan memudahkan perencanan di sektor infrastruktur,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perhubungan Kabupaten Lembata, Paskal Tapobali.

Sementara itu, Kepala Bapelitbangda, Said Kopong, menjelaskan, Pengembangan wilayah/kawasan ekomomi strategis cepat tumbuh terintegrasi* merupakan 1 dari 3 model dan strategi kebijakan peningkatan daya tahan ekonomi daerah,  melalui transformasi pembangunan rantai ekonomi berbasis inovasi untuk peningkatan pendapatan dari *#Lembata 2.0* yang diusung dalam RPJMD Tahun 2017-2022.

Pengembangan wilayah/kawasan ekonomi strategis cepat tumbuh terintegrasi terdiri dari *Koridor Ekonomi I Parang Mingar (Pada Waijarang Mingar)* yang terbagi dalam 4 Claster dan *Koridor Ekonomi II Botani (Bobu Tanjung Leur Tobotani)* yang terbagi dalam 2 Claster.

“Khusus jalur tengah, masuk dalam daerah irisan dan tetap masuk dalam pengembangan wilayah yang ada tetapi dia menjadi hinterland dan punya fleksibilitas untuk mendukung beberapa cluster yang ada,” ujar Kopong.(Alexander Taum)

No comment for Walang, Saat Panen Di Teriknya Kemarau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.