Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Unjukrasa Hari Kedua, ROTASI Temui Wakajari dan KapolresLembata

Unjukrasa Hari Kedua, ROTASI Temui Wakajari dan KapolresLembata

(1498 Views) May 25, 2016 4:24 pm | Published by | 1 Comment

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Front Lembata Bersih (ROTASI), yang tergabung dari JPIC SVD, Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L), ALDIRAS, Forum Peduli Kategori II Lembata (FPKL), dan IKA Wanted, kembali menggelar unjukrasa pada hari kedua, Selasa (24/5/2016). Bergerak dari Kota Baru, massa yang tidak kalah banyaknya dengan unjukrasa hari pertama, berarak menuju kantor Kejaksaan Negeri (Kajari) Lewoleba. Orator ulung Elias Making, dalam orasinya mengatakan, bahwa aksi damai ini tidak diboncengi oleh kepentingan politik, atau di-back up oleh figur-figur tertentu.

“Aksi damai ini murni kepedulian kami. Kami yang peduli terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Lewotana Lembata ini. Apa mata kalian buta menertawai kami yang berteriak memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang nyata-nyata terjadi di negeri ini? Kalian tertawa sinis di penggir jalan, karena melihat kami ini seperti orang gila, dan saya katakan iya kami orang gila yang menggilai kebenaran dan keadilan, dan kami tidak mau generasi Lembata kedepan digilai dengan kepalsuan dan kebohongan. Kami tidak mau generasi Lembata nanti adalah tukang cengeng, yang dikritiki, langsung lapor ke polisi,” tegas Elias mengiringi arakan massa menuju Kajari Lewoleba.

Lebih lanjut, Elias menguraikan berbagi kasus yang terjadi di Lembata yang sampai saat ini belum tuntas antara lain, kasus pembunuhan Lorens Wadu, kematian bocah Alfons Sita di Waiara yang tersangkanya sudah ditetapkan Longginus Lega (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lembata) namun belum ditindaklanjuti, dugaan pemerasan kontraktor, dugaan pencurian pasir besi, masalah pengangkatan PNS kategori II yang tak kunjung tuntas, bupati yang tak pernah betah tinggal di Lembata, masalah proyek multyyears yang akhirnya membuat plt. Kadis PU, Silvester Wungabelen kalah telak di Mahkamah Agung (MA), masalah LKPJ akhir tahun dan akhir jabatan bupati yang tidak disampaikan ke DPRD,  masalah kritik yang terkesan dilarang, dugaan percaloan dan pencaplokan APBD untuk pembangunan fasilitas pribadi (Kuma Resort), lemahnya niat pemimpin dalam melakukan reformasi birokrasi, dan masalah Ijzah Bupati Lembata Eliaser Yetji Sunur yang tidak diakui oleh negara. Dan masalah-masalah inilah yang membuat ROTASI harus turun ke jalan.

Di sepanjang jalan terlihat masyarakat berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan, memberikan dukungan dan semangat agar perjuangan ini terus dilanjutkan. Siswa-siswi SDI Lewoleba 1, SDI Waikomo 1 dan SDI Waikomo 2 pun turut memberikan dukungan dengan tepukan tangan.

Melihat siswa-siswi tersebut Pater Vande dalam orasinya mengajak anak-anak agar belajar yang rajin sehingga menjadi anak yang pintar. “Anak-anakku, generasi masa depan Lembata, di pundak kalianlah Lembata ini menjadi tanggung jawabmu. Belajarlah yang rajin, agar menjadi anak yang pintar, cerdas dan mendapatkan ijazah dengan cara yang benar. Tamat dulu baru dapat ijazah, jangan karena nanti banyak uang dan beli ijazah. Belajarlah menjadi anak yang jujur” ajak Pater Vande.

Massa demonstrasi tiba di Kejari tepat pukul 09.15 Wita. Tampak aparat keamanan (polisi) sudah menjaga ketat pagar masuk kantor Kejari. Simon Odel atau yang akrab disapa Mon Odel tampil berorasi di depan Kantor Kejari. Dirinya meminta kepada Kejari agar membukakan pintu, agar massa bisa masuk dan bisa bertemu dengan Jaksa.

“Kami ini datang dalam aksi damai untuk bertemu secara damai dengan bapak, bapak jaksa. Oleh karena itu, kami minta dengan hormat, tolong pintunya dibukakan agar kami bisa masuk,” minta Odel.

Permintaan dikabulkan, dan massa diijinkan masuk dan menduduki halaman depan kantor Kejari. Beberapa utusan massa, antara lain, Broin Tolok, Pater Vande, Alex Murin, Mon Odel, Gabriel, Yohanes Lapuan, Pedro Wanted, Abba Wanted, mewakili massa untuk berdialog dengan Jaksa.

Dalam pertemuan itu, ORASI menyampaikan sejumlah kasus yang penanganannya belum jelas dan berpihak tidak berpihak pada keadilan dan kebenaran sehingga Rotasi meminta keseriusan Jaksa dalam menangani kasus ini. Antara lain, kasus pembunuhan Lorens Wadu, yang sudah menetapkan Tolis Ruing, Bence Ruing dan Dion Wadu sebagai tersangka, tapi proses lanjutnya tak jelas sampai sekarang. Begitu juga kasus kematian tidak wajar bocah Alfons Sita, yang mana Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Longginus Lega sudah ditetapkan jadi tersangka tetapi kenapa di-SP3-kan. Pun, kasus dugaan pemerasan terhadap Paulus Lembata yang sudah dilaporkan namun belum ada kejelasan penanganannya. Anehnya, Kades Lewoeleng yang belum dilantik, belum diperiksa, namun kejaksaan sudah tetapkan P21, dua anggota DPRD Lembata, Fransiskus Limawai dan Bediona Philipus, masalah rumah tangga DPRD namun bisa diambil alih Jaksa, pengancaman wartawan Flores Pos dan kasus air Wailean.

Wakil Jaksa, I. N. Adika, menjelaskan bahwa, kejaksaan juga mempunyai misi yang sama yakni menegakan keadilan dan kebenaran, tanpa pandang bulu, atau karena dibayar dengan uang. “Kita menangani semua kasus dengan benar dan adil tanpa pandang bulu, kasus kematian Alfons Sita, sudah SP3 di penyidik, karena belum lengkap bukti, begitupun Lorens Wadu, kalau sudah kuat bukti kami akan limpahkan. Kepala Desa Lewoeleng, sudah P21, dan benar tidaknya kita akan buktikan di pengadilan. Kalau soal wartawan Flores Pos kita kembalikan ke penyidik karena belum cukup bukti,” ujar Adika.

Mendengar jawaban dari Jaksa ini, Mon Odel, membantah keras, terkait kematian boca Alfons Sita yang mana sudah jelas tersangkanya namun di SP3kan. “Kan sudah ditetapkan tersangkanya, kenapa di SP3kan? Ada apa ini? Apakah melibatkan pejabat sehingga dan sudah mendapat suntikan sehingga begitu? Mau dibuktikan bagaimana lagi?” sergah Mon Odel.

Terkait dengan kasus kematian Lorens Wadu, Alex Murin meminta kepada Jaksa agar yang sudah terbukti ditetapkan jadi tersangka. “Sudah jelas terbukti, kenapa belum juga ditetapkan sebgai tersangka. Jelas-jelas, Tolis Ruing, Bence Ruing dan Dion Wadu itu terlibat, kenapa lama sekali tindak lanjut, apa lagi yang mau dibuktikan. Kan sudah terbukti,” tegas ketua FP2L ini.

Dialog dengan Kapolres Lembata, AKBP ArsdoSimatupang

Terkait dugaan pembangunan fasilitas pribadi (Kuma Resort) oleh Bupati Lembata, Alex Murin memberikan foto yang tertulis proyek pengerjaan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di lokasi tersebut.

Di akhir diskusi ini, ROTASI melalui koordinatornya Broin Tolok menyerahkan pernyataan sikap, dan secara tegas berharap agar para jaksa, benar-benar tulus bekerja, pro keadilan dan kebenaran dan selama ini bekerja pada rel yang benar bukan karena rupiah yang digadaikan. Namun kalau seandainya selama ini keadilan dan kebenaran dibeli dengan rupiah, maka kita lihat saja kedepan. Lewotana Lembata tidak akan tutup mata.

Dari Kejari, massa bergerak menuju ke Mapolres Lembata. Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang, yang baru bertugas 3 (tiga) hari tersebut disambut dengan aksi damai sebagai ucapan selamat datang di Lembata. Kabupaten yang penuh dengan persoalan yang belum tuntas.

ROTASI membeberkan semua kasus yang selama ini belum ditangani tuntas antara lain, kasus pembunuhan alm. Lorens Wadu, kasus kematian boca Alfons Sita di Wairia, pemerasan terhadap Paulus Lembata oleh bupati Lembata sebesar Rp. 350,000.000, dan kasus penanggulangan bencana di Kedang. Kepada Kapolres yang baru tersebut, agar dengan nurani dan rasa kemanusiaan menyelesaikan sejumah persolan yang terjadi di Lembata ini.

Kepada Rotasi, Arsdo Simatupang, menjelaskan bahwa dirinya akan mempelajari semua persoalan yang dilaporkan.

“Saya baru tiga hari bertugas di Lembata, oleh karena itu saya terima laporannya dan akan pelajari semua materi kasus ini”, jelas Simatuang sambil menerima pernyataan sikap yang diberikan oleh koordinator Rotasi Broin Tolok. (osy)

Topik:
News:

1 Comment for Unjukrasa Hari Kedua, ROTASI Temui Wakajari dan KapolresLembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.