Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Telisik atas Novel ‘Cintaku di Lembata’: Hospitalitas dalam Sastra dan Pariwisata

Telisik atas Novel ‘Cintaku di Lembata’: Hospitalitas dalam Sastra dan Pariwisata

(1029 Views) May 3, 2017 8:09 am | Published by | No comment

Alexander Aur

Oleh: Alexander Aur Apelaby

Novel Cintaku di Lembata merupakan imajinasi dalam perjalanan lembut, selembut angin sabana dan musik Sasando. Kisah cinta yang dikolaborasikan dengan keindahan alam NTT, dijalin melalui kata-kata yang tidak rumit namun mengena di hati. Maka, bagi siapapun yang membacanya, dipastikan muncul kerinduan untuk menjelajahi tanah NTT, tanah karang dengan liukan pohon lontar yang selalu ada di mana-mana. Tanah dengan cinta yang pernah ada. – Gerson Poyk, Sastrawan.

Absolute hospitality requires that I open up my home and that I give not only to foreigner (provided with a family name, with the social status of being a foreigner), but to the absolute, unknown, anonymous other, and that I give place to them, that I let them come, that I let them arrive, and take place in the place I offer them, without asking of them either reciprocity (entering into  a pact) or even their names. Tha law of absolute hospitality by right, with law or justice as rights. – Jacques Derrida, Filosof.

Testimoni Gerson Poyk (alm) dan pernyataan Jacques Derrida tersebut menjadi pintu gerbang indah dan baik, yang melaluinya kita (pembaca) dapat masuk ke dalam isi dan merengkuh makna novel Cintaku di Lembata karya Sari Narulita. Gambaran tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam testimoni Gerson Poyk tersebut, mungkin merupakan suatu hiperbola bila dikonfrontasikan dengan pernyataan mengenai NTT yang terdengar selama ini. Banyak pihak menyatakan secara deskriptif NTT sebagai sebuah provinsi dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi, alam yang kering dan gersang, tingkat perdagangan manusia (human trafficking) tinggi, kekurangan pangan, busung lapar yang selalu terjadi setiap tahun, dsb.. Deskripsi yang demikian, selanjutnya bermuara pada pernyataan-pernyataan yang bersifat olok-olokan dengan cara memplesetkan kepanjangan dari singkatan NTT menjadi Nasib Tidak Tentu dan Nanti Tuhan Tolong.

Deskripsi dan plesetan tersebut lebih sebagai sebuah reduksi ugal-ugalan terhadap NTT. Adalah benar bahwa di NTT terdapat banyak sekali persoalan seperti yang terdeskripsikan di atas. Tetapi deskripsi tersebut dari sudut pandang ekonomi-politik negara (pemerintah) saja. Mendeskripsikan dan menggambarkan NTT hanya dengan satu sudut pandang (sudut pandang ekonomi-politik) a la negara (pemerintah), meskipun didukung dengan data-data statistik yang valid, tetapi berat sebelah dan merupakan reduksi atas NTT sebagai suatu keseluruhan. Reduksi semacam itu diperparah lagi dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat olok-olokan tersebut.

Eksistensi NTT jauh lebih kompleks, kaya, dan unik daripada sebatas data-data statistik tentang keburukan sosial di NTT. Kompleksitas dan keunikannya menunjukkan bahwa NTT adalah sebuah peradaban. Sebagai sebuah peradaban, NTT merupakan salah satu sumbu api peradaban Indonesia, berdampingan dengan sumbu api peradaban lain yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Sangie sampai Rote. NTT sebagai peradaban diujarkan secara deskriptif-metaforik oleh Gerson Poyk dalam testimoninya di atas dan secara luas dan mendalam tertuang dalam novel Cintaku di Lembata ini. Tidak saja itu, ungkapan deskriptif-metaforik keberadaan NTT sebagai sebuah peradaban pun sudah dilakukan oleh banyak pihak dan dari berbagai bidang serta persepektif.

Ujaran deskriptif-metaforik tentang NTT dalam novel ini menyingkapkan kepada pembaca bahwa NTT  itu indah, mempesona, dan berdaya pikat. Kepesonaan dan keberdaya-pikatannya terungkap dalam hal alam, budaya, sikap, dan tindakan orang-orang NTT.  Keberadaan NTT yang demikianlah, yang kemudian dikomodifikasikan oleh pemerintah daerah (Pemprov dan Pemkab) melalui program pariwisata. “NTT adalah salah satu destinasi pariwisata dunia setelah Bali dan Lombok.” Demikian slogan yang dikumandangkan oleh beberapa pihak, baik pihak swasta maupun pihak pemerintah, sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini.

Novel Cintaku di Lembata adalah sebuah representasi dari aktualisasi slogan dan program tersebut. Kehadiran novel – yang berisi kisah cinta yang tumbuh kembali dalam sebuah perjalanan turisme (perjalanan pariwisata) – menyingkapkan suatu titik temu antara sastra dan pariwisata.

Perkara Sudut Pandang, Metodologi, dan Tesis Hospitalitas

Dari sudut pandang akademik (disiplin keilmuan), ilmu sastra dan ilmu pariwisata merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda. Sebagai sebuah disiplin ilmu, ilmu sastra mempunyai metode kerja dan objek kajian (refleksi) tertentu. Metode kerja ilmu sastra adalah refleksi-estetis. Objek-objek refleksi-estetisnya adalah seluruh realitas baik yang empirik maupun non empirik. Dengan metode refleksi estetisnya, berbagai realitas diabstraksikan secara estetis dan mendalam. Buah dari refleksi estetis tersebut selanjutnya dituangkan oleh sastrawan dalam karya-karya sastra berbentuk puisi, prosa, dan drama.

Demikian pula pariwisata. Sebagai sebuah disiplin ilmu, ilmu pariwisata juga mempunyai metode kerja dan objek kajian. Berbeda dengan metode kerja ilmu sastra yang bersifat reflektif-estetis, metode kerja ilmu pariwisata adalah praktis-pragmatis. Objek-objek yang dikaji ilmu pariwisata adalah segala hal dan praktik yang berhubungan dengan dunia pariwisata/turisme, seperti service (pelayanan), tour and travel, hotel, kuliner, dan tradisi-tradisi masyarakat tertentu.

Dari sudut pandang keilmuan tersebut, tampak bahwa ilmu sastra dan ilmu pariwisata merupakan dua hal yang berbeda. Benar, kedua disiplin ilmu itu berbeda. Tetapi berbeda bukan berarti tidak ada titik temu. Bukankah justru karena berbeda (ada perbedaan), maka ada titik temu (pertemuan)? Sastra dan pariwisata, baik dari sisi keilmuan maupun praktik – dapat  bertemu pada titik yang sama.

Hal-hal yang berkaitan erat dengan pariwisata dapat menjadi objek refleksi ilmu sastra dan menghasilkan sebuah karya sastra yang bertema kepariwisataan. Hasil refleksi-estetis itu dapat pula digunakan kembali oleh ilmu pariwisata untuk mengembangkan pariwisata secara unik dan khas. Hal itu berarti, ada satu spirit (roh) yang sama, yang terkandung dalam (ilmu) sastra dan terkandung juga dalam (ilmu) pariwisata. Spirit yang samanya adalah hospitalitas.

Hospitalitas (keramahan) adalah titik temu sastra dan pariwisata. Inilah tesis utama yang lahir dari hasil pembacaan mendalam atas novel Cintaku di Lembata. Uraian berikut ini merupakan hasil dari pembacaan mendalam atas novel tersebut. Dengan menggunakan sudut pandang filsafat hospitalitas yang dikemukakan oleh filosof Jacques Derrida, uraian berikut ini merupakan argumentasi atas tesis tersebut.

Uraian argumentatif berikut ini terbagi dalam beberapa bagian. Pertama, struktur novel. Kedua, hospitalitas sebagai titik temu sastra dan filsafat. Ketiga, makna fundamental hospitalitas. Keempat, hospitalitas absolut dalam novel Cintaku di Lembata. Kelima, penutup: sastra(wan) yang emansipatif dan pariwisata yang berhospitalitas.

Struktur Novel Cintaku di Lembata

Perihal struktur novel Cintaku di Lembata, ada beberapa hal yang akan diuraikan secara singkat, yakni tema, metode narasi (pengisahan), pembingkaian tema, dan penokohan.

Tema novel Cintaku di Lembata adalah cinta (percintaan). Percintaan Kayla (Aku) dan Gringgo (lelaki gagah, tampan, dan dengan wajah yang sungguh laki-laki). Tetapi bukan percintaan biasa seperti dalam roman-roman percintaan pada umumnya. Sebaliknya, narator membingkai percintaan Kayla dan Gringgo dalam sebuah perjalanan pariwisata atau turisme. Dengan pembingkaian seperti itu dan dengan metode narasi maju-mundur, tema percintaan dalam novel ini menjadi hal yang unik.

Dengan pembingkaian dan metode tersebut, makna cinta sebagai sesuatu yang unik, terangkat ke permukaan dan dapat dicerap oleh para pembaca. Makna cinta (percintaan) dalam novel ini bukan lagi semata-mata cinta antara laki-laki dan perempuan yang sedang kasmaran. Sebaliknya, cinta (percintaan) mengalami perluasan makna, yakni cinta kepada tanah air (tanah kelahiran), cinta kepada tradisi kebudayaan, dan cinta seseorang terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya. Semangat patriotisme (cinta tanah air) sangat kental dalam novel ini.

Tema cinta (percintaan) yang mengalami perluasan makna tersebut mengemuka melalui sikap-sikap yang ditunjukkan dua tokoh utama, Kayla dan Gringgo, dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam seluruh kisah ini, Kayla dikemas (ditempatkan) oleh narator sebagai Aku. Dengan pengemasan/penempatan yang demikian, justru Kayla/Akulah yang mengisahkan sendiri percintaannya dengan Gringgo dalam bingkai perjalanan pariwisata atau turisme. Modus pengisahan oleh Kayla/Aku tersebut, mau tidak mau membuat Kayla/Aku dan Gringgo kembali ke masa lalu, ketika Kayla masih menjadi seorang artis ibu kota dan Gringgo sebagai seorang tentara yang bertugas di tanah Timor. Dengan kata lain, cinta (percintaan) dalam novel ini adalah suatu perjumpaan kembali antara Kayla/Aku dan Gringgo, dalam bingkai perjalanan pariwisata/turisme. Dalam bahasa gaul anak zaman sekarang, disebut CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).

Ada dua implikasi dari perjumpaan kembali Gringgo dan Kayla dalam konteks perjalanan pariwisata/turisme tersebut. Pertama, cinta (percintaan) Kayla/Aku dan Gringgo kali ini merupakan sebuah memoria (pengenangan kembali). Dalam memoria, cinta merupakan satu hal yang disebut oleh Luce Irigaray sebagai re-directing the gift of love, yakni cinta sebagai ungkapan humanitas manusia. Cinta (percintaan) sebagai ungkapan humanitas manusia, tampak dalam pernyataan I love to you dan bukan I love you. Pernyataan I love you mengandung kecenderungan untuk menguasai, mengontrol, dan memanipulasi orang yang dicintai sebagai objek yang harus dikuasai oleh sang pencinta. Pengobjekan dalam cinta berakar pada relasi yang tidak setara antara pencinta dan yang dicinta. Dengan kata lain, cinta yang intimidatif – oleh Luce Irigaray terkandung dalam pernyataan I love you dan dengan seluruh ungkapan konkritnya – bukan merupakan ungkapan kemanusiaan manusia.

Sebaliknya, I love to you berarti saya “berbicara kepada engkau”, “saya bercerita kepada engkau”, “saya bertanya kepada engkau”, “saya memberi sesuatu kepada engkau”, dan sebagainya. Relasi cinta dalam bingkai I love to you berakar pada relasi yang setara antara orang yang saling mencintai. Di dalam I love to you tidak ada objektivasi dan manipulasi. Ketiadaan objektivasi dan manipulasi terdapat pada kata to (kepada). Kata “kepada” menyatakan keberadaan pihak lain (orang yang dicintai) sebagai pihak yang otonom dan memiliki eksistensi yang unik dan khas. Dengan mudah pembaca dapat menemukan berbagai ungkapan I love to you secara simbolik dari Gringgo kepada Kayla dan Kayla kepada Gringgo dalam novel ini.

Kedua, perluasan makna cinta (percintaan). Jika I love to you sebelumnya adalah pernyataan dari Gringgo kepada Kayla/Aku dan sebaliknya, maka I love to you dalam konteks perluasan makna ini adalah pernyataan cinta orang-orang Lembata kepada para wisatawan. Orang-orang Lembata menyatakan I love to you kepada para wisatawan secara simbolik melalui sikap ramah dan ritus adat penyambutan para wisatawan. Sikap dan ritus orang-orang Lembata ini juga merupakan akar dari hospitalitas yang sesungguhnya.

Narator menarasikan implikasi kedua melalui tokoh Kayla harus melepaskan impiannya untuk selalu bersama dengan Gringgo. Ia harus berjuang keras untuk merelakan Gringgo yang memilih untuk membaktikan diri dan hidupnya kepada tanah kelahirannya. Bersamaan dengan itu, Gringgo dengan seluruh komitmennya pada tanah kelahirannya dan para tetua adat yang dimunculkan oleh narator dalam novel ini, sebagai penanda yang konsisten terhadap kesetaraan budaya dan kemanusiaan.

Hospitalitas: Titik Temu Sastra dan Pariwisata

Hospitalitas merupakan hal yang sangat penting dalam praktik bisnis pariwisata/turisme. Sebagai sealah satu jenis industri dan bisnis modern, bisnis pariwisata atau turisme sangat menekankan hospitalitas. Bahkan dalam manajemen bisnis modern, hospitalitas adalah hal penting dan tak boleh diabaikan dalam menjalankan bisnis tertentu. Secara umum, para pelaku bisnis modern, menempatkan hospitalitas dalam proses bisnis. Dalam kerangka berpikir tentang kedudukan hospitalitas tersebut, novel Cintaku di Lembata merupakan karya sastra yang mengangkat masalah hospotalitas dan cinta dalam konteks bisnis pariwisata/turisme.

Sejak awal kisah, narator sudah mengedepankan hospitaltias melalui via negativa. Dengan metode via negativa, narator mengangkat ke permukaan persoalan hospitalitas sebagai hal yang penting dalam bisnis pariwisata. Mula-mula narator membungkus hospitalitas melalui narasi tentang alam pulau Lembata dan relasi sosial yang berlangsung dalam masyarakat Lembata. Hal itu tampak dalam potongan kisah berikut ini:

Pulau Lembata … konon dikenal dengan nama Lomblen, yang berarti kawula. Alamnya sebagian besar terdiri atas wilayah pesisir pantai, perbukitan, dan gunung berapi. Penduduk aslinya berasal dari dua etnis, Lamaholot dan Kedang. Meski agama di sini Roma Katolik, Islam, Protestan, Hindu, dan Budha, mereka masih menaruh kepercayaan pada leluhur dan adat memberi sesaji. Juga sangat kuat memegang tradisi.

Petugas bandara di sini ramah, tapi heran melihat pagi-pagi sudah begitu banyak penumpang datang dari Jakarta. … Para petugas berpandangan, dan tidak seorang pun menjawab.

Dua etnis di Lembata yang menganut berbagai agama hidup dalam suasana harmoni dan bersahaja. Keharmonisan dan kebersahajaan itu merupakan ungkapan dari hostpitalitas dalam diri manusia. Keharmonisan dan kebersahahaan itu terepresentasi dalam alam dan situasi sosial orang-orang Lembata. Tetapi bagi narator, hospitalitas itu digambarkan secara paradoksal oleh narator, yakni ramah tapi heran. Penggambaran secara paradoksal itu, merupakan cara yang dipakai oleh narator untuk mengangkat masalah hospitalitas ke permukaan, supaya menjadi perhatian banyak pihak.

Masalah hospitalitas diangkat lagi melalui via negativa dan digambarkan secara paradoksal oleh narator. Sanggahan tokoh Nora terhadap pemersoalan Kayla/Aku tentang hospitalitas menampakan ciri paradoksal penggambaran narator tentang masalah hospitalitas. Hal tersebut tampak dalam potongan narasi berikut ini:

Aku melihat ke sekeliling. Tembok ruangan putih bersih, tak ada poster atau foto objek wisata. Mubazir membiarkan kosong melompong dinding yang bisa digunakan untuk mempromosikan berbagai lokasi indah pulau ini.

“Sayang sekali koordinasinya kurang, padahal bandara dan pelabuhan merupakan pintu masuk wisatawan,” keluhku.

“Mestinya hal seperti ini diperhatikan,” sahut orang yang duduk di sampingku, sependapat. Sayang, momentum ini tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

… “Mungkin karena rombongan besarnya naik kapal laut, jadi mereka lebih fokus berpromosi di sana,” sanggah Nora.

Ups… aku langsung sadar, ada nona dari NTT di sini. Aku harus lebih hati-hati bicara.   

Pemersoalan hospitalitas sebagai hal yang penting dalam pariwisata, diudarkan kembali oleh narator melalui tokoh Kayla/Aku. Hal itu tampak narasi berikut ini:

Kegiatan ini merupakan permulaan yang baik, meskipun tidak diimbangi dengan informasi dan tenaga andal dari pusat untuk menangani sektor wisata. Jarak tempuh yang cukup jauh serta biaya transportasi yang relatif mahal, butuh imbalan setimpal. Menurutku keunikan objek wisata saja tidak cukup. Perlu pelayanan memuaskan dan berbagai kemudahan agar wisatawan tergerak untuk kembali ke sini atau menyebarkan ke keluarga dan teman.

Dalam cuplikan narasi di atas, tampak jelas bahwa hospitalitas berkaitan erat dengan service (pelayanan) dalam industri pariwisata atau turisme. Pelayanan dari pelaku/pengembang pariwisata kepada wisatawan. Para wisatawan berada pada posisi sebagai penikmat pariwisata. Dengan statusnya yang demikian, pengembang/pelaku pariwisata/turisme harus memenuhi hasrat untuk menikmati dari para wisatawan melalui penyediaan berbagai sarana dan pelayanan yang diberikan kepada mereka. Makna hospitalitas seperti itu merupakan hal utama dalam industri pariwisata atau turisme dan terungkap jelas pada bagian awal kisah dalam novel ini.

Dengan mengisahkan Kayla yang memersoalkan pelayanan dan kemudahan bagi para wisatawan tersebut, narator berupaya untuk memastikan bahwa sastra memerhatikan hospitalitas sebagai hal yang penting dan mendesak bagi siapapun, khususnya bagi pelaku pariwisata dan wisatawan. Tampak sekilas, narator berhasil mempertemukan sastra dan pariwisata. Titik temu itu adalah hospitalitas. Tetapi sesungguhnya belum sampai pada makna fundamental hospitalitas. Konsekuensinya adalah keberakaran hospitalitas pada keberadaan diri manusia belum terungkap secara jelas.

Lalu, apa makna sesungguhnya hospitalitas itu? Bagaimana keberakarannya pada diri manusia? Apa urgensinya terhadap pariwisata?

Makna Fundamental Hospitalitas

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong kita untuk masuk lebih dalam ke persoalan makna fundamental hospitalitas dan keberakarannya pada diri manusia. Pada bagian struktur novel di atas, sudah dikemukakan mengenai perluasan makna cinta dalam novel Cintaku di Lembata. Perluasan makna cinta tersebut sesungguhnya berakar pada makna fundamental hospitalitas. Filosof Jacques Derrida mengartikan hospitalitas sebagai “undangan dan selamat datang kepada ‘orang asing’.” Pengartian oleh Derrida tersebut menunjukkan bahwa hospitalitas merupakan sebuah fenomena yang berkenaan dengan gagasan tentang “orang lain” atau “orang asing”. Hal itu berarti hospitalitas merupakan suatu kondisi dasar manusia. Hospitalitas merupakan kodrat dasar manusia.

Sebagai suatu kondisi/kodrat dasar manusia, hospitalitas mengandung pengertian tentang keberadaan pihak tertentu dan keberadaan pihak lain, yang sering disebut sebagai “orang luar” atau “orang asing”. Pengertian mengenai hal itu bertautan erat konsep a priori tentang “yang lain”. Implikasi lebih lanjut dari pengertian yang demikian adalah bahwa hospitalitas bukan sebatas penyediaan sarana dan prasarana serta kemudahan bagi para wisatawan. Bukan pula soal proses bisnis seperti yang ditekankan dalam dunia manajemen bisnis modern. Lebih dari itu, hospitalitas adalah kesiap-sediaan dan kerelaan menerima secara total pihak yang lain, yang oleh Derrida disebut hospitalitas absolut. Derrida berkata:

“Hospitalitas absolut menuntut saya untuk membuka rumah saya dan bahwa saya memberi tidak hanya kepada orang asing (yang dilengkapi dengan nama keluarga, status sosial, dsb.) tetapi terhadap yang absolut, yang tak diketahui, yang lain yang tak bernama, dan saya memberi tempat bagi mereka, dan saya membiarkan mereka datang, saya membiarkan mereka tiba, dan mengambil alih tempat yang sudah saya sediakan untuk mereka, tanpa saya harus bertanya, baik tentang resiprositas maupun nama mereka. Hukum hospitalitas absolut memerintahkan suatu penggantian atas hospitalitas sebagai hak dengan hukum atau keadilan sebagai hak.” (Kevin D. O’Gorman dari Karya J. Derrida, yang berjudul Of Hospitality)

Pemikiran Derrida tentang hospitalitas absolut tersebut menunjukkan bahwa hospitalitas merupakan masalah etis dan bukan masalah pelayanan dan kemudahan yang bersifat material belaka. Bahkan Derrida secara jelas menyerukan bahwa hukum hospitalitas absolut mengharuskan kita untuk mengganti hospitalitas sebagai sebuah hak dengan hospitalitas sebagai keadilan. Bukan hak atas hospitalitas melainkan hak atas keadilan. Bila keadilan dalam hak atas hospitalitas adalah keadilan hukum, maka keadilan dalam hospitalitas absolut adalah keadilan etis. Jadi, hospitalitas absolut mengandung keadilan dan itu juga berarti hospitalitas merupakan keutamaan moral (moral virtue).

Dalam keadilan hukum, pihak tertentu harus memenuhi hak pihak lain. Keadilan hukum sangat jelas dalam relasi bisnis modern yang sangat menekankan aspek ekonomi dan mengutamakan hukum penawaran dan permintaan. Sedangkan dalam keadilan etis, pihak tertentu membuka diri dan menerima pihak lain tanpa syarat apapun. Keadilan etis menyentuh kedirian manusia yang paling fundamental, yakni diri yang selalu terbuka dan berorientasi pada sesuatu yang absolut. Hospitalitas berakar dalam diri manusia yang demikian.

Hospitalitas Absolut dalam Novel Cintaku di Lembata

Dalam novel Cintaku di Lembata, hospitalitas absolut justru teridentifikasi dalam masyarakat dan tetua adat masyarakat, yang didatangi oleh para wisatawan. Para penyelenggara pariwisata – dalam novel narator merujuk pada pemerintah kabupaten Lembata – justru tidak menampakkan hospitalitas absolut. Masyarakat setempat dan para tetua adatlah yang menyingkapkan hospitalitas absolut melalui penyambutan terhadap para wisatawan.

Penyingkapan hospitalitas absolut oleh masyarakat setempat dan para tetua adat, teridentifikasi dalam narasi berikut ini:

 Setelah acara penyambutan, kami disuguhi kopi, teh, dan kue-kue khas daerah sini, termasuk pisang goreng yang dimakan dengan sambal. Memang aneh, tapi hmm… enak sekali.

Sepanjang jalan iringan mobil disambut masyarakat setempat. Mereka berlarian keluar rumah dan melambai dengan wajah ceria. Kami pun membalasnya dengan semringah.

Sekitar jam 17.00 kami tiba di puncak bukit Desa Lamagute. Mobil berhenti dan kami dipersilakan turun, menanti sampai seluruh rombongan tiba. Akan ada upacara adat yang merupakan tradisi penyambutan, sebelum kami diperbolehkan memasuki desa tersebut.

… Para tetua adat yang berbaris memegang tombak sambil berpantun sahut-menyahut. Seorang perempuan tua menyanyikan lagu dengan nada-nada monoton dengan nyaring. Tidak satu pun kata yang kami mengerti, tapi semua menikmati ritual ini. Setelah tarian tombak, sejumlah perempuan berkain adat dengan sekotak sirih di tangan menghampiri kami dan menyuguhkannya.

… Acara diakhiri dengan pemotongan tali, yang membentang menghalangi jalan. Parang dihunus dan wuusss! Dengan sekali tebas, tambang yang tebal itu putus. Kami pun dipersilakan masuk ke Desa Lamagute diiringi gendang dan musik tradisional. Jalannya menurun dan agak curam. Dalam keremangan kami diarahkan menuju rumah besar di pinggir lapangan.

Meskipun hospitalitas absolut mulai tersingkap melalui sikap dan penyambutan orang-orang setempat (Lembata) dan para tetua adat, tetapi tokoh Kayla dalam novel ini, masih kukuh dengan jalan pikirannya mengenai hospitalitas yang banal (dangkal) seperti yang dianut oleh para wisatawan dan pebisnis pariwisata/turisme secara umum. Dalam potongan narasi berikut ini, tampak jelas bahwa Kayla terus berkutat dengan hospitalitas yang dipahaminya semata-mata sebagai pelayanan yang memadai yang bersifat material bagi para wisatawan.

Bahkan, hospitalitas absolut yang ditunjukkan oleh orang-orang setempat dipandang dengan perasaan iba oleh Kayla. Memandang dengan perasaan iba, mengindikasikan bahwa bagi Kayla, orang-orang setempat patut dikasihani dengan cara memaksimalkan pariwisata sesuai standar yang berlaku umum di daerah-daerah wisata lainnya. Sikap Kayla tersebut mengindikasikan cara berpikir kolonialistik. Cara berpikir seperti itu justru membelenggu Kayla untuk menangkap hospitalitas absolut yang ditunjukkan oleh orang-orang setempat (anak-anak kecil, ibu-ibu tua, gadis remaja dan para pemuda) yang menyambut mereka secara tulus. Simaklah potongan narasi berikut ini:

Sejak sampai di Lembata, kulihat lebih banyak kekeringan dan kemiskinan di antara keindahan pulau ini dan ketulusan penduduknya. Hati kecilku bertanya-tanya, mengapa pulau ini bisa tertinggal dari pulau lain di NTT?

… Mungkinkah pariwisata akan tumbuh di daerah ini? Jalanan banyak yang belum tertata rapi, home stay belum memiliki standarisasi, sanitary, dan privacy. Banyak yang harus dibenahi. Apalah arti inisiatif daerah tanpa dukungan penuh pemerintah pusat dan masyarakat luas? Pidato wakil pariwisata terdengar miris di telingaku dan sambutan antusias masyarakat setempat membuatku menangis dalam hati.

Oh, mata anak-anak kecil itu, begitu ceria. Geraknya lincah, bikin aku iba. Gadis remaja dan para pemuda mementaskan tarian tradisional dengan penuh gairah. Sementara ibu-ibu tua dengan mata lelah mencoba tertawa dan ikut menari, menghibur pengunjung.

Hospitalitas dangkal a la Kayla, justru diinterupsi oleh Gringgo. Sosok yang dicintai oleh Kayla dan sangat diharapkan supaya menjadi pendamping hidupnya, justru menginterupsi Kayla agar tidak melulu memandang NTT dan orang NTT (tentu termasuk Lembata dan orang-orang Lembata di dalamnya) dengan cara berpikir orang kota dan sudut pandang wisatawan. Simak potongan narasi berikut ini:

Bukan hanya keindahan alam dan budayanya, Kayla, NTT adalah museum hidup. Di sini banyak kampung adat yang terawat, tradisi marapu, dan megalitik. Ritual di sini bukan dilakukan sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu wisatawan, tapi memang merupakan keseharian yang mereka jalankan.

Interupsi Gringgo terhadap Kayla juga merupakan interupsi terhadap pihak manapun agar tidak sewenang-wenang dalam menilai dan mengukur keberadaan manusia dan kebudayaannya yang mendiami wilayah tertentu. Dalam konteks pariwisata, interupsi tersebut juga untuk peringatan keras bahwa daerah wisata tertentu dan orang-orang yang mendiami daerah tersebut bukan objek pariwisata.

Sering kali, para wisatawan dan pelaku industri pariwisata mendaku dirinya sebagai pelaku (subjek) pariwisata. Sedangkan tempat wisata dan orang-oranganya dijadikan sebagai objek pariwisata. Bukankah selama ini dunia pariwisata Indonesia selalu menggunakan kata “objek”? Pendekatan subjek-objek yang demikian itu merupakan kolonialisme terselubung dalam industri pariwisata dan turisme. Kolonialisme terselubung tersebut berbahaya bagi eksistensi daerah wisata dan orang-orang yang mendiami daerah wisata.

Mengapa kolonialisme? Pertanyaan itu dapat dijawab dengan pertanyaan-pertanyaan retoris berikut ini. Bukankah wisatawan ke tempat wisata tertentu adalah untuk memperoleh dan menikmati hal yang tidak ada di tempat asalnya? Jika wisatawan ke tempat tertentu dan mendapat hal yang sama seperti di tempat asalnya, lalu untuk apa mereka berwisata? Dua pertanyaan itu mengindikasikan bahwa penyelenggaraan pariwisata di Indonesia lebih sering berlangsung dalam pola dan logika provitable dan minim pola dan logika hospitable.

Sastra(wan) yang Emansipatif dan Pariwisata yang Berhospitalitas Absolut

Sastra(wan) sebagai aktivitas reflektif-estetis atas realitas tidak boleh memfokuskan perhatiannya semata-mata pada hospitalitas dangkal. Sastra(wan) justru mengemban tugas emansipatif, yakni membebaskan dari para wisatawan dan para pelaku industri pariwisata supaya mempunyai kewajiban etis untuk mengembangkan pariwisata yang berdimensi hospitalitas absolut. Sastra(wan) yang emansipatif, melahirkan karya-karya yang membuka pikiran dan mendesak para wisatawan, pelaku industri pariwisata, dan orang-orang di tempat wisata mengenakan hospitalitas absolut sebagai keutamaan moral. Dengan keutamaan moral yang demikian, aktivitas pariwisata adalah aktivitas manusia, yang di dalamnya semua pihak yang terlibat di dalam aktivitas tersebut mempunyai kedudukan yang setara sebagai manusia dan tidak ada pengokolinian oleh pihak tertentu terhadap pihak lain.

Tugas lain dari sastra(wan) yang emansipatif dalam bidang pariwisata adalah membongkar pengandaian-pengandaian dibalik industri pariwisata. Dalam konteks industri pariwisata di NTT, Pemerintah Provinsi NTT mengandaikan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan ke NTT berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan warga NTT. Sastra(wan) mesti membongkar pengandaian itu agar pembaca memperoleh kepastian tentang rasionalitasnya.

Pengandaian tersebut mengandung beberapa persoalan serius. Pertama, ukuran kesejahteraan. Apa yang dimaksudkan dengan kesejahteraan? Alat ukur apa yang digunakan pemerintah provinsi untuk mengukur tingkat kesejahteraan hidup warga? Secara konseptual, definisi dan makna kesejahteraan sangat cair. Berdasarkan pertimbangan akal sehat, sebagian besar orang menyebut kesejahteraan lahir dan batin. Kesejahteraan lahir mungkin bisa diukur dengan tingkat pendapatan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup fisik. Tetapi terhadap kesejahteraan batin, sulit sekali mengukurnya. Kesulitan itu bukan karena tidak ada alat ukur melainkan karena subjektivitas manusia sebagai person. Setiap orang mempunyai cara dan keunikan masing-masing dalam mempersepsikan dan merasakan kesejahteraan batin.

Jika pemerintah hanya mengukur kesejahteraan lahir karena mempunyai alat ukur yang pasti, misalnya dengan indeks dan statistik, maka pada titik ini pulalah pemerintah gagal memahami kedirian warga baik sebagai person maupun sebagai bagian dari sebuah komunitas budaya. Pemerintah memang ditugaskan untuk merawat kehidupan warga. Tetapi perawatan itu tidak dengan menyempitkan berbagai dimensi hidup warganya, semata-mata hanya pada kesejahteraan ekonomi-material.

Kedua,  pemerolehan kesejahteraan warga juga terkait erat dengan kesiapan warga mengalami goncangan dan keretakan budaya dan pandangan hidupnya, yang disebabkan oleh budaya dan pandangan hidup yang dibawa oleh para wisatawan dari luar. Goncangan ini pasti tak terhindarkan. Pada satu tahap tertentu, goncangan dan keretakan itu akan menghasilkan suatu pilihan ekstrim yang ditetapkan oleh warga yakni, melepaskan budaya dan pandangan hidup yang diterima dari kebudayaannya, dan menggantikannya dengan budaya dan pandangan hidup dari luar kebudayaannya. Pilihan ekstrim selalu melahirkan korban. Korban yang timbul dalam suatu pergeseran budaya secara ekstrim merupakan hal yang bertentangan dengan hospitalitas absolut.

Jadi, NTT secara umum dan Lembata secara khusus tidak dapat tidak mengembangkan pariwisata yang membawa kesejahteraan lahir dan batin. Pariwisata yang demikian adalah pariwisata yang berhospitalitas absolut. Untuk perwujudannya, keberadaan dan peran sastra(wan) yang emansipatif adalah keniscayaan.(*)

Medang Lestari, akhir April-awal Mei 2017.

Penulis adalah lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dosen filsafat pada Fakultas Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan (UPH) dan dosen Ilmu-ilmu Humaniora pada Universitas Multimedia Nusantara (UMN-Kompas/Gramedia). Menulis puisi dan cerpen. Aktif sebagai kurator laman Rumah Bahasa dan Budaya www.floressastra.com.

Topik: , ,
News:

No comment for Telisik atas Novel ‘Cintaku di Lembata’: Hospitalitas dalam Sastra dan Pariwisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.