Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Teganya, Ibu Maria Menangis Karena Ulah Yentji Sunur

Teganya, Ibu Maria Menangis Karena Ulah Yentji Sunur

(1185 Views) November 3, 2016 7:37 am | Published by | 2 Comments

Maria Uku (foto:sandrowangak)

LEWOLEBA, aksiterkini,com – Nasib Honor Kategori 2 (K2) Kabupaten Lembata yang sudah lulus ujian negara nasibnya menjadi miris dan menyedihkan. Walau sudah lulus ujian dan mengikuti seluruh tahapan verifikasi dokumen, nasib mereka semakin tidak jelas bahkan bertambah runyam. Mereka menuding Eliaser Yentji Sunur, mantan bupati Lembata sebagai biang keladinya.

Maria Uku, 53 Tahun salah seorang Tenaga Honor K2 yang lulus Ujian, tapi nasibnya sampai saat belum jelas, kepada aksiterkini.com, 2 November 2016, di Lewoleba menjelaskan, nasib mereka dihalang, dan bahkan digantung mantan bupati Eliazer Yentji Sunur. Pasalnya, nasib mereka sampai saat ini tidak jelas karena Bupati Lembata yang dijabat, Eliazer Yentji Sunur tidak mau menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM), sebagai salah satu syarat mutlak diprosesnya Nomor Induk Pegawai (NIP) bagi CPNS (sekarang ASN-red) di BKN Regional X Denpasar.

Patut dicatat, Eliazer Yentji Sunur sudah mengakhiri masa jabatan sebagai Bupati Lembata tepatnya 25 Agustus 2016 bersama Viktor Mado Watun sebagai wakil bupati. Dengan demikian harapan Maria Uku bersama 327 Honorer K2 semakin cemas akan nasib mereka.

Uku mempertanyakan 327 tenaga honorer Kategori II Lembata yang telah dinyatakan lulus oleh Panselnas KEMENPAN-RB tahun 2013 dan 2014, lalu kenapa Bupati tidak mau menandatangani SPTJM ?

Maria Uku yang didampingi beberapa tenaga honorer, dengan suara serak menahan tangis mengungkapkan saat ini mereka semakin sulit karena Sunur sudah tidak lagi menjadi bupati bahkan kepala BKD sudah menyatakan akan membatalkan kelulusan mereka.

Mendengar pernyataan Kepala BKD Lembata tersebut, Maria Uku bersama honorer K2 lainnya berang dan berjanji akan melakukan langkah langkah yang dapat memastikan nasib mereka.

“Waktu jumlah kami masih 330, kami 3 orang diutus untuk konsultasi dengan pihak BKN Regional X Denpasar. Dan pihak BKN saat itu katakan, untuk kami 330 kendalanya belum ada SPTJM dari Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), dalam hal ini Bupati. Sekarang, kami tersisa 327 orang karena 3 orang meninggal dunia. Dan Bupati sendiri masih enggan menandatangani SPTJM tersebut karena alasan pidana. Memang dalam SPTJM itu tertulis, jika di kemudian hari ditemukan ada tenaga honorer bodong maka Bupati selaku PPK dan CPNS bersangkutan akan dikenakan sanski administrasi dan pidana,” ujar Maria Uku, sembari menegaskan mereka tidak akan pernah takut dengan ancaman Yentji Sunur tersebut karena mereka juga memiliki bukti kuat untuk menjerat 48 honorer K2 yang ditandatangani SPTJM-nya oleh Yentji Sunur.

Menurut Maria Uku, jika Bupati Sunur sendiri berani menandatangani SPTJM bagi 48 orang honorer yang sebagian besarnya diketahui bodong, maka alasan tersebut tentu diskriminatif. Menurut dia, dari 327 tenaga honorer yang belum mendapat NIP, justru masih banyak rekan-rekannya memenuhi syarat bahkan ada beberapa yang merupakan sisa dari tenaga honorer Kategori I dan memiliki masa kerja kerja yang lama.

“Ada rencana lanjut untuk menindaklanjuti ketidakjelasan nasib mereka namun masih menunggu kejelasan apakah Penjabat Bupati mempunyai wewenang menandatangani SPTJM atau tidak. Memang kami sudah menemui Penjabat Bupati, tetapi kami berencana akan menemui lagi untuk meminta kejelasan soal kewenangan penjabat,” tegas Maria Uku, guru TK Bakalerek ini.

Sebelumnya, demikian Uku, dalam demonstrasi yang dilakukan FPKL ke kantor BKD Lembata tanggal 13 Juni 2016, Markus Lela Udak selaku Kepala BKD Lembata mengaku, jika dirinya memiliki wewenang untuk menandatangani SPTJM maka dia memastikan akan mengeksekusi. Namun, menurut dia, karena di atas langit masih ada langit sehingga 327 honorer K II diminta bersabar.

Sementara mantan Kabid Formasi, Agus Bala Duan dalam dialog saat itu, mencoba membacakan 3 nama yang kebetulan tergabung dalam FPKL yang tidak memenuhi syarat, termasuk Jems Konde sendiri. Jems dinilai tidak memenuhi syarat karena SK honorernya diterbitkan pertengahan Januari 2005. Sementara salah satu kriteria sesuai edaran menteri tersebut, yang masuk nominasi Kategori II adalah honorer yang minimal sudah bekerja 1 tahun terhitung dari 31 Desember 2005.

Mendengar namanya disentil Bala Duan, Jems membalas dengan membacakan 3 nama dari 48 orang yang telah memperoleh NIP bermasalah. Saat itu, Bala Duan dan Lela Udak sepertinya tidak dapat mengelak. Jems malah membeberkan bahwa diantara 48 orang yang sekarang telah menjadi PNS mayoritas bekerja tahun  2006, 2007, 2008, 2009 bahkan 2010.

Dalam dialog yang berlangsung di ruang lobi kantor BKD Lembata itu, Bala Duan dan Lela Udak dibuat semakin tak berdaya saat FPKL membongkar fakta kalau tiga SK tenaga honor Lembata untuk tahun 2005 terbit diatas bulan Mei 2005.  Bala dan Udak tak mampu menjawab dari mana SK sebagian tenaga K2 Lembata yang dikatakan terbit 1 Januari 2005 itu.

Sementara itu, Ketua Tim Verifikasi  daerah yang tak lain adalah Wakil Bupati, Viktor Mado Watun dalam diskusi public bertajuk “Curah Pendapat 17 Tahun Otonomi Lembata”, 23 Juli 2016 silam di aula Kantor Camat Nubatukan mengatakan, nasib 327 orang itu diserahkan sepenuhnya kepada Bupati Lembata atau dalam hal ini sebagai pejabat yang berwenang menandatangani SPTJM.

Untuk diketahui, total tenaga honorer K-II Lembata yang dinyatakan lulus dalam test tahun 2013 dan 2014 yang diselenggarakan oleh Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN-RB), berjumlah 384 orang. 6 orang mengundurkan diri sehingga tersisa 378 orang. 48 orang telah memperoleh NIP dan tersisa 330. Dari 330 tersebut, 3 orang diantaranya telah meninggal dunia. Dari 327 ini, saat ini 1 orang sedang mengalami stroke berat dan tidak dapat beraktifitas.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, tenaga honorer K II yang sedang mengalami stroke tersebut, diduga stress akibat tidak dapat mengembalikan uang gereja yang Ia pinjam saat mengurus administrasi, mulai dari proses verifikasi nominasi, hingga pasca test.

Saat bertemu dengan Eliazer Yenjti Sunur, mereka sudah mengungkapkan panjang lebar. Ketika itu, Yentji Sunur didampingi Sekda Lembata Drs. Petrus Toda Atawolo, M.Si. Maria Uku menangis.

“Air mata saya terus saat itu mengalir membasahi pipi. Berulang kali mengusapnya, namun derai air mata tak juga berhenti. Saya menangis karena saya sudah tua dan dinyatakan lulus oleh Negara tetapi Yentji Sunur tidak mau tandatangan. Kami ini sudah lama mengabdi di sekolah,” tegasnya sembari menahan tangis.

Untuk itu, dirinya bersama Honorer K2 Lembata yang lulus tapi belum mendapatkan SK akan terus berjuang demi nasib mereka. Sebab, baginya Yentji Sunur sudah membuat dirinya sengsara dan menangis di tanah kelahirannya Lembata, Tanah Lepan Batan. Tega sekali e..!! (sandro wangak)

Topik:
News:

2 Comments for Teganya, Ibu Maria Menangis Karena Ulah Yentji Sunur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.