Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Teater SESADO Hokeng Guncang Waikomo; Wabup Langoday “Dipaksa” Ikut Nyanyi

Teater SESADO Hokeng Guncang Waikomo; Wabup Langoday “Dipaksa” Ikut Nyanyi

(1015 Views) April 23, 2018 5:02 pm | Published by | No comment

Teater Sesado sedang pentas di Waikomo, Lembata. (foto: freddy wahon)

LEWOLEBA, aksiterkini.com – SMA Seminari San Dominggo (Sesado) Hokeng tetap menunjukkan dominasinya dalam aksi teatrikal, musik dan olah vokal. Minggu (22/4/2018) malam, para siswa Sesado mengguncang Paroki Arnoldus Yansen, Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Lembata, dengan pentas musik dan teater. Vokalis Sesado Band bahkan “memaksa” Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday ikut bernyanyi.

Ratusan siswa Sesado bersama para pastor pengajarnya maupun staf tata usaha mengadakan aksi panggilan di Paroki Arnoldus Yansen, Waikomo. Mereka menginap di rumah-rumah umat, menggelar doa bersama umat dan menampilkan koor pada misa hari minggu panggilan.

Sejak tiba, Jumat (20/4/2018), siswa langsung disebar ke rumah umat. Pentas musik dan teater baru dilakukan sehari sebelum mereka kembali ke Hokeng, dan dibuka oleh Wabup Thomas Ola Langoday. Mereka menampilkan paduan suara yang membawakan lagu-lagu rohani berbahasa Inggris dan Jerman, lawak bertema selamatkan lingkungan hidup, serta musik dengan peralatan botol dan ember bekas. Juga, trio Sesado tampil apik dengan reggae Hallo Lembata, dan Wabup Lembata pun “ditodong” untuk ikut bernyanyi.

Ribuan umat yang memadati pelataran gereja Arnoldus Yansen, Waikomo, tampak terkesima dengan aksi para siswa Sesado. Apalagi, mereka menutup acara yang sempat diselingi hip hop ala Waikomo City, dengan pentas Nuba Nara oleh teater Sesado asuhan Romo Inno Koten, bikin penonton terperangah. “Kami berterima kasih atas apresiasi penonton terhadap perjuangan kami untuk mengembalikan kesakralan tuak dan arak dalam budaya Lamaholot,” ungkap Romo Ino Koten, Pr.

Romo Inno Koten, Pr (foto: freddy wahon)

Menurutnya, tuak dan arak memiliki nilai yang sakral dalam budaya Lamaholot, tapi disalahgunakan untuk mabuk-mabukan. “Kita harus jujur bahwa banyak orang tua yang membiayai hidup keluarga dna sekolah anak-anaknya dari tuak dan arak. Tapi banyak juga anak muda yang menyalahgunakannya untuk mabuk-mabukkan,” tutur Romo Inno.

Dia menjelaskan bahwa tuak dan arak merupakan sarana bagi warga Lamaholot untuk memuja wujud tertinggi, Ama Lera Wulan dan Ina Tanah Ekan (Tuhan). Hal itu dilakukan di Nuba Nara maupun dalam ritual baololon (tuang tuak/ceremony adat). “Kita perlu menjaga budaya kita agar tidak terus disalahgunakan melalui pentas teater ini,” ucap Romo Ino Koten.

Alumnus Sesado Hokeng, Jeremy Udjan, ketika mengomentari pentas musik dan teater meminta para pastor pengajar dan room preses Sesado agar mengagendakan kegiatan serupa tiga bulan sekali. Dia juga meminta Pemkab Lembata memperhatikan anak-anak muda Lembata secara lebih serius lagi. “Saya minta kepada bapak Wakil Bupati Lembata agar ada acara khusus bagi anak-anak Waikomo City supaya bisa tampil pada panggung di tingkat kabupaten dan tidak hanya mengisi acara selingan seperti ini,” ujarnya.

Para penonton yang hadir mengaku puas dengan penampilan para siswa Sesado Hokeng. Apalagi, umat Paroki Arnoldus Yansen Waikomo pun menyiapkan makan malam untuk seluruh penonton yang hadir. “Dukungan umat Waikomo terhadap kegiatan anak seminari ini memang luar biasa,” ucap seorang pengunjung kepada aksiterkini.com.

Romo Inno Koten yang ditemui seusai pentas menuturkan bahwa para siswa Sesado memiliki bakat yang luar biasa di bidang teater. Sayangnya, fasilitas yang dimiliki masih sangat terbatas. “Kami di seminari belum memiliki lampu panggung. Mudah-mudahan kedepan kami bisa punya yang seperti dipakai mala mini,” ujarnya, penuh harap.(fre)

Topik: , ,
News:

No comment for Teater SESADO Hokeng Guncang Waikomo; Wabup Langoday “Dipaksa” Ikut Nyanyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.