Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Taman Daun; 30 Tahun Peduli Anak Dan Tenun Ikat Di Lembata

Taman Daun; 30 Tahun Peduli Anak Dan Tenun Ikat Di Lembata

(847 Views) April 27, 2017 3:07 am | Published by | No comment

LEWOLEBA, aksiterkini.com –  Nama Taman Daun beberapa waktu belakangan cukup ramai diperbincangkan, terutama oleh orang tua anak usia TKK/PAUD dan Sekolah Dasar. Bahkan, orang sama sekali tak menyangka, kalau taman bacaan yang terletak di kawasan Bluwa, kediaman Kolonel Purnawirawan TNI JM Sidhu Batafor, itu sudah berusia 30 tahun. Usia yang tentu saja tidak singkat, bagi sebuah aktivitas sosial. Apalagi, seluruh aktivitasnya dibiayai sendiri. Swadaya. Kalaupun ada donatur, itupun sifatnya tentatif dan tidak rutin. Pun, seadanya.

Disambangi aksiterkini.com Senin (24/4/2017), penggagas dan pendiri Taman Daun, Gregorius Batafor menjelaskan bahwa Taman Daun merupakan metamorfora dari komunitas Tenun Ikat Bintang Kejora.

“Tahun 1987, kami membangun komunitas tenun ikat Bintang Kejora, yang terdiri dari 12 kepala keluarga. Ibu-ibu menenun dan anak-anaknya bermain sambil belajar. Sehingga ada dua komunitas yang terbentuk, yaitu kelompok ibu-ibu dan kelompok anak-anak,” jelasnya.

Aktivitas tenun ikat dimotori Gita Bataona dan Lisa Sanga Ina masih terus berlangsung sampai sekarang. Keduanya memproduksi dan membelajarkan tata cara menenun sejak memintal benang, mewarnai hingga membuat motif tertentu. Sedangkan kelompok anak, kini dikembangkan menjadi taman bacaan.

Taman bacaan seolah tempat penitipan anak (TPA). Karena anak-anak yang berkunjung ke sana, rata-rata “dititipkan” orang tuanya karena berbagai kesibukan. Mereka dibimbing menggambar, mewarnai, pengenalan abjad, berhitung, menulis, hingga membaca. Bahkan, kini sudah sampai pada pengumpulan buku-buku. Ya, semacam gerakan literasi.

Menurut Goris, demikian Gregorius Batafor akrab disapa sehari-hari, sejak tahun 2014 silam, dirinya sudah nyaris tak lagi mengurus taman bacaan. “Karena sekarang yang urus itu adalah generasi kedua. Mereka yang di saat awal berdiri masih kanak-kanak, sekarang sudah dewasa dan mengambil alih taman bacaan. Sekarang diurus oleh Jhon Batafor dan Eva Batafor,” jelasnya.

Kedua anak muda ini lalu memperkenalkan nama baru, Taman Daun. “Nama Taman Daun ini lebih menunjukkan tempat, lokasi ini (kawasan rumah JM Sidhu Batafor-Red) yang penuh dengan pohon-pohon dan bunga-bunga,” ujar Goris sambil tertawa.

Dikatakan, selama lebih dua puluh tahun dirinya melakukan aktivitas secara diam-diam. Tidak ada ekspose sama sekali. Sehingga tak heran kalau masyarakat Kota Lewoleba pun tak banyak yang tahu. Kecuali mereka-mereka yang sempat bertandang ke kediaman JM Sidhu, atau mampir ke sekretariat YBS atau Oring Titen, tentu tak asing dengan Goris dan aktivitasnya. Sebuah papan nama bercat pada kayu sisa olahan tertulis “Taman Bacaan”. Juga, sebuah spanduk biru bertuliskan: Gerakan Seribu Buku untuk Anak Lembata terpajang di samping dinding bangunan yang belum diplester.

Di belakang bangunan itu, berdiri sebuah pondok sederhana beratap seng. Tanpa dinding. Terdapat etalase kaca yang berisi kain tenun asli, buku-buku dan berbagai kerang laut. Juga, tergantung berbagai lukisan khas, baik pemandangan hutan, atraksi penangkapan ikan paus, perempuan sedang menjunjung bakul anyaman dan lain-lain. Artistik.

Juga, terdapat beberapa kolam ikan air tawar, yang ditata dengan bunga-bunga yang mengitarinya. Bagian paling belakang terdapat panggung yang terbuat dari bambu. Dan, beberapa pondok beratap alang-alang atau daun kelapa. Benar-benar taman yang dipenuhi dedaunan. “Sehingga tempat ini dinamakan Taman Daun,” ucap Goris.

Jhon Batafor menambahkan, bahwa sejak dirinya mengambil alih taman bacaan, ia mengajak kawan-kawan sebayanya untuk melancarkan gerakan seribu buku. “Kawan-kawan yang mau bergabung dalam relawan ini mulai menyumbang buku untuk memperkaya literatur taman bacaan. Baru tiga tahun belakangan ini kami membuka diri untuk keterlibatan orang lain,” jelas dia.

Hasilnya, kata dia, sangat menakjubkan. Mereka bahkan sudah membuka cabang hingga ke daratan Timor. “Kami sudah buka cabang di Desa Kolaka, Amarasi di Kabupaten Kupang, Soe dan Bena di Kabupaten Timor Tengah Selatan, hingga ke Kabupaten Malaka. Antusiasme masyarakat di Timor juga sangat luar biasa,” jelas Jhon Batafor.

Di Lembata, dirinya baru membuka cabang di Desa Kolilerek, Kecamatan Nubatukan dan Desa Katakeja (Kalikasa) di Kecamatan Atadei. “Ada beberapa desa lagi yang sedang dipersiapkan, seperti Waijarang yang sudah didrob material bangunan bambu, tapi belum dibangun karena kesulitan lahan untuk lokasi baca dan bermain anak,” jelas dia.

Jhon menuturkan bahwa ada beberapa tokoh dari luar NTT yang sangat peduli pada gerakan literasi. Seperti Anastasia Intanti dari Tangerang yang mengirimkan buku-buku. Juga, Christine Debur dari Inggris dan Intje dari Jerman, yang mengirimkan tas untuk anak-anak.

Dia mengakui bahwa tak hanya anak-anak yang setiap hari berkunjung ke Taman Daun. Karena ada juga orang dewasa yang datang mencari majalah-majalah atau buku-buku usang. “Mereka caari literatur usang yang masih terjaga baik disini. Ada yang pinjam untuk difotocopy,’ papar Jhon Batafor.

Ditanya soal dukungan pemerintah, Jhon maupun Goris menjelaskan bahwa pihaknya masih bekerja secara swadaya. “Sejauh ini kami bekerja secara swadaya, belum ada perhatian dari pemerintah baik daerah maupun propinsi da pusat. Tapi, kami bercita-cita untuk mendorong taman baca di setiap desa. Sehingga anak-anak bisa melakukan wisata literasi dari desa ke desa. Itu mimpi kami,” ucap Goris yang diamini Jhon.

Ditanya soal resep dalam mempertahankan eksistensi taman bacaan anak, Goris menjelaskan bahwa pengelola perlu punya kesabaran. “Namanya juga anak-anak. Kadang-kadang mereka usil, dan datang tak tentu waktu. Ini butuh kesabaran,” ucap Goris, seraya menambahkan bahwa setiap hari selalu saja ada anak atau orang dewasa yang berkunjung ke Taman Daun. (freddy wahon)

Topik: ,
News: ,

No comment for Taman Daun; 30 Tahun Peduli Anak Dan Tenun Ikat Di Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.