Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Tak Diperhatikan Bupati Sunur, Warga Gotong Royong Timbun Jalan Trans Nagawutung

Tak Diperhatikan Bupati Sunur, Warga Gotong Royong Timbun Jalan Trans Nagawutung

(988 Views) July 15, 2016 12:09 pm | Published by | No comment

Warga tiga desa goton royong timbun ruas jalan Trans Nagawutung segmen Kenarior.

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Warga masyarakat Kecamatan Wulandoni dan sebagian warga Kecamatan Nagawutung benar-benar menyesalkan sikap Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dan DPRD Lembata. Pasalnya, ruas jalan Trans Nagawutung yang penuh kubangan beberapa tahun belakangan, sama sekali tak tersentuh pembangunan. Buntutnya, warga secara swadaya menimbun ruas jalan tersebut.

Ruas jalan Trans Nagawutung merupakan satu-satunya ruas jalan yang dilalui kendaraan penumpang jurusan Wulandoni dan kawasan timur Nagawutung. Bahkan, ruas jalan ini pulalah yang menghubungkan Kota Lewoleba dengan kawasan wisata perburuan paus di Lamalera. Keluhan yang sering dilontarkan kalangan wisatawan manca negara yang berwisata ke Lamalera maupun warga pengguna jalan tersebut, bagai angin lalu bagi pejabat Pemkab Lembata.

Baru beberapa pekan lalu, Bupati Sunur sempat menginap di Boto, yang melewati ruas jalan ini. Namun inisiatif untuk memperbaiki ruas jalan ini sama sekali tak muncul. Begitu pula, dengan pengerjaan peningkatan jalan yang dilakukan dengan proyek multiyears senilai Rp 14 miliar lebih di ruas jalan ini pun tak menyentuh segmen berkubang ini.

Pantauan aksiterkini.com, Jumat (15/7/2016), sekitar 70-an warga masyarakat 3 (tiga) desa, yakni Desa Ile Boli, Desa Bolibean dan Desa Liwulagang, Kecamatan Nagawutun gotong royong menimbun ruas jalan Trans Nagawutung, segmen Kenarior, Desa Watokobu, Kecamatan Nubatukan.

Kepada Desa Liwulagang, Gregorius Liman menjelaskan bahwa, dirinya terdorong untuk menggerakkan masyarakat melakukan bakhti karena tidak tega melihat masyarakat pengguna jalan celaka atau mengalami musibah.

“Ini bakti sosial oleh masyarakat 3 (tiga) yakni, Desa Ile Boli, Desa Bolibean dan Desa Liwulagang. Awalnya saya yang prakarsai, dengan membangun komunikasi dengan Kades Ile Boli dan Liwulagang, dengan bertolak dari pengeluhan masyarakat di tiga desa ini, terkait kubangan tua di Kenarior ini. Setiap kali pergi atau pulang, baik dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat, masyarakat setengah mati. Ada masyarakat yang menyampaikan bahwa, bapa, syukur bahwa, tidak hari sial kami punya, kalau hari sial, berarti kami ada yang korban,” jelas Gregorius Liman, didampingi Kades Bolibean, Paulus Dolu Lako.

Bakhti sosial ini, lanjut Liman, tidak ada muatan apapun. “Tidak ada tendensi apapun. Ini bakti sosial murni. Ini keprihatinan kami, tindakan kemanusiaan. Dan, ini kami hanya mau mengurangi keresahan warga masyarakat kami, pada saat akses semua hasil komoditi ke pasar, jual pisang ubu ke pasar,  lalu berangkat dari itu, apa yang kami lakukan ini sebagai bentuk kolektifitas dari sebuah kepemerintahan, karena kami merasa pemerintahan kabupaten tidak melihat ini dengan hati, tapi kami pemerintahan ketiga desa ini, kami melihat segmen kritis di Kenarior ini dengan hati, sehingga bangun koordinasi untuk baksos ini.”

“Pemerintah tingkat atas tidak punya mata hati untuk melihat kondisi yang sedang dialami oleh warga masyarakat kecil di Lembata, khusunya jalan Trans Nagawutung dan Wulandoni ini. Sekalipun kegiatan ini berada di wilayah hukum desa Watokobu, Kecamatan Nubatukan, namun warga pengguna jalan adalah kami, sehingga kami harus ajak masyarakat turun ke jalan, karena kami punya mata hati,” tandas Liman.

Tokoh masyarakat desa Bolibean, Paulus Doni Tukan menjelaskan bahwa sebenarnya ruas jalan Trans Nagawutung – Wulandoni ini adalah tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Lembata, karena jalan Kabupaten. “Ya, sebenarnya, ruas jalan Trans Nagawutun-Wulandoni ini adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Lembata. Namun kami terpaksa ambil langkah cepat ini karena bagaimana pun ini kebutuhan kami. Setiap hari kami lalui jalan ini, ke pusat kota untuk menjual barang atau hasil komoditi kami, sementara pemerintahan dalam hal ini Bupati sendiri yang lalu lewat ke sana kemari tidak pernah ada kepedulian tentang ini. Bagaiman bisa? Kami terganggu sekali. Ada kepedulian tapi di mulut saja. Sekedar janji, “ ujar Doni Tukan.

Tokoh muda, Yohanes Urikame Udak, kepada aksiterkini.com, menjelaskan bahwa dirinya merasa resah dengan tindakan pemerintahan yang tidak peka terhadap koondisi riil masyarakatnya sendiri.

“Tidak adakah nurani mereka ketika melihat rakyatnya melintasi jalan yang penuh lumpur dan berbahya ini? Pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif, selalu melewati ruas jalan ini untuk kunjungan kerja, namun sama saja. Mungkin saja mata hati mereka buta, padahal mereka semua itu, ada dan duduk di kursi empuk karena masyarakat. Sayang ya, dana yang dikucurkan itu begitu besar namun kualitas pengerjaannya sangat buruk. Belum sampai 2 atau 3 bulan rusak,” tandas Urikame Udak.(osy)

No comment for Tak Diperhatikan Bupati Sunur, Warga Gotong Royong Timbun Jalan Trans Nagawutung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.