Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » STFK Ledalero Gelar Seminar Human Trafficking; Sri Palupi: Berantas Dari Akar !

STFK Ledalero Gelar Seminar Human Trafficking; Sri Palupi: Berantas Dari Akar !

(590 Views) May 7, 2017 8:21 am | Published by | 1 Comment

Sri Palupi sedang memaparkan materi dalam Seminar Nasional Human Trafficking di STFK Ledalero, Maumere. (foto: yurgo purab)

MAUMERE, aksiterkini.com – Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero menggelar Seminar Nasional  Human Trafficking, Sabtu (6/5/2017). Kegiatan di aula Santu Thomas Aqunias, Ledalero, Kabupaten Sikka itu menghadirkan dua pembicara, Dra. Sri Palupi,  M.Pd dan Dr. Alexander  Jebadu.

Seminar dibuka oleh Ketua STFK Ledalero, Pater Bernardus Raho, dan dihadiri segenap civita akademika STFK Ledalero, perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Sikka, relawan TRUK-F, aktivis di Kabupaten Sikka, serta undangan lainnya.

Pater Bernardus Raho dalam sambutan pembukaan menjelaskan bahwa seminar tersebut digelar untuk membangkitkan minat para dosen dan  mahasiswa dalam upaya pemberantasan perdagangan orang.

Sri Palupi yang berbicata mengenai Human Trafficking di NTT, menjelaskan bahwa human trafficking di Jawa Timur tidak menjadi hal yang luar biasa. Tidak menjadi isu.

Berbeda dengan di NTT. “Isu perdagangan orang telah menjadi isu. Artinya, orang terbuka kesadarannya akan adanya sebuah persoalan besar yang terjadi di NTT. Dan, persoalan itu adalah human trafficking,” tandasnya.

Menurut Sri Palupi, modus utama yang dipakai dalam perdagangan orang adalah pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Dikatakan, tahun 2016, dari 4,5 juta juta TKI yang bekerja di luar negeri, 1,9 juta adalah TKI yang tak memiliki dokumen. Maka, pada tahun yang sama (2016), Indonesia menghukum 199 pelaku (calo) human trafficking dan memulangkan 5. 668 korban human trafficking.

“Hasil evaluasi RAN (Rancangan Aksi Nasional) terkait human trafficking tahun 2008, menemukan bahwa human trafficking hadir pada anak yang putus sekolah, keluarga miskin, lemahnya kesadaran pandangan perempuan dan anak-anak. Maka human trafficking selalu menjerat anak-anak dan perempuan,” tegasnya.

Sri Palupi yang dikenal banyak melakukan advokasi serta penelitian lapangan, mengharapkan agar dilakukan monitoring, investigasi, riset, pendataan, dan advokasi terkait masalah human trafficking.

“Selain itu, kita juga dapat memperluas gerakan masyarakat untuk pemberantasan human trafficking. Juga, memperkuat upaya pengorganisasian komunitas dalam rangka membangun basis pertahanan, memperkuat aturan hukum di tingkat lokal dari perda hingga perdes,” tandas Palupi.

Dia mengingatkan agar humat trafficking diberantas dari akar. Ya, “Kita dapat memberantas human trafficking dari akar, melaksanakan pelaksanaan undang-undang desa, mendorong kerjasama sinergis pemerintah daerah, perdes, masyarakat sipil dalam memberantas perdagangan orang, mendorong kerjasama antardaerah, mendorong penyelesaian pelaksanaan undang-undang perlindungan TKI yang sudah lama mengendap di laci DPR, serta berantas korupsi pada segala lini,” tegasnya.

Sementara itu, Pater Dr. Alexander  Jebadu berbicara panjang lebar tentang perdagangan manusia sebagai kejahatan global dan gerakan internasional untuk menghentikannya. Dia menyorot tentang korupsi dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Mengutip data Aronowitz, Pater Alexander Jebadu menduga adanya keterlibatan aparat pasukan keamanan dalam memfasilitasi TPPO dengan memberikan perlindungan bagi rumah bordil dan prostitusi di bar-bar, karoke, diskotik dan hotel atau menerima suap serta mengabaikan praktek TPPO ini. “Menurut laporan UNODC, tahun 2006, 77% adalah korban human trafficking perempuan dewasa, disusul anak gadis remaja dengan jumlah 48%. Anak-anak menempati urutan ketiga korban human trafficking dengan jumlah 33% disusul anak pria remaja 12% dan pria 9%,” jelas dia.

Saat dialog, Pater Vande Raring, salah satu peserta seminar mengangkat tentang permasalahan yang ada di Maumere ini seperti yang terjadi di Toko Roti Kaigi. “Saya menyentil Toko Roti Kaigi untuk membuka jendela rumah kita di Maumere,” ujar Pater Vande.

Tak cuma itu. Pater Vande juga menyentil tentang maraknya prostitusi serta eksploitasi anak-anak kecil. “Karena itu, apa langkah STFK Ledalero untuk membela kaum yang lemah?” tohok Vande Raring.

Dialog berlangsung seru, dan mendorong adanya aksi nyata civitas akademika STFK Ledalero terkait masalah human trafficking di NTT.(Yurgo Purab)

1 Comment for STFK Ledalero Gelar Seminar Human Trafficking; Sri Palupi: Berantas Dari Akar !

  • Beatrix T says:

    Setuju dengan Mbak Palupi, harus dibansmi mulai dari akarnya. Gereja supaya berperan lebih gencar lagi, tidak cukup menyalakan seribu lilin untuk TKW yang jadi korban, lakukan sesuatu sebelum terjadi malapetaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.