Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Rumah Singgah, Solusi Hebat Yang Terpendam

Rumah Singgah, Solusi Hebat Yang Terpendam

(266 Views) October 24, 2017 12:26 am | Published by | No comment

Oleh : Erni Novia Lika, Amd.Keb  dan Helena Lose Beraf, Amd.Keb

Mahasiswi D4 Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju, Jakarta

Beberapa waktu yang lalu semua orang euforia dengan literasi, panggung seakan penuh terisi dengan buku. Iya, kita tahu arti sempit literasi ialah sebuah kegiatan membaca dan menulis. Di sini saya tidak akan membahas tentang buku dan semua kegiatan yang berhubungan dengan buku seperti membaca dan menulis. Tetapi saya akan menceritakan tentang membaca dalam arti luas yaitu tanggap dan peka terhadap situasi atau keadaan tempat kita tinggal. Membaca fenomena yang terjadi di masyarakat membuktikan bahwa individu mampu bersosialisasi. Mari membaca bersama saya!!!!

Lembata dan segudang pesona tak sebatas untuk dikagumi. Akhir-akhir ini orang seakan melihat ketimur, entah itu sebagai suatu kemunduran atau sebagai suatu keunikan. Jangan jauh-jauh melihat tentang destinasi pariwisata yang indah, jangan juga terlalu terpaku pada euforia literasi yang tidak sebenarnya dan mengabaikan hal paling dasar yang jarang kita kupas. Sembilan kecamatan di Lembata merupakan jumlah yang tidak sedikit. Pemenuhan kebutuhan pokok sudah tentu 99,9% adalah kewajiban masing-masing keluarga, di samping itu pemenuhan akan pelayanan kesehatan adalah sebagian dari tanggung jawab pemerintah.

Saya adalah seorang bidan maka baiklah saya bercerita tentang kondisi kesehatan pada ibu dan anak dari sisi saya. Kita semua tahu kesehatan adalah hak semua orang untuk itu diupayakan secara sungguh-sungguh. Melalui Pergub nomor 42 tahun 2009 pemerintah provinsi sudah mengupayakan peningkatan kesehatan ibu dan anak secara merata. Revolusi KIA adalah suatu gerakan di Nusa Tenggara Timur untuk mencegah kematian ibu hamil dan bayi guna meningkatakan derajad kesehatan masyarakat yang sejahtera. Revolusi KIA memungkinkan agar semua ibu hamil melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai dan juga mendapat pelayanan kesehatan yang paling biak, begitu juga dengan bayi baru lahir agar mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Dari data Susenas tahun 2009 angka kematian ibu (AKI) adalah 555/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 62/1000 kelahiran hidup. Itu berarti setiap 100.000 ibu yang melahirkan 554 ibu diantaranya meninggal dunia dan dari 1000 bayi yang lahir 62 nya meninggal dunia. Kondisi kesehatan ibu dan bayi di suatu kabupaten akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu dan bayi di suatu propinsi, negara, bahkan dunia.

Menurut Revolusi KIA persalinan harus di lakukan di fasilitas kesehatan yang memadai oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Untuk itu dibutuhkan sarana dan prasara kesehatan yang memadai pula, bahkan antar jemput ke unit pelayanan juga di laukan. Pendanaan di dapat baik dari APBN atau APBD targetnya adalah ibu hamil atau melahirkan datang ke unit pelayanan dan pulang harus dengan anak hidup.

Sejak tahun 2009 Program Revolusi KIA telah dilaksanankan di semua kabupaten atau kota di propinsi NTT. Pemerintah dan masyarakat berperan penting dalam penyelenggaraan Revolusi KIA. Sasaran program Revolusi KIA adalah ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir yang ada di NTT. Saya teringat kembali sepenggal bait Revolusi KIA yang selalu kami nyanyikan sebelum dan setelah kegiatan perkuliahan saat kuliah D3 kebidanan waktu itu “Motto Revolusi KIA NTT, jika datang satu pulang harus dua, tiga pun boleh, asal jangan satu apalagi semua tak ada yang pulang. Yo… ayo, mari Revolusi, Revolusi kita Revolusi KIA, kesehatan ibu dan anak NTT”. Ternyata Revolusi KIA yang menjadi tanggung jawab kita bersama tak semudah mendengungkan lagunya.

Menindaklanjuti Pergub 42 tahun 2009, di Lembata di canangkan Perda KIBLa (Kesehatan Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir). Ini merupakan respon positif pemerintah daerah untuk menyumbang pencapaian taraf hidup sehat dan sejahtera untuk ibu dan bayi. Ada juga program 7H-2 Center yaitu 7 hari sebelum lahir dan 2 hari setelah lahir ibu dan bayi harus berada dekat dengan fasilitas kesehatan. Mengapa 7 hari sebelum lahir dan 2 hari setelah lahir? Semua perempuan yang hamil tentu memiliki respon tubuh dan riwayat kehamilan yang berbeda-beda dengan program 7 H-2 Center maka setiap ibu yang hamil baik itu beresiko ataupun tidak beresiko sudah harus berada dekat dengan fasilitas kesehatan. Dua harus setelah lahirpun ibu dan bayi harus tetap ada di fasilitas kesehatan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pasca persalinan. Nah……, yang menjadi kendala di sini adalah di mana mereka harus tinggal unntuk mendapat pelayanan dari program 7H-2 Centre ini. Solusi nya adalah rumah singgah!.

Rumah singgah adalah rumah untuk tinggal sementara pasien rujukan atau pasien dengan kasus tertentu yang harus ditangani oleh instansi kesehatan (Puskesmas?Rumah Sakit) juga tempat rehabilitasi atau pemulihan dengan kontrol medis secara berkelanjutan di karenakan tempat tinggal yang jauh dari fasilitas kesehatan. Mirisnya, sejak 2009 Revolusi KIA seakan “Menjamur” hingga masyarakat akar rumput sebagai Pergub baru dan tentu melewati pemikiran-pemikiran yang luar biasa dari semua instansi terkait Rumah Singgah adalah sesuatu yang sering di sepelekan, padahal jika menilik Pergub NTT tentang Revolusi KIA dan Perda Lembata (KIBLa) sebenarnya tujuanya hanya satu yaitu agar ibu dan bayi mendapatkan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten di fasilitas kesehatan yang memadai. Mari kita berpikir tentang ibu hamil di desa dengan kondisi geografis yang buruk di tambah transportasi yang jarang, jika ada biaya yang harus di keluarkan untuk membayar transportasi tersebut tidaklah sedikit, belum lagi jika riwayat kehamilannya tidak normal. Menurut saya Rumah Tunggu adalah wadah yang tepat sebagai “Katalis” pelayanan kesehatan ibu dan anak yang terpadu demi menjawab Perda dan Pergub yang sudah “terlanjur” di canangkan oleh pemerintah. Cukup sedih ketika mengetahui Berjubel-berjubelnya Bidan di Lembata namun hanya memiliki dua rumah singgah. Perbedaan yang cukup jauh.

Mari membaca arti yang sebenarnya dari Revolusi KIA. Di sini saya menekankan lagi tentang fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang profesional. Fasilitas kesehatan seharusnya berbanding lurus dengan tenaga kesehatan sehingga unggul dalam pemanfaatan keduanya. Jika tidak maka pelayanan bisa dikatakan lumpuh, namun mungkin setiap kita belum jeli dalam “membacanya” atau terlanjur euforia dengan hal-hal yang muncul di permukaan akhir-akhir ini.

Dari 9 kecamatan yang ada di kabupaten lembata hanya memiliki 2 rumah singgah yaitu di Desa Panama dan Desa Hingalamengi. Perlu diketahui bahwa dua rumah singgah ini merupakan kontribusi dari masyarakat desa setempat. Strategi yang di lakukan adalah mengadakan dana desa siaga sebanyak seribu rupiah per kepala keluarga setiap bulan, dengan kurang lebih 470 kepala keluarga maka setiap bulan dana yang terkumpul sebanyak 470 ribu rupiah. Dalam tiga bulan saja masyarakat sudah bisa membangun rumah singgahnya sendiri. Fasilitas yang bisa di temui di Rumah singgah desa panama antara lain dua tempat tidur, kamar mandi-WC dan juga dapur, sedangkan di desa Hingalamengi terdapat 4 tempat tidur, kamar mandi dan juga dapur. Desa Panama pernah menjadi juara 1 Posyandu tingkat propinsi dan mewakili Nusa Tenggara Timur menuju kancah nasional.

Sebagai bidan, sebagai mantan mahasiswa kebidanan saya merasa ini adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi mengapa hanya ada di dua desa ini, padahal ibu hamil yang membutuhkan pelayanan kesehatan tidak hanya ada pada dua desa tersebut. Sementara pencapaian kesehatan ibu dan anak adalah tanggung jawab kita bersama melalui pengambil kebijakan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), tenaga kesehatan, dan juga instansi pelayanan kesehatan. Jika membeludaknnya tenaga kesehatan (Bidan) setiap tahunnya, membeludak pula fasilitas kesehatan sehingga keduanya dapat bersinergi. Ketersediaan rumah singgah yang masih minim merupakan momok yang harus di pecahkan bersama.

Dengan Rumah singgah ibu dapat beristirahat dengan tenang sebelum dan setelah proses persalinan yang melahkan, dengan kenyamanan yang dirasakan oleh ibu di rumah singgah, suami dan keluarga yang mendamping juga akan fokus terhapap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu. Mereka tidak perlu bolak-balik ke rumah sehingga menghabiskan waktu, uang dan tenaga. Menjaga dan mendampingi ibu merupakan fokus utama dari keluarga dan suami, di samping itu jika ibu dengan kehamilan patologi juga dapat segera di tangani karena jarak ibu yang dekat dengan fasilitas kesehatan. Komplikasi yang menyertai kehamilan dan merupakan penyumbang kematian terbesar pada ibu hamil dan ibu nifas di antaranya adalah perdarahan,  eklampisa, sepsis, infesi dan gagal paru. Selain itu penyumbang lain kematian ibu dan bayi adalah 3T (3 Terlambat) yaitu terlambat mengamil keputusan, Terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi dan Terlambat mendapat penanganan. Dengan tersedianya rumah singgah maka hal-hal tersebut di atas tidak perlu terjadi karena ibu hamil sudah berada dekat dengan fasilitas kesehatan.

Dengan begitu sudah tentu ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan ibu. Dengan rumah singgah, ibu akan nyaman dan tak perlu merasa “asing “ dengan fasilitas kesehatan dan pelayanan yang akan diterima olehnya. Ini juga merupakan therapy emosional untuk membiasakan ibu dan keluarga untuk mencintai dan terbiasa dengan fasilitas kesehatan. Tak sedikit kita jumpai ibu hamil yang trauma dengan puskesmas ataupun rumah sakit, apalagi jika tempat tinggalnya jauh.

Saya rasa semua perlu disosialisasikan. Perlu ada kerjasama yang nyata antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan, LSM, Nakes dan juga masyarakat demi tujuan ini. Sosialisasi menumbuhkan kesadaran pada pribadi masyarakat mengenai pentingnya sikap tanggap dan peka sehingga siap sedia terhadap sesuatu yang akan terjadi. Jangan hanya melirik dan membangun taman kota, tempat-tempat wisata,  dengan dana yang besar. Sekali – kali turun dan saksikan, kebutuhan lain yang jauh lebih penting namun terkubur oleh euforia yang terlalu lama.

Kematian ibu dan bayi berkurang, pelayanan kesehatan terpadu dan tercapailah kesejahtraan sosial. Sejahtrakanlah dari bawah, untuk puncak yang gemilang!(*)

No comment for Rumah Singgah, Solusi Hebat Yang Terpendam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *