Menu Click to open Menus
Home » POLKAM » ROTASI Gelar Unjukrasa di Kantor Bupati dan DPRD 

ROTASI Gelar Unjukrasa di Kantor Bupati dan DPRD 

(2488 Views) May 25, 2016 3:56 pm | Published by | 1 Comment

IMG-20160523-WA006Lewoleba aksiterkini.com – Aksi unjuk rasa kembali warnai kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur. Kali ini datang dari Front Lembata Bersih (ROTASI) –gabungan dari beberapa elemen gerakan antara lain Forum Penyelamat Lewotanah Lembata (FP2L), Aliansi Peduli Kebenaran dan Keadilan anti Kekerasan (Aldiras), JPIC SVD dan Forum Peduli Kategori II Lembata (FPKL), dan Ika Wanted. Aksi damai yang digelar Senin (23/05/2016) kembali mempertanyakan akhir ceritera dari semua persoalan yang melanda Lembata.

Aksi ini dimulai dari terminal timur kota Lewoleba, dengan masa yang diperkirakan 200-an orang. Mereka  melakukan pawai kendaraan mengelilingi kota Lewoleba. Elias Making, Yossy Kares dan Broin Tolok, tampil sebagai orator, mengiring perjalanan, membakar semangat demonstran. “Sudah saatnya Lembata ini dibersihkan dari kepalsuan. Lembata tidak mau dipimpin oleh orang-orang palsu. Sudah jelas Bupati Sunur memiliki ijazah yang tidak diakui Negara, kenapa kita masyarakat Lembata masih  membiarkan dia menjadi pemimpin kita, Orang-orang Lembata adalah orang-orang yang suka dikritik, karena budaya kita sudah mengajarkan itu, orang yang tidak suka dikritik, cengeng dan kalau dikritik lapor ke polisi, dia bukan orang Lembata,” teriak Elias Making dalam orasinya.

Lain  lagi dengan Yossy Kares. Dia mengumpakan Lembata ini seperti gadis cantik yang imut. “Lembata kini berusia 16 Tahun. Kalau ibarat seorang gadis, maka dia adalah gasis cantik, imut dan bersahaja. Polos dan santun. Namun kini dia (Lembata) sudah berwajah bopeng, dia dikhianati dengan janji-janji palsu. Kepolosannya telah dinodai bahkan diperkosa oleh ketamakan dan kebohongan, sungguh sadis Lembataku,” tandasnya.

Ini saatnya, lanjut Kares, generasi muda, anak cucu kita nanti, tidak mau dibesarkan dan tumbuh dengan kepalsuan dan kebohongan. “Mereka harus tumbuh bersih di negeri yang bersih. Mari kita bersihkan Lembata ini dari kepalsuan.”

Rotasi dengan pengawalan ketat pihak keamanan berarak mengitari kota Lewoleba sebelum masuk halaman kantor Bupati Lembata. Massa diperkirakan mencapai 200-an orang yang diangkut dengan 2 dump truck, 2 pick up dan sejumlah kendaraan roda dua.

Dalam orasinya di depan kantor Bupati Lembata, komandan Rotasi Broin Tolok mempertontonkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola anggaran dengan membeberkan sejumlah fakta. “APBD untuk Lembata ini nilainya lumayan fantastis, Rp 800 Miliar tetapi dengan itu pemerintah tidak mampu mengelolanya. Terbukti dengan silpa sebesar Rp 600-an Miliar,” beber Broin disambut tepukan tangan dari massa demo.

Sementara itu, perwakilan dari  FPKL James Konde mempertanyakan nasib mereka yang sampai detik ini belum jelas. “Kami seperti bola guling, konsultasi dengan bupati, beliau arahkan kami untuk bertemu dengan ketua tim verifikasi. Begitu kami ketemu dengan ketua tim verifikasi yang nota bene adalah Bapak Wakil Bupati penjelasannya juga sama, begitu juga dengan kepala BKD kabupaten Lembata,” sesal Konde.

Penjelasan yang tidak masuk akal, James menduga kuat kalau SK yang asli untuk pengangkatan K2 disembunyikan hanya untuk mengakomodir 40-an orang yang sudah ditandatangani SK-nya oleh Bupati Lembata. James mengancam akan melaporkan hal ini ke pihak yang berwenang dan ke BKN.

 Wakil Bupati sambangi demonstran

Wabup Viktor Mado Watun menyalami P Vande Raring

Teriakan dari orator, Alex Murin yang meminta untuk menghadirkan Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Watun akhirnya dijawab juga. Wakil Bupati yang didampingi Sekertaris Daerah Petrus Toda Atawolo dan Asisten I dan II, keluar dari ruangan dan menemui demonstran setelah berkali-kali diteriaki.

Alex juga membeberkan soal pemerasan terhadap kontraktor oleh Bupati Lembata, jaminan 10% bagi yang ingin menjadi Kepala Dinas, juga soal ijazah Bupati Lembata yang tidak diakui oleh Negara. “Kita butuh klarifikasi soal ijazah, Bupati Lembata malah menunjukan surat keterangan sebagai alumni kampus Krisnadwipayana,” jelas Alex Murin.

Sementara itu, P. Vande Raring, SVD yang mewakili  JPIC SVD dengan terang benderang membacakan surat yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti dan Kopertis Wilayah III, yang menerangkan bahwa Ijazah Bupati Eliazer Yantji Sunur tidak terdata dalam Pangkalan data Dikti.

Lebih lanjut Pater Vande meminta dengan hormat agar Bupati Sunur mengundurkan diri dari jabatannya. “Kalau Bupati Sunur memiliki hati nurani maka sebaiknya, beliau mengundurkan diri demi martabat dan harga diri masyarakat Lembata, karena Lembata harus dipimpin oleh pemimpin yang ijazah harus diakui Negara,” tegas Pater Vande.

Mengakhiri orasi di depan kantor Bupati Lembata, Rotasi yang diwakili oleh P. Vande Raring menyerahkan pernyataan sikap kepada Wakil Bupati Lembata sembari mengingatkan kalau ini adalah tugas yang harus diemban oleh pemerintah daerah Lembata untuk menyudahi cerita kelam yang bercokol di tanah Lepanbatan. Wakil Bupati Mado Watun mengapresiasi aksi damai ini dan siap mengemban tugas yang tertuang dalam pernyataan sikap.

“Kita harus memilih pemimpin yang berani, berani untuk dikeritik dan berani untuk berubah demi sebuah kebenaran,” teriak murin menyudahi orasi.

Dari kantor bupati, massa bergerak ke gedung DPRD Lembata. Ketua DPRD Ferdy Koda dan anggota DPRD yang hadir langsung langsung keluar menemui demonstran. (ama)

Topik:
News:

1 Comment for ROTASI Gelar Unjukrasa di Kantor Bupati dan DPRD 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.