Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Renungan Frater Yurgo Purab: Dimanakah Tuhan Pada Saat Kita Begitu Membutuhkannya?

Renungan Frater Yurgo Purab: Dimanakah Tuhan Pada Saat Kita Begitu Membutuhkannya?

(978 Views) September 14, 2017 10:10 pm | Published by | 2 Comments

Bila seseorang mengalami penderitaan, boleh jadi ia berceletup penuh kesal di hadapan Tuhan. Mengapa Tuhan mendatangkan musibah kepada saya, juga kepada saudaraku yang paling baik. Alasan ini seolah-olah menerangkan bahwa orang baik itu tak perlu mendapat celaka, cobaan atau pun penderitaan.

Ketika saya berlibur di Ile Ape, saya menemukan gugatan yang sama muncul dari beberapa pihak terkait kematian sepupu saya, Yohanes Ola Kobu, siswa SMA di Atambua. Dia meninggal gara-gara tersengat arus listrik. Kepergiaanya meninggalkan segudang pertanyaan di batok kepala setiap orang. Rasa haru bercampur duka datang silih berganti. Apakah ini nasib atau rencana Tuhan bagi keluarga?

Atas dasar musibah di atas, manusia bisa jadi memprotes rencana Allah, mempertanyaakan keberadaan Allah dan akhirnya muncul rasa skeptis akan penyelenggaraan Allah. Betulkah Allah itu sungguh ada, ataukah Ia hanyalah sekadar dongeng yang diceritakan dalam kitab suci agama Katolik berabad-abad tahun lalu. Jika memang Allah itu tidak ada, lalu ke mana kita mengadu, dan ke mana kita pergi sesudah kematian datang menjemput ?

Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan pada saat manusia mengalami suatu tantangan, kecelakaan ataupun kematian anak semata wayang adalah pertanyaan yang tidak sekedar butuh logika, tetapi juga menantang iman manusia. Harold S. Kushner, dalam bukunya “When Bad Things Happen to Good People” menulis dengan hangat kisah kematian puteranya. Segala bentuk protes dan tuduhan terhadap Allah  atas kematian puteranya, mengharuskan ia bergumul dan menemukan Tuhan dalam suatu pemahaman yang lain. Tuhan yang justeru menangis bersama kita, tidak meninggalkan kita, dan bisa mengisi kebutuhan terdalam dari hati kita yang sedang luka.

Karena itu, di tengah situasi yang sama, manusia kerap kali menyalahkan Tuhan atas peristiwa hidup (kecelakaan, tantangan, cobaan) yang menimpa dirinya dan keluarga.  Ada saja cobaan yang  datang silih berganti, yang menuntut manusia untuk mengeluh dan mempertanyakan kebesaran Tuhan.

Lain hal, ketika manusia merasa diri tidak dicintai, tidak dipercaya, tidak berguna serta tidak diperhatikan  oleh keluarga  dan sesama di sekitarnya, ia bisa jadi  lari dari  kenyataan hidup.  Krisis kasih sayang, krisis perhatian dan penderitaan seakan membuat manusia gerah, dan dapat pula mengambil jalan pintas yakni ingin bunuh diri. Kasus-kasus seperti di atas melahirkan banyak persepsi terhadap keterlibatan Allah dalam hidup manusia.

Kitab Talmud (tahun 200SM – 500SM) menjelaskan ujian yang dijalani Abraham, yakni jika anda pergi ke pasar maka anda akan melihat penjaja keramik akan memukul keramiknya dengan tongkat untuk memperlihatkan betapa kuat dan padatnya keramik itu. Tetapi penjaja yang cerdik hanya akan memukul keramik yang benar-benar kuat; bukan yang rapuh. Jadi, Tuhan akan melakukan ujian dan cobaan yang sama hanya kepada orang-orang yang Tuhan tahu akan mampu menjalaninya, agar setelah ujian itu berlalu orang tersebut dan orang-orang lain di sekelilingnya bisa melihat bagaimana teguh iman mereka. (Harold S. Kushner:1988. Hlm. 30).

Dengan begitu, kita harus percaya bahwa Tuhan yang kita kenal bukan Tuhan yang berdiam diri, tinggal di dalam teks-teks teologi tetapi hadir dalam konteks hidup manusia. Ia hadir di tengah hidup manusia dan  menguji iman umat-Nya. Tuhan hadir di dalam diri orang-orang  yang Tuhan anggap kuat dan mampu untuk menjalani cobaan dengan  setia. Dan, setiap orang yang  memandang kesetiaan mereka, mereka juga memandang Allah Sang pencipta.

Oleh karena itu, “Tuhan tidak pernah meletakan beban di atas pundak kita  lebih  dari yang bisa kita pikul. Tuhan membiarkan hal itu terjadi pada diri anda, karena Ia tahu bahwa anda cukup kuat untuk menanggungnya” (Ibid. Hlm. 31).

Maka kita percaya, apapun cobaan, tantangan hidup, penyakit dan penderitaan jika dijalani dengan iman kepada Tuhan,  maka kita dapat memetik  hikmah dibalik rasa sakit, derita, air mata dan luka. Karena Tuhan lebih dahulu terluka untuk kita, dan bahkan sampai mati di kayu salib. Percayalah bahwa Tuhan  sungguh ada, Ia sungguh  hadir di dalam hidupmu, menyertai engkau  dan juga melihat imanmu. (*)

2 Comments for Renungan Frater Yurgo Purab: Dimanakah Tuhan Pada Saat Kita Begitu Membutuhkannya?

  • kristina pyrwani says:

    Saat kita mengalamibya bukan hal mudah frater. sisi kemanusiaan kita terkadang ingin menyerah dan lari dari tiap beban yg makin berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.