Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Renungan Fr. Yurgo  Purab: Tangan Tuhan Menggandeng Utusannya

Renungan Fr. Yurgo  Purab: Tangan Tuhan Menggandeng Utusannya

(163 Views) April 24, 2018 12:26 am | Published by | No comment

Dalam dunia pemerintahan selalu ada yang  mengutus dan ada yang  diutus  pergi. Misalnya saja, seorang atasan memerintahkan DPRD untuk membawakan sambutan pada perayaan kenegaraan. Atau pula kita melihat Kepala Negara mengirim delegasi perdamaian di tengah konflik  berdarah di  poso, ataupun di luar negeri.

Dalam agama, bisa saja seorang Uskup memerintahkan Vikjen untuk mengikuti perayaan pemberkataan salah satu gereja di Kupang. Dalam keluarga seorang Ayah mengutus anaknya untuk pergi ke tanah rantau, mengais ilmu dan  kembali dengan harapan baru untuk  mengubah wajah kampung halamannya.

Injil Matius 10:7-15 yang diperdengarkan kepada kita berbicara mengenai Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya. Kisah perutusan Yesus tidak hanya sebuah momen perutusan biasa melainkan disertai dengan ajakan dan  larangan. Hal ini mau mengungkapkan bahwa  mengutus “pergi” bukan sekadar pergi tetapi juga “membawa pergi” (hal-hal baik, positif, kasih Allah), dan apa yang mesti digarap di ladang baru, di hati orang-orang seperjalanan, orang-orang jumpaan di sekitar kita.

Yesus mengajak kita untuk pergi dan Ia memberi kuasa dan himbauan sebagai  rasul. Memang kalau ditelisik lebih jauh, apa yang dikehendaki Yesus cukup membingungkan serta menggusarkan hati rasul-rasul-Nya. Masakan dalam seperjalanan jauhnya orang dilarang membawa bekal, emas, perak, tembaga, kasut ataupun ikat pinggang. Mengapa Yesus menghendaki demikian kepada para rasul-Nya? Apakah Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya adalah orang-orang yang datang dari kalangan sederhana dan tidak memiliki apa-apa? Ataukah Yesus tahu bahwa “seorang pekerja patut mendapat upah”, sehingga tidak perlu membawa bekal sedemikian? Ataukah Yesus memiliki pandangan lain mengenai barang-barang yang tidak diijinkan di bawah pergi itu?

Yesus sebetulnya tahu, apa yang Ia larang dan apa yang harus seorang rasul Kristus sejati lakukan. Tidak membawa pergi bekal dan sebagainya merupakan sebuah kewaspadaan terhadap berbagai sumber dosa yang tersalur lewat hal-hal duniawi. Peristiwa perutusan merupakan peristiwa melepaspergikan orang-orang yang dianggap layak dan patuh pada perintah Tuhan. Sikap ketergantungan pada barang-barang duniawi (dalam injil seperti : emas, perak dll) kadang menghalang sebuah pewartaan.

Kisah perutusan Yesus kepada rasul-rasulnya mau mengajak mereka pergi kepada cara hidup baru, yang baik, yang berkenan kepada Allah. Karena itu, sejauh mungkin hal-hal yang berhubungan dengan kepuasaan diri harus  dihindarkan dari perhatian para rasul agar firman yang ditaburkan dapat berbuah lebat  dan terfokus.

Dalam injil tadi dikatakan bahwa “Pergilah dan beritakanlah: kerajaan sorga sudah dekat”, kata-kata ini mau mengajak kita dan para rasul Kristus untuk pergi dan memberitakan kasih Allah di tengah orang-orang yang kita jumpai.  Mengapa para murid dilarang membawa bekal, emas, perak, kasut,  dan ikat pinggang?

Sekilas terlihat agak ekstrim. Tetapi Yesus tidak menghendaki  demikian. Yang Yesus mau ajarkan kepada para rasul mengenai “Bekal” yang sifatnya menghantar kita pada ketamakan dan ingat diri, yang kerap melupakan sesama kita. Ataupun Yesus mengingatkan kita agar tidak  membawa “emas dan perak”, karena barang-barang duniawi kadang menghalau kita dan menjauhkan kita kepada Allah. Karena kita merasa lebih dan memiliki segalanya. Padahal segala yang kita miliki adalah belas kasih Allah yang tercurah lewat usaha manusia. Allah telah menambahkan itu.

Mengapa kita tidak diijinkan membawa baju dua helai dan tongkat serta kasut? “Kasut” itu sendiri harus ditanggalkan. Kasut berada dekat dengan tanah, ia menyentuh tanah menjaga kaki, agar terhindar dari kotoran, serta pecahan kaca dan benda-benda tajam lainnya. Lalu apa maksud Yesus melarang demikian ?

Apakah Yesus mau agar kita bertelanjang kaki? Tentu tidak. Yesus mau agar telapak kaki kita harus terbuka, dan mampu merasakan debu dan kerikil, dekil dan kotoran di luar diri.

Demikian pula para rasul, diajak Yesus untuk terbuka terhadap dunia, membuka diri, membuka hati terhadap kerasnya hidup orang-orang yang ada di sekitar kita, yang dianaktirikan oleh dunia, yang tertindas di tengah masyarakat dan mereka yang dianggap sampah serta tidak diperhatikan.

Oleh karena itu, Yesus memiliki maksud tertentu dari larangan-larangan-Nya kepada para rasul. Yesus sendiri sebagai misionaris ulung yang diutus Bapa ke tengah dunia untuk menebus dosa manusia, telah dengan darah-Nya menjadi kekuatan bagi para rasul dalam mewartakan injil Allah.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita berdiam diri? Kita semua sebagai pengikut Kristus diajak untuk “Pergi” mewartakan kasih Allah kepada siapa saja  yang kita jumpai. Dengan sakramen pembaptisan, Kristus telah menandai kita sebagai murid, yang siap diutus ke tengah dunia, menaburkan  benih kebaikan dan kasih Allah  kepada mereka yang terasing di tengah hidup bermasyakat.

Oleh karena itu, sebagai orang Kristen – Katolik, sebagai keluarga Allah, marilah kita membuka hati, membuka diri, agar Kristus masuk dalam diri kita dan memampukan kita menjadi pembawa damai, penampak wajah Allah  di tengah masyarakat dan negara kita. Kita sadar betul bahwa menaburkan benih kebaikan pada hati setiap orang tak segampang membalikan telapak tangan. Namun, di tengah kerasnya dunia, dan kebencian yang merajalela, kita diajak sebagai pelaku pembawa kabar gembira pada dunia, pada keluarga dan kepada hati remuk. Semoga Allah menyanggupkan kita akan hal itu. Amin.(*)

Topik: ,
News:

No comment for Renungan Fr. Yurgo  Purab: Tangan Tuhan Menggandeng Utusannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *