Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » RAHASIA, Cerpen Yogi D Warut

RAHASIA, Cerpen Yogi D Warut

(282 Views) November 26, 2018 8:18 am | Published by | No comment

Masih tumbuhan yang sama, pagar alang-alang melingkari halaman gubuk reyot di kebun Ntemu. Sedikit meninggi dengan pucuk yang menenggok ke sana-ke mari, diterbangkan angin kaki bukit yang kian lembab. Seperti puisi; melambai, memberi arti salam jumpa ini.

Tetapi Mara yang datang, tidak sedang membawa segenggam damai. Isi kepalanya mantap untuk sejinjing doku—sejinjing keranjang bambu. Sedoku ubi talas adalah harga mati sebuah kepulangan. Jika tidak, Tinus akan marah: kembali menjadi serigala. Lakinya terlatih melolong, mencabik, menendang dan menggigit.

Air matanya? Percuma. Sejak semula ia telah menduga perkawinan adalah duka. Sarjana di Kupang, nasibnya tidak lebih baik dari Sebet, tetangganya yang hanya tamat es em pe. Pagi, ketika asap mengepul dari sudut dapur, hatinya diiris bersama pucuk labu yang masih perawan hijau.“Karena kamu sekolah tinggi-tinggi, saya bayar belis mahal-mahal. Padahal, cuma pengangguran” . Namun, hatinya lebih sakit karena tikaman yang selalu datang belakangan—di akhir setiap celoteh Tinus, “Tambah kamu mandul pula; mau taruh di mana muka saya?”

Tidak ada jawaban. Sepi seperti manula. Lima tahun sudah Mara belajar menjadi celengan luka. Anti-retak.

***

Ende—bu, tidak ada gunanya dijawab” kata Mara “Tuak—minuman beralkohol itu, juga adat, sudah menutup urat hati Tinus kalau soal anak.”

Ende, sabar! Perkara anak bukan saja perkara kasur. Di Ataslah sang pengatur. Lagipula, kalau sudah bunting, lakinya doyan yang laki. Maunya yang bisa urus kebun dan masuk rumah adat. Punya anak perempuan sama saja dengan mandul.”

“Ah, jangan bilang begitu”.

“Ihh, tengoklah si Tuti; sepuluh perawan tapi bunting lagi. Itukan cari laki!” timpal Sebet. “Ende, untung saya punya dua laki.”

Mara melongo, “Ah, jangan bilang begitu.”

Nasi sudah hangus. Dan, setelah jauh bahtera itu berlayar, Mara tahu kalau mengeluh tidak mengubah apa-apa. “Ende, kepada siapa pun, saya hanya bisa tersenyum dan mengatakan apa yang terjadi, yang dianggap melampaui batas dan terkesan kejam, adalah kebiasaan.”

Sungguh malang nasibmu Mar, batin Sebet. “Mar, cobalah kau cari jalan keluar!”

“Garis tangan saya tidak manjur. Sekolah tinggi, tetapi yang tercapai hanya percuma.”

Mara, ia, selalu berusaha yakin bahwa dunianya hanyalah kebun kerontang, dapur lapuk dan kasur kapuk. Ia sudah membunuh harapannya untuk menjadi pegawai Bank.

“Bagaimana rasanya membunuh cita-cita?”

“Mudah”,  jawab Mara “begini-begini, saya bukan seorang pemula.” Sebet melongo. “Saya sudah membunuh bayi saya.” Sebet tersentak

Bayi itu, anugerah yang datang tidak tepat waktu. Mara tahu semuanya terlanjur. Pacarnya, sesama mahasiswa, menghilang. Pilihan rasionalnya hanya dua dan berlama-lama dengan kebimbangan tidak lain adalah menimbun serentak menunda bencana. Seiring waktu, bobot beban jasmani maupun beban rohani terus meningkat. Mara harus menggugurkan bayinya sendiri, bayi yang masih sebesar genggaman tangan. Atau, dia harus menikah. Karena diserang dilema, akhirnya Mara memilih neraka.

“Semula, saya berniat membesarkannya. Ya, risiko didrop-out. Saya sudah siap masak-masak. Tetapi, bayi itu keguguran.”

“Saya belum paham; kamu itu mengalami keguguran atau justru menggugurkan bayi itu?” sergah Sebet.

“Sudah saya bilang saya membunuhnya!” lalu diam.

Dukun bersalin. Dengan jantung berdegub kencang sebagai tanda adrenalin yang meluncur deras ke peredaran darah, Mara menuju rumah Sebina. Ia masih cukup takut dengan ajaran agama dan budaya; tetapi ijasah sarjana dan ancaman Ema Nadus, ayahnya, cukup mampu membuatnya mendulang lupa dan menumpulkan naluri-nurani seorang ibu.

“Kalau waktu itu saya masih percaya dengan Tuhan dan nenek moyang, saya pasti tidak akan ke dukun bersalin. Lalu kijang itu tidak harus menjadi representasi malaikat maut akrab. Juga saya pasti tidak akan menyeberangi jalan E. Dan, membiarkan kami terhempas di tengah jalan raya. Saya masih bisa berdiri selanjutnya. Saya masih hidup, tetapi tidak dengan malaikat kecil itu.”

Mara kemudian diam, seperti tidak percaya bahwa antusiasme barusan berasal dari dirinya sendiri. Sebet juga diam. Entah kebenaran itu yang membuat kata-kata seolah sirna dari lidah keduanya atau kebun Ntemu tempat keduanya berladang yang terpampang gersang di depan mata. Tidak ada yang tahu.

Mara yakin sudah menceritakan semuanya, tetapi selalu ada yang kosong di setiap akhir cerita. Hari itu dia belajar: masa lalu itu abadi, duka menggenapkannya.

Mara tidak pernah berharap dinikahi laki-laki. Ia tidak akan pernah menjadi perawan lagi. Tetapi, lamaran sudah datang. Ema Nadus tidak pernah segembira itu sebelumnya. “Saatnya kamu menunjukkan kegunaan seorang perempuan!”

Baginya ketidakperawanan itu tetap akan menjadi sebuah permainan rahasia. Toh, malam pertama bukan saja satu-satunya kejadian yang melenyapkan selaput dara. Kerena tersodok sadel sepeda, karena terjatuh atau karena belajar pencak silat; semuanya bisa jadi rentetan alasan.

“Ya, lagipula siapa yang memedulikannya? Asalkan kau bisa beranak laki enu”. Tetapi saban hari Mara makin dirundung percaya, ia dan Tinus tidak lebih dari sepasang sepatu; selalu bersama, tak bisa bersatu.

***

Setelah lelah, Mara masuk ke gubuknya. Matahari duduk di ubun kepala. Dia mengamati gubuk reyot itu. Dan, setelah sekian lama ia kembali merasa bahwa hanya angin; hanya dinding bambu, hanya atap alang-alang, hanya bekal dan hanya sabit yang mengerti dirinya. Mara tidak berdaya.

Ia menduga bahwa di gubuk tetangga Sebet tengah mengingat mati-matian detail rahasia kelamnya. Sebuah aib akan segera beredar di kampung dan ia tetap akan menjadi domba di tengah serigala. Homo homini lupus. Sebet siap menerangkan satu catatan hitam dan catatan hitam yang lain. Namun, sebelum Sebet melakukannya, ia akan mengambil bagian dalam neraka ini.

Huu, Ende, we’e ga” kata Sebet menjurus ke gubuk Mara. Mukanya merah padam. Barangkali pertanda keprihatinan meski seyogiyanya ia terus membatin; wanita malang (jalang).

Tidak hanya berhenti dengan ajakan untuk pulang, Sebet bergegas menyusul ke gubuk Mara. Ia membayangkan Mara yang akan langsung tersungkur di kakinya dan memohon belaskasihannya untuk melupakan percakapan pagi tadi. Dan, karena belaskasihan yang memuakkan ia akan menyetujuinya dan mengatakan; Tenang. Tidak apa-apa.

Ia bisa saja langsng berlari ke arah kampung. Menceriterakan kepada suami, lalu kepada tetangga, lalu kepada tetangga lainnya bahwa Mara yang dikenal sebagai wanita tabah tidak lain adalah wanita murahan. Ia bisa saja terus menceritakan aib masa lalu itu secara mendetail jika Mara tidak melototinya seolah berkata: Jangan, jangan.

Jika Mara tidak menjulurkan lidah dan berkata semuanya akan terlupakan dan baik-baik saja. Jika tali tambang tidak melilit leher wanita itu. Di pintu gubuk, Sebet merasa seribu rahasia tersendat di tenggorokannya.

–2016–

*Huu, we’e ga: ungkapan khas wanita Manggarai untuk mengajak pulang kerabat yang sedang bekerja bila hari sudah beranjak senja.

***

Yogi D Warut, adalah nama pena dari Agustinus Yogi Darmanto Warut. Lahir di Manggarai pada tanggal 3 Agustus 1996. Menamatkan pendidikan di SMP-SMA Seminari Pius XII Kisol (2008-2014). Sejak tahun 2015 mengenyam pendidikan di STFK Ledalero. Sekarang tengah bergabung dengan komunitas sastra “Teater Tanya” Ritapiret. Ia sempat menjuarai lomba menulis cerpen, yakni lomba menulis cerpen tingkat SMA sedaratan Flores tahun 2013 yang diselenggarakan Fakultas Bahasa UNFLOR Ende.

No comment for RAHASIA, Cerpen Yogi D Warut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.