Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Puisi-Puisi Fitri Wolos dari Komunitas Sastra Hujan Ruteng

Puisi-Puisi Fitri Wolos dari Komunitas Sastra Hujan Ruteng

(865 Views) May 27, 2016 2:24 pm | Published by | No comment

 

Fitri Wolos adalah anak tunggal dari pasangan Petrus Sais Wolos (Alm) dan Mefi Lendo. Bagi Fitri, sangat penting memperkenalkan kedua orang tua, sebagai bentuk penghargaan atas jasa orang tuanya. Pemilik nama lengkap Anastasia Safitri Wolos adalah lulusan Universitas Negeri Padang. Fitri lahir di Ruteng pada 3 September 1993. Kini, Fitri yang juga biasa disapa Pitik (nama kecil) adalah guru di salah satu SMP Swasta di Kota Ruteng. Fitri menulis puisi karena puisi telah mengabadikan sebagian hidupnya. “Puisi adalah aku.” Begitulah Fitri menghayatinya. Fitri juga merupakan anggota Komunitas Sastra Hujan Ruteng.

 

Sekutu Tangan Berlumpur

(Untukmu di atas sana)

* Fitri Wolos

 

Kami  terjebak, di tempat yang menyulut  takut

Bagaimana tidak…kami merasa terpaksa terhisap

Dicengkeram oleh tangan-tangan setengah berlumpur,

Setengah kusampaikan, sebab masih setengah bercahaya kelam tangan itu,

Lumpur keji ini menghisap darah tak bernoda,

Aku haus akan cahaya, sudah lelah hidup di topang tangan berlumpur.

Sekutu tangan berlumpur semakin banyak,

Maka semakin banyak nyawa dibohongi.

Lelah tersandera situasi,

Kian kini kian laknat saja,

Aku cape lebih dalam… kami juga demikian.

Silahkan tarik aku keluar dari sini…kami juga demikian.

Ini rawa …yang tak kenal jujur,

Ini rawa yang tak tahu kasih

Bilah pedang kusarungkan kembali

Masih sedikit tenaga tuk melawan,

Bukankah kami memilih kalian?

Mengapa kami diabaikan? Senang sajalah kalian…

 Dengan  tangan setengah berlumpur

Otak pun penuh rupiah,

Kami hanya bisa bertambah miskin.

Sedih kami ini…sedih.

Kami masih saja takut disini,

Di bangsa yang menjadi ibu pertiwi,

Jangan coreng sejarah dulu,

Masih baik sejarah dulu,

Jangan buat pahlawan bersedih,

Jangan hisap kalian sekutu tangan berlumpur.

Bersihkan dengan air suci tanganmu..

Memegang banyak pena di antaranya banyak nyawa. Pikirkan.

 

 

puisi Karena Bualan

(Baginya Kaum Ternama)

*Fitri Wolos

 

Berambisi…tak berpendirian.

Bertuah tanpa ragam kemudian hampa kata terlontar!

Mencoreng jujurnya kehidupan.

Mulut membual seperti membisu.

Hanya kata… tak tampak tindakan.

Karena bualan,

 

Jujurnya  tak bersembunyi, Seperti kiraku…

Memang tak jujur, itulah…

Menodai kehidupan,

Karena bualan,

 

Janji yang terucap adalah sebuah penipuan

Menggores tajam pada kehidupan,

Jangan lantunkan lagi kalimat indah,

Karena itu bualan…

 

Tahukah? Diam kadang goreskan tinta emas.

Sebab nyata perbuatan yang tampak…

Bukan bualan yang bermakna!

Cukupkan bualan…

 

Resapi. . .

Satu kata titipkan seribu makna

Dalami . . .

Kata itu butuh tindakan! Bukan bualan!

Lelah kami menelusuri hidup

Indahnya kami resapi

Jangan cacati kehidupan ini

Jangan hadir bagai malaikat maut tanpa sayap

Menyinari tetapi mematikan

Kami juga terintimidasi….

Karena bualanmu kaum ternama!

Topik:
News:

No comment for Puisi-Puisi Fitri Wolos dari Komunitas Sastra Hujan Ruteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.