Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Prosesi Laut “Tuan Meninu” Kembali Ke Tradisi Asli Suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa

Prosesi Laut “Tuan Meninu” Kembali Ke Tradisi Asli Suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa

(1089 Views) April 15, 2017 4:59 am | Published by | 1 Comment

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Ribuan peziarah Jumad Agung, memadati kapela Tuan Meninu atau arca kanak-kanak Yesus. Kapela yang terletak di Kota Rewido I, Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur itu menjadi sentral prosesi laut pada Jumad Agung di Kota Reinha, Larantuka.

Pagi itu, Ratusan konfreria mengiring prosesi laut dengan nyanyian dan lagu ratapan menyayat hati. Semua nyayian dilakukan dalam bahasa Portugis. Para konfreria itu berarak keluar dari rumah adat suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa. Penjaga arca Tuan Meninu.

Kendati diterpa teriknya siang Jumad Agung (14/4/2017) siang, namun ribuan warga yang hendak mengikuti prosesi laut itu tidak bergeming.

Paskalis Hokeng, Pr, Pastor Paroki San Juan ketika melepas rombongan prosesi laut Samana Santa mengatakan, Jumad agung, Jumad kelabu, Yesus mengungkap kata dan selesai, dia satu untuk semua, saat sengsaranya, Yesus mengulangi pesan tanggung jawab, inilah ibumu, inilah anakmu.

“Hari ini kita mengantar kanak Yesus kembali ke Bunda. Kita diajakNya berduka bersamanya. Didoakan pula oleh Maria Bunda Gereja… misteri hari ini pekerjaan Tuhan untuk keselamatan,” ujar Romo Paskalis.

Dalam prosesi laut siang itu, arca Tuan Meninu diantar menuju armidanya. Perjalanan sampan itu ditemani puluhan sampan serta diramaikan pula ratusan perahu motor maupun kapal motor. Perjalanan laut menuju pentakhtaan Tuan Meninu memakan waktu 1 jam lebih. Umat pun mengikuti prosesi laut sambil mendaraskan doa. Pentakhtaan Tuan Meninu guna mengikuti prosesi malam jumad agung.

 

Kembali Ke Tradisi Awal

Prosesi laut Samana Santa di Larantuka merupakan tradisi keagamaan yang bertumpu pada tradisi tiga suku di kampung Kota Rowido I, Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, yakni Suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa.

Konon, arca Tuan Meninu atau kanak-kanak Yesus itu pertama kali ditemukan dan dijaga oleh ketiga suku itu. Ketika Portugis menjejakkan kakinya di Larantuka pada tahun 1611, barulah diketahui bahwa arca yang ditemukan adalah arca religius agama Katolik.

Prosesi laut, dalam penuturan warga setempat disebut “Persisan Anta Tuan” adalah bentuk tradisi kepatuhan tiga suku kepada Raja Larantuka.

Sekretaris panitia Prosesi laut atau persisan anta tuan, Mikael Mige Sakera menuturkan bahwa sejak 1984 hingga 2016 lalu, ketiga suku memberi kesempatan kepada pemerintah untuk mengambil peran sebagai pendamping Peti Tuan Meninu.

“Kecelakaan dalam prosesi laut tahun 2016 lalu menyadarkan kami untuk kembali ke tradisi semula. Sejak 1984 sampai 2016, pendamping Tuan Meninu di dalam berok atau sampan diserahkan kepada Bupati atau para pejabat tinggi pemerintahan sebagai penghargaan. Padahal menurut tradisi, peran mendampingi Tuan Meninu di dalam sampan ketika diarak menjadi tugas ketua suku penjaga Tuan Meninu,” ujar Sakera.

Sampan beratap memuat Tuan Meninu.

Disebutkan, arca Tuan Meninu adalah milik suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa. Tugas mengurus Tuan Meninu di dalam kapela dilakukan suku Pohon Rita dan Ina Lele. Sementara urusan di luar kapela berkaitan prosesi laut menjadi urusan Suku Kinta Besa.

Panitia juga memberi peringatan keras kepada seluruh kapal maupun agar tidak mendahului berok atau sampan Tuan Meninu saat prosesi laut, jika tidak diindahkan akan membawa celaka.(san taum)

1 Comment for Prosesi Laut “Tuan Meninu” Kembali Ke Tradisi Asli Suku Pohon Rita, Ina Lele dan Kinta Besa

  • Hans Hadjon says:

    Yang benar bahwa kecelakaan laut terjadi pada kegiatan prosesi laut tahun 2014, bukan pada tahun 2016 seperti yang tertulis dalam berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *