Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Perubahan Iklim Dan Adaptasi Petani

Perubahan Iklim Dan Adaptasi Petani

(91 Views) November 27, 2017 9:18 pm | Published by | No comment

 Oleh Yoseph Yoneta Motong Wuwur, Alumnus Universitas Flores, Ende-NTT

Indonesia kini dibayangi ancaman kekeringan yang efeknya semakin nyata di tengah warga seiring dengan datangnya fenomena pemanasan global. Dampak buruk pemanasan global bukan lagi sekadar wacana. Fakta menunjukkan bumi sudah semakin panas dan kehidupan manusia semakin tidak nyaman. Persoalan besar lainnya akan semakin banyak orang kehilangan tempat tinggal akibat serangan badai dan bencana ekologi lainnya. Jumlah penduduk dunia yang mengalami kekurangan air akan terus bertambah.

Perubahan iklim sudah berdampak pada berbagai aspek kehidupan dan sektor pembangunan di Indonesia. Sektor kesehatan manusia, infrastruktur, dan sektor lain yang terkait dengan ketersediaan pangan (pertanian, kehutanan dan lainnya) telah mengalami dampak perubahan tersebut. Dampak perubahan iklim terutama berpengaruh kepada kelompok masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya sepenuhnya pada sumber-sumber alam. Terlebih petani.

Sektor pertanian rentan terhadap perubahan iklim karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, indeks pertanaman, produksi dan kualitas hasil.  Perubahan iklim berupa pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian. Perubahan iklim dapat berpengaruh pada terjadi musim hujan semakin pendek yang berdampak pada sulitnya upaya meningkatkan indeks pertanaman, dan ini harus diatasi dengan menanam varietas yang berumur lebih pendek, atau merehabilitasi jaringan irigasi. Adanya resiko dampak perubahan iklim perlu diantisipasi dengan berupaya memanfaatkan iklim sebagai peluang diversifikasi, peningkatan kualitas produk dan minimalisasi resiko.

Naiknya suhu udara global sudah dimulai sejak awal revolusi industri.  Industrialisasi telah merusak keseimbangan kimiawi atmosfer bumi. Naiknya suhu gobal ini disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat aktifitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, kegiatan industri, konversi lahan dan pertanian.   Alih fungsi lahan yang kian massif, menyebabkan miliaran ton gas karbondioksida dimuntahkan ke udara oleh negara-negara industri dan berjuta-juta ton gas metana disemburkan dari eksplorasi gas bumi. Muaranya, suhu bumi naik secara signifikan dan mendorong munculnya krisis air. Upaya penanggulangannya patut segera dirumuskan sebagai tanggung jawab moral bersama untuk membangun sebuah kearifan ekologi.

Dampak perubahan iklim terhadap sistem pertanian jelas terlihat sekarang ini. Indonesia memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau yang bagi satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama baik dalam saat terjadinya maupun lama kejadiannya. Hal ini antara lain tergantung pada letak geografis daerah yang bersangkutan. Daerah Indonesia bagian barat lebih banyak mendapat pengaruh dari Asia pada musim hujan, sedang daerah Indonesia bagian timur lebih banyak mendapat pengaruh dari Australia pada musim kemarau. Hal ini mengakibatkan berbagai masalah dan kerugian usaha tani. Contohnya, musim tanam sudah tiba tetapi hujan tidak turun mengakibatkan bibit rusak, pengolahan lahan berulang atau bibit yang sudah ditanam mengalami kekeringan yang menimbulkan kerugian cukup besar, ataupun hujan yang berlangsung di atas normal yang mengakibatkan penggenangan lahan pertanian.

Kejadian iklim ekstrim antara lain menyebabkan,  kegagalan panen dan tanaman, penurunan indeks pertanaman yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi;  kerusakan sumber daya lahan pertanian; peningkatan frekuensi, luas, dan intensitas kekeringan; peningkatan kelembaban; dan peningkatan intensitas gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).  Dalam sistem pertanian dampak perubahan iklim merupakan resultante antara perubahan luas tanam dan panen dengan produktivitas.  Kekeringan dan banjir berdampak terhadap produksi melalui luas areal panen, serangan OPT, pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Perubahan iklim juga memberikan pengaruh terhadap sistem air pertanaman dengan terjadinya peningkatan suhu udara dan curah hujan. Peningkatan suhu udara akan meningkatkan laju evaporasi dan evapotransipirasi, sehingga menyebabkan meningkatnya kebutuhan air untuk irigasi, walaupun total curah hujan selama periode tanam sama.  Ketersediaan air yang semakin langka pada masa sekarang dan masa datang, dan kebutuhan air irigasi yang meningkat, akan semakin memperburuk dampak perubahan iklim apabila tidak dilakukan upaya yang memperhitungan tingkat risiko iklim. Hujan lebat yang diestimasi akan semakin tinggi frekuensi dan intensitasnya di masa datang akan menyebabkan tingginya aliran permukaan.  Konversi penggunaan lahan dari pertanian ke non pertanian yang tidak terkendali akan menyebabkan semakin luasnya permukaan yang kedap air. Dengan meluasnya permukaan lahan yang kedap air, mendorong semakin seringnya banjir di musim penghujan dan kelangkaan air di musim kemarau. Untuk mengatasi ini, pemerintah harus berupaya mengendalikan alih fungsi lahan terbuka hijau menjadi lahan dengan permukaan kedap akibat pembangunan jalan, perumahan dan bangunan lain. Perubahan iklim juga menyebabkan akses masyarakat petani terhadap pangan terganggu, yang secara langsung maupun tidak langsung, berakibat menurunnya penghasilan masyarakat petani, khususnya petani tanaman pangan. Akibat yang lebih parah dialami oleh buruh tani yang mengandalkan pendapatannya dari jasa kegiatan pertanian seperti pengolahan tanah, menanam, menyiang, memupuk, panen.

Petani merupakan konsumen terbesar  bagi sebagian besar produk pangan terutama beras. Penundaan waktu tanam menyebabkan pula penundaan waktu panen, sementara itu kebutuhan  terhadap pangan hampir tidak mengalami perubahan.  Hal tersebut menyebabkan cadangan pangan di tingkat rumah tangga dan makro secara nasional dalam berbagai bentuk dan jenis pangan akan berkurang bahkan mengalami defisit.  Dengan demikian, akses masyarakat untuk mendapatkan pangan semakin rendah karena makin menipisnya ketersediaan pangan dan menurunnya kemampuan/daya beli masyarakat terhadap pangan dan akhirnya berimplikasi terhadap ketahanan pangan masyarakat dan juga ketahanan pangan nasional

Untuk itu dibutuhkan solusi agar dapat keluar dari permasalahan perubahan iklim.  Langka kongkrit  dan strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi perunahan iklim  adalah program mitigasi dan adaptasi. Program Mitigasi adalah usaha menekan penyebab perubahan iklim, agar resiko terjadinya perubahan iklim dapat diminimalisir atau dicegah. Contoh upaya mitigasi yang lain dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air antara lain: Usaha rehabilitasi waduk dan embung, Alokasi air melalui operasi waduk pola kering, pembangunan jaringan irigasi, Penghijauan lahan kritis dan sosialisasi gerakan hemat air, Peningkatan kehandalan sumber air baku, Peningkatan pembangunan Instalasi Pengolahan Air, Pengembangan teknologi pengolahan air tepat guna, pembangunan dan Rehabilitasi waduk dan embung serta pembangunan jaringan irigasi.

Program adaptasi adalah kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dari perubahan iklim dengan cara mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengambil manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya. Adaptasi terhadap perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan maupun terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim. Dengan demikian adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan strategi yang diperlukan pada semua skala untuk meringankan usaha mitigasi. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tahan terhadap variabilitas iklim saat ini dan mendatang. Upaya yang sistematis dan terintegrasi, serta komitmen dan tanggung jawab bersama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan guna menyelamatkan sektor pertanian.

adaptasi harus dilaksanakan secara bersinergi antara adaptasi yang dilakukan secara individu oleh petani, atau kelompok tani dan adaptasi yang direncanakan oleh pemerintah. Adaptasi yang terencana seperti perubahan dalam kebijakan, institusi dan infrastruktur diperlukan untuk memfasilitasi dan memaksimumkan keuntungan jangka panjang dari program adaptasi  perubahan iklim. Adaptasi yang terencana difokuskan dalam pengembangan infrastruktur baru, kebijakan dan institusi untuk mendukung, memfasilitasi, mengkordinasikan dan memaksimalkan pengelolaan lahan pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Program dan kebijakan adapatasi tersebut seperti meningkatkan investasi dalam membangun infrastuktur irigasi dan teknologi hemat air, menjamin infrastruktur pengangkutan dan penyimpan, membangun pasar yang mudah diakses dan efisien untuk memasarkan hasil dan sarana pertanian, termasuk skema harga dan bantuan keuangan untuk usaha pertanian.(*)

Yoseph Yoneta Motong Wuwur, lahir di Kalikasa, 17 Mei 1984, tinggal di Kalikasa, Desa Katakeja, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, bekerja di Dinas Pertanian dan  Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, NTT.  Hp : 081238094426, Email : wuwuryoseph@yahoo.com dan yosephwuwur0584@gmail.com.

No comment for Perubahan Iklim Dan Adaptasi Petani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *