Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Pertanian Selaras Alam Sebagai Solusi Ketahanan Pangan

Pertanian Selaras Alam Sebagai Solusi Ketahanan Pangan

(443 Views) September 10, 2017 11:37 pm | Published by | No comment

Oleh Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Ketahanan pangan telah menjadi isu global selama dua dekade ini termasuk di Indonesia. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Berdasarkan definisi tersebut, terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga merupakan tujuan sekaligus sasaran ketahanan pangan di Indonesia. Oleh karenanya, pemantapan ketahanan pangan dapat dimulai melalui peran aktif setiap rumah tangga dengan melakukan ataupun terlibat kedalam kegiatan pertanian.

Ketika Kabinet Kerja dibentuk, Presiden Joko widodo menginginkan tercipta swasembada pangan terutama beras, kedelai dan jagung pada tahun 2017. Dengan Upaya peningkatan dunia usaha pertanian terus dilagahkan dengan strategi Upaya Kusus (Upsus) padi, jagung, kedelai (pajale) dan membangun kerjasama antara kementrian pertanian dan TNI untuk membuka lahan sawa yang baru. Salah satu program yang diorbitkan oleh Kementrian Pertanian berorientasi pada swasembada pangan seperti tahun 1980-an. Ini butuh kerja keras dan kerja sama.

Usaha mewujudkan mimpi besar ini tentu membutuhkan kerja keras jajaran eksekutif dan seluruh rakyat Indonesia mengingat betapa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan. Pekerjaan-pekerjaan besar tersebut antara lain pembangunan infrastruktur pertanian, sarana produksi yang merata dan pengembangan IPTEK untuk menunjang sistem produksi agar dihasilkan produk pangan berkualitas, baik mutunya, aman dan terjangkau.

Dewasa ini, konsumsi pangan kita masih didominasi oleh pasokan pangan impor. Tempe goreng yang nikmat kita makan, kian hari makin menambah cadangan devisa Negara lain. Kedelai, Jagung, dan sesekali kita mendengar pemerintah mengimpor beras menjadi bukti Kedaulatan pangan tidak dimiliki Negara ini karena lemahnya ketahanan pangan.

Permasalahan pertanian Indonesia sangatlah kompleks untuk dapat diurai. Sejak pemerintahan orde baru menerapkan Revolusi Hijau, dunia disilaukan oleh peningkatan drastis produksi pangan kita yang hanya berlangsung sesaat. Akibat revolusi itu, sisi negatif mulai muncul. Biaya produksi pangan melonjak naik. Petani harus membeli bahan bakar untuk traktornya, pupuk kimia dan benih hibrida yang belum pernah teruji daya adaptasinya dari Sabang sampai Merauke. Mekanisasi pertanian menyingkirkan peran hewan ternak pembajak sawah yang jelas lebih hemat biaya operasional, ramah lingkungan dan dapat dijadikan aset tabungan. Belum lagi penggunaan berbagai macam pestisida, herbisida dan fungisida oleh Petani. Obat-obatan tersebut membunuh biota tanah, mengkritiskan tanah, meracuni lingkungan, manusia dan binatang.

Pertanian konvensional yang tidak selaras alam hanya melayani keserakahan kaum kapitalis. Bagaimana tidak, petani sengaja dibuat ketergantungan untuk senantiasa membeli bibit hibrida, pupuk kimia dan obat-obatan dari perusahaan multinasional. Padahal kita memiliki kemampuan untuk menggalakkan pertanian selaras alam yang ramah lingkungan dengan biaya produksi lebih minimal. Negara ini telah melahirkan banyak guru besar di bidang pangan. Kita memiliki banyak teknologi untuk sistem pertanian berkelanjutan. Sumber daya alam masih melimpah ruah tetapi belum dioptimalkan.

Sistem pertanian yang mengedepankan kerbelanjutan agroekologi dapat disebut sebagai pertanian yang selaras dengan alam. Prakteknya lebih mudah dilakukan pada lahan baru atau lahan yang belum kritis. Penggunanaan pupuk kompos, mulsa, aplikasi agen hayati dan pestisida nabati adalah beberapa teknologi tepat guna yang termasuk kedalam jenis teknologi ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kualitas lahan pertanian. Teknologi tersebut dapat disebarluaskan sehingga diadopsi dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun, tantangan kedepan akan semakin berat dilalui. Diperlukan ketegasan sikap bahwa bekerja bersama alam jauh lebih baik daripada melawan alam.

Sebuah pepatah asing mengatakan, “You are what you eat!” yang berarti Anda adalah apa yang Anda Konsumsi. Pada hakikatnya, kita semua menginginkan makanan yang sehat. Tidak ada yang secara sengaja menginginkan mengonsumsi makanan beracun atau obat pemberian dokter. Untuk menghasilkan makanan yang sehat dibutuhkan sistem pertanian yang baik dan benar. Dan salah satu cara untuk menciptakan sistem pertanian yang yang tidak merusak alam adalah dengan system pertanian organic yang rama lingkungan. Seperti diketahui bahwa Produksi pangan berpestisida lambat laun pasti berakibat buruk bagi kesehatan pengonsumsinya. Oleh sebab itu, kini saatnya beralih dari pertanian konvensional menuju pertanian berkelanjutan yang selaras dengan alam demi menguatkan ketahanan pangan nasional.

Kondisi ketahanan pangan Indonesia pada saat ini semakin memburuk, dikarenakan beralih fungsinya lahan pertanian di Indonesia. pemerintah indonesia seharusnya lebih sensitif terhadap kondisi ini, bukan hanya permasalahan lahan. Indonesia berada di level serius dalam indeks kelaparan global. Hal ini diprediksi akan terus memburuk dengan terus bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Di masa depan diprediksi akan terjadi kelangkaan pangan yang diakibatkan oleh beberapa hal seperti kerusakan lingkungan, konversi lahan, tingginya harga bahan bakar fosil, pemanasan iklim dan lain-lain. Belum lagi adanya Washington Consensus yang kini menjadi boomerang bagi Indonesia. Selama Indonesia masih berkiblat pada Konsensus Washington, selama itu juga Indonesia tidak bisa mandiri secara pangan. Konsensus Washington membuat rakyat Indonesia tidak leluasa bergerak dalam menentukan nasib produktivitas pertaniannya. Maka, tidak heran jika ketahanan pangan Indonesia lemah. Akibat Konsensus Washington, liberalisasi pasar akan menguasai cara pasar Indonesia. Kedaulatan pangan merupakan prasyarat dari ketahanan pangan. Mustahil tercipta ketahanan pangan kalau suatu bangsa dan rakyatnya tidak memiliki kedaulatan atas proses produksi dan konsumsi pangannya.

Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Pangan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidup seseorang dapat terjamin. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dulu hingga sekarang dengan mayoritas penduduknya sebagai petani. Namun, dewasa ini Indonesia justru menghadapi masalah serius dalam situasi pangan di mana yang menjadi kebutuhan pokok semua orang.

Masalah komoditi pangan utama masyarakat Indonesia adalah karena kelangkaan beras. Sebenarnya dulu kelangkaan ini tidak terjadi karena semua daerah di Indonesia tidak mengonsumsi beras. Bahan makanan utama masyarakat Madura dan Nusa Tenggara adalah jagung. Masyarakat Maluku dan Irian Jaya mempunyai makanan utamanya sagu. Dan beras adalah makanan utama untuk masyarakat Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sualwesi walaupun ada juga yang menjadikan singkong, ubi dan sorgum sebagai bahan makanan utama. Tetapi seluruh hal tersebut berubah total setelah pemerintah orde baru dengan Swasembada Berasnya secara tidak langsung memaksa orang yang bisa mengkomsumsi bahan makanan non beras untuk mengkonsumsi beras. Yang terjadi selanjutnya adalah muncul lonjakan kebutuhan beras nasional sampai sekarang sehingga memaksa pemerintah untuk impor beras. Padahal jika tiap daerah tetap bertahan dengan makanan utama masing-masing maka tidak akan muncul kelangkaan dan impor beras. Efek lainpun muncul akibat perubahan pola makan masyarakat Indonesia. Keberagaman komoditi pertanian yang menjadi unggulan setiap daerah di Indonesia terlenyapkan demi progran Swasembada Beras.

Mungkin sulit untuk mengerem laju penduduk yang terjadi di Indonesia dan juga menambah jumlah lahan pertanian yang ada karena berbagai faktor dan konversi besar-besaran yang terjadi. Namun yang perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti dari kondisi pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia antara lain adalah langkah strategi penerapan dalam menyelesaikan ketahanan pangan pada total luas lahannya, upaya untuk pemupukan dan bibit unggulnya. Luas lahan yang merupakan konversi dari sawah harus diperhatikan masalah tata ruangnya. Sementara itu, pada sistem pemupukannya harus menggunakan bahan organik dan harus diperhatikan formulanya.Selain itu perlu diperhatikan mengenai pengelolaan kualitan serta kuantitas sumber daya manusia dan teknologi untuk kemajuan pengan dan pertanian Indonesia.

Teknologi jadi bagian penting dalam pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan. Teknologi memang hanya alat tetapi perlu dipikirkan bagaimana untuk membantu petani agar dapat meningkatkan kualitas produk-produk mereka. Teknologi perlu diperhatikan mengingat untuk mengimbangi  berkurangnya lahan pertanian. Kualitas para petani perlu juga perhatian untuk mengolah sumber daya alam yang ada. Para petani tersebut perlu diberikan pengetahuan agar mampu memajukan jumlah komoditi pertanian. Seperti contohnya diberikan pelatihan bagi para petani agar mereka dapat memberi perlindungan lebih aman dan efektif tanaman mereka dari serangan hama, penyakit, dan lainnya. Semua upaya untuk menangani permasalahan ketahanan pangan ini harus melibatkan semua pihak. Hal ini dimaksudkan agar seluruh rencana penanganan ini dapat terlaksana dengan baik sehingga tidak ada lagi masalah pangan. (*)

Penulis adalah alumnus Universitas Flores, Ende- NTT,

bekerja di Dinas Pertanian dan  Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata,  

tinggal di Kalikasa, Desa Katakeja Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata.

Topik: ,
News:

No comment for Pertanian Selaras Alam Sebagai Solusi Ketahanan Pangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *