Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Penyair dan Penyiar

Penyair dan Penyiar

(472 Views) September 16, 2017 3:42 pm | Published by | No comment

Oleh : Yurgo  Purab

Apa perbedaan antara penyair dengan  penyiar ?

Dalam dunia sastra, kita mengenal sastrawan yang bergiat dalam dunia puisi, cerpen, esai, maupun novel. Pada puisi kita dapat  menyebut seseorang dengan sebutan “Penyair” seperti Joko Pinurbo, Rendra, Chairil Anwar, Goenawan Muhamad, Mario F. Lawi, Bara Patyyradja dan lain-lain. Mereka disebut penyair karena keuletan dan  konsistensi yang mereka tampilkan. Mereka tak hanya berkarya, berkreasi dan mencipta, tetapi lebih dari itu mampu menghidupkan kata-kata yang telah dibangunnya. Artinya, seorang penyair selalu  peka membaca situasi dengan nalar dan bahasa yang logis, yang mampu menghidupkan yang mati sekalipun. Setiap kata dibuatnya bernafas, hidup dan menggerakan rasa pembaca.  

Dalam media massa elektronik  kita mengenal Radio dan Televisi sebagai dasar dalam perkabaran  berita dan media hiburan. Dan, orang yang menyampaikan berita atau peliput siaran dapat   dikatakan sebagai penyiar. Dalam hal ini, seorang penyiar baik di Radio maupun Televisi selalu peka  meliput  informasi di lapangan, dengan bahasa yang apik, yang tidak menimbulkan pemahaman  yang  ambigu dari pendengar berita atau penonton siaran Televisi. Ia tidak hanya bertandang dengan kata, tetapi  dibutuhkan pula  kecermatan dan kelancaran berbahasa serta  daya kritis yang tajam dalam mengolah informasi. Sedangkan profesi atau  gelar wartawan maupun wartawati seakan diabaikan dari  penggunaanya.

Hal itu bukan berarti mengabaikan bahasa sebagai penunjuk profesi. Tetapi, lebih dari itu, orang merasa lebih nyaman menyandang profesi penyiar ketimbang wartawan atau wartawati. Mungkin saja orang merasa trauma menyandang gelar  atau profesi sebagai  wartawan.

Selain karena alasan tak nyaman, tetapi yang pasti seorang wartawan selalu dihantui oleh teror dan ancaman saat mencoba mendengungkan kebenaran dalam dunia pers. Maka tak heran banyak wartawan yang mati muda, bahkan hilang tanpa jejak. Mereka ditangkap, dipenjarakan  bahkan diperlakukan tak semestinya,  karena mencoba menyiarkan berita miring terhadap sebuah lembaga, yang mencoba membelot dari aturan hukum. Mungkin inilah ketakutan terbesar yang tengah dihadapi seorang wartawan dalam dunia pers.

Demikian pula dengan penyair yang mengartikulasikan seluruh dimensi pengamatannya dalam dunia puisi. Sebut saja Rendra, dengan puisi-puisi yang bernas dan tajam ia mampu mengelaborasi bahasa sebagai media penyampaian pesan kepada pemerintah atau  pemimpin yang kadang membelot dari tugas dan kebenaran. Karena itu, puisi-puisi Rendra biasa disebut puisi pemberontakan yang berkoar dari relung ketertindasan batin manusia. 

Lain hal, seorang wartawan lebih senang disapa penyiar,  karena ia ingin berdampingan dengan penyair.  Yang  selalu bergumul  dengan  kata-kata dalam setiap  sajak atau  puisi yang ditulisnya. Tampak jelas tugas penyair dan penyiar tak berbeda jauh. Seorang penyair dapat  menyiarkan pergolakan batinya melalui ungkapan kata-kata yang terpilin dan apik lewat medium bahasa sebagai alat pengungkapannya, serta  dapat mendeklamasikan setiap  kata dalam rangkaian puisi yang menghidupkan.

Lebih dari itu, seorang penyair dapat mengelaborasi bahasa agar  terasa nikmat di dengar telinga dan menyentuh relung batin serta menggerakan perubahan dalam diri. Sedangkan seorang penyiar tidak hanya menggemakan kata-kata indah dan muluk-muluk tetapi juga bernas dan mengobarkan hati, menyentuh nurani dan pola pikir agar dapat tergerak untuk menganalisa sebuah problem dan mengatasi problem  tersebut.

Oleh karena itu, seorang penyiar membutuhkan kecakapan yang lebih, dalam mengemas berita. Apapun dan bagaimanapun  penyair dan penyiar  adalah dua profesi yang selalu  mendengungkan  kebenaran. Mereka rela diteror, bahkan diancam dan sekalipun mati. Mereka berani menyuarakan suara minor dari relung ketertindasan dan menyampaikan kerinduan agar tercipta ruang perdamaian. Dengan begitu, mereka tidak hanya menyandang profesi tetapi juga bekerja dengan profesional di lapangan, dengan segala upaya agar  tercipta harmonisasi di bumi Indonesia tercinta ini.

Maka dari itu, kita patut dan layak memberi apresiasi kepada penyiar dan penyair dalam segala usaha dan niat baik mereka, yang berpihak pada kebenaran dan keadilan.  Semoga penyair dan penyiar tetap hidup dalam kata dan tindakannya. (*)

  • Artikel ini pernah diterbitkan di  koran  Harian Nasional News dan Flores Pos
Topik: ,
News:

No comment for Penyair dan Penyiar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *