Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Peningkatan Kemampuan Guru Di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Melalui Kegiatan Workshop

Peningkatan Kemampuan Guru Di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Melalui Kegiatan Workshop

(82 Views) April 27, 2019 3:50 pm | Published by | No comment

Oleh: Hendrikus Paron Sanga, S.Pd

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Paradigma pembelajaran yang dianut oleh guru sebagai pembelajar tampak pada strategi pembelajaran yang diterapkan dalam mengelola pembelajaran. Seels dan Richey (1994) mengartikan strategi pembelajaran sebagai kegiatan memilih serta mengurutkan kejadian dan aktivitas dalam pembelajaran. Kejadian dan aktivitas dimaksud meliputi penyajian materi pembelajaran, pemberian contoh, pemberian umpan balik. Degeng (1997) mengartikan strategi pembelajaran sebagai penataan cara-cara yang dapat digunakan dalam kondisi tertentu, sehingga terwujud suatu urutan langkah-langkah prosedural yang dapat dipakai untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Di lembaga pendidikan persekolahan selama ini, sering dijumpai para pembelajar kurang memperhatikan strategi yang digunakannya dalam proses pembelajaran. Kebanyakan pembelajar hanya menerapkan strategi pembelajaran yang monoton, yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada pembelajar, di antaranya strategi pembelajaran langsung (direct instruction). Prinsip umum menyatakan bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi pembelajaran memiliki kekhasan masing-masing.

Penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat, jarang melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses pembelajaran, dan pembelajaran yang cenderung monoton akan berpengaruh terhadap hasil belajar pebelajar pada mata pelajaran yang dipelajari. Rendahnya hasil belajar pebelajar dapat berimplikasi pada menurunnya kualitas penguasaan kompetensi oleh pebelajar. Kondisi yang demikian dapat mengakibatkan merosotnya kualitas lulusan yang dihasilkan oleh lembaga persekolahan.

Kenyataan yang dijumpai di dunia persekolahan terutama pada SDK Balaweling adalah bahwa dalam proses pembelajaran umumnya masih menunjukkan kualitas yang belum memuaskan. Selama proses pembelajaran berlangsung, keaktifan pembelajar (guru) pada umumnya sangat dominan dengan memberikan penjelasan materi dan informasi selengkap mungkin, sementara pebelajar (murid)  hanya mendengar dan mencatat. Banyak pembelajar mengajarkan materi dengan cara yang kurang menarik dan membosankan, kurang memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk berpartisipasi aktif dalam mengembangkan keterampilan dan sikap ilmiah, serta kurang mewujudkan interaksi antara pebelajar dengan berbagai fenomena yang terdapat di lingkungan sekitarnya. Aktivitas proses pembelajaran hanyalah sebagai pemindahan dan perolehan fakta-fakta yang selanjutnya menjadi bahan hafalan bagi pebelajar.

Berdasarkan hasil pengamatan pribadi selama menjadi Pengawas  di gugus Ki Hajar Dewantara ditemukan fakta bahwa kebanyakan pebelajar SDK Balaweling mengalami kejenuhan dan kurang bersemangat belajar. Hal tersebut mengakibatkan hasil ulangan lebih dari sebagian pebelajar belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. Dalam proses pembelajaran sehari-hari, ketika pembelajar menyampaikan materi pelajaran selalu menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Secara sepintas tampaknya pebelajar dapat menangkap dan mampu memahami materi yang dijelaskan pembelajar, akan tetapi saat pebelajar diberi kesempatan mengajukan pertanyaan, hanya sedikit sekali di antara mereka yang bertanya. Ketika pembelajar mengajukan pertanyaan, hanya ada satu-dua pebelajar yang bisa menjawab pertanyaan pembelajar dengan benar, itu pun hanyalah pebelajar yang tergolong pandai di kelas. Saat pembelajar memberikan soal-soal latihan, terdapat pebelajar yang bermalas-malasan, tampak kurang semangat belajar untuk mengerjakan soal latihan. Pada waktu hasil pekerjaan pebelajar dikumpulkan dan dikoreksi bersama secara silang antar pebelajar se kelas di bawah bimbingan pembelajar, ternyata ada banyak pebelajar yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal latihan tersebut, sehingga mereka memperoleh nilai yang rendah.

Penyebab kejenuhan dan kurangnya semangat belajar para pebelajar sekolah dasar ini dikarenakan pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran oleh pembelajar yang kurang tepat. Ternyata pembelajar lebih dominan menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan, serta cenderung menggunakan buku paket yang tersedia dan soal-soal latihan pada LKS. Dengan menerapkan strategi pembelajaran seperti itu, proses pembelajaran lebih berpusat pada pembelajar dan pebelajar hanyalah sebagai pendengar yang pasif.

Proses pelaksanaan pembelajaran mengharuskan terjadinya interaksi antara pembelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pebelajar, dan pebelajar dengan berbagai sumber belajar lainnya. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran, pebelajar seharusnya aktif belajar mengembangkan kreativitasnya untuk menemukan dan menguasai materi pelajaran serta terampil dalam menyelesaikan permasalahan. Pembelajar hendaknya mampu memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang dapat memotivasi pebelajar lebih aktif belajar untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam memahami konsep-konsep materi pelajaran dan membangun makna atau mengkonstruksi pengetahuan sendiri.

Untuk meningkatkan kompetensi guru, perlu dilakukan suatu sistem pengujian terhadap kompetensi guru. Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, beberapa daerah telah melakukan uji kompetensi guru, mereka melakukannya terutama untuk mengetahui kemampuan guru di daerahnya, untuk kenaikan pangkat dan jabatan, serta untuk mengangkat kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Kompetensi keguruan meliputi kompetensi kepribadian kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Dalam banyak analisis tentang kompetensi keguruan, aspek kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial umumnya disatukan.

Kompetensi profesional, artinya bahwa guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan, serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu menggunakannya dalam proses belajar-mengajar. Dalam kompetensi profesioanl, seorang guru dituntut mempunyai kemampuan dasar keguruan antara lain : guru dituntut menguasai bahan yang akan diajarkan, guru mampu mengelola program belajar-mengajar, guru mampu mengelola kelas dengan baik, guru mampu menggunakan media dan sumber pengajaran, guru menguasai landasan-landasan kependidikan, guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar, guru mampu menilai prestasi belajar siswa untuk kepentingan pengajaran, guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, guru mengenal dan mampu ikut menyelenggarakan administrasi sekolah, dan guru memahami prinsip-prinsip penelitian pendidikan dan mampu menafsirkan hasil-hasil penelitin pendidikan untuk kepentingan pengajaran.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul : ” Peningkatan Kemampuan Guru Di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur Dalam Menerapkan  Metode Pembelajaran Melalui Kegiatan Workshop.”

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Bagaimana upaya  meningkatkan kemampuan guru di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur dalam menerapkan  metode pembelajaran melalui kegiatan workshop?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan guru di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur dalam menerapkan  metode pembelajaran.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi  :

  1. Bagi guru

Diharapkan dapat menjadi motivasi guru dalam menerapkan  metode pembelajaran di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur.

  1. Bagi sekolah

Memberikan sumbangan pikiran dalam menyusun penelitian tindakan kelas, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah.

Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan ini ialah pendekatan kualitatif. Artinya, penelitian ini dilakukan karena ditemukan permasalahan kurangnya penggunaan metode sesuai dengan materi yang diajarkan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini ditindaklanjuti dengan cara menerapkan model pelatihan di SDK Balaweling Kecamatan Witihama kepada guru berupa penerapan workshop yang dilakukan oleh pengawas sekolah, kegiatan tersebut diamati kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali pada siklus-siklus berikutnya.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur

C. Waktu Penelitian : Bulan Februari 2018.

D. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di SDK Balaweling Kecamatan Witihama – Kabupaten Flores Timur, berjumlah 13 orang guru.

E. Prosedur Penelitian

  1. Siklus I

Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

a. Perencanaan

Kegitan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

  • Menghubungi sekolah yang menjadi lokasi workshop.
  • Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan workshop
  • Menyiapkan materi dalam melaksanakan workshop.
  • Merumuskan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan melalui kegiatan workshop.\
  • Merumuskan indikator keberhasilan penerapan workshop pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru mampu menerapkan metode pebelajaran.
  • Merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan. Langkah-langkah yang diambil peneliti dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Pada siklus pertama ini, pemaparan materi tentang kegiatan workshop, tujuan dilaksanakan workshop serta dampak dari pelaksanaan workshop terhadap peningkatan profesi guru.
  • Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / melakukan tindakan.
  • Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas.
  • Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan instrument berupa lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada guru, untuk mengetahui penilaian dari guru mengenai apa yang ditemukan di kelas dalam proses kegiatan belajar mengajar.
  • Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

  • Memaparkan materi dalam kegiatan workshop.
  • Membagi guru dalam kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang.
  • Guru diberi tugas untuk mengidentifikasi masalah yang ditemukan di kelas.
  • Merumuskan masalah yang ada di kelas.
  • Menuliskan tujuan yang akan dicapai terhadap masalah yang ditemukan di kelas.
  • Mencari refensi untuk kajian teori sesuai dengan masalah yang ditemukan di kelas.
  • Menulis metode penelitian sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemateri.
  • Menuliskan hasil penelitian dan pembahasan.
  • Menyimpulkan hasil penelitian dan memberikan saran.
  • Menuliskan hal-hal menyangkut penelitian seperti rencana pelaksanaan pembelajaran atau rpp, lembaran observasi guru dan lembaran observasi siswa.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Pengamatan oleh peneliti meliputi :

  • Persiapan dalam melakukan workshop.
  • Kemampuan menemukan masalah, merumuskan masalah serta kemampuan merumskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas.
  • Kemampuan untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahan serta menyimpulkan dan memberi saran.

c. Refleksi

Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Refleksi dilaksanakan bersama-sama pembimbing untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.

  1. Siklus II

Pelaksanaan pembelajaran siklus II meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Keempat tahapan tersebut  dijabarkan sebagai berikut :

a. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah:

  • Menyiapkan lokasi workshop.
  • Menghubungi sekolah yang menjadi contoh penelitian yang akan dilaksanakan ditiap kelas.
  • Menghubungi pembimbing untuk melaksanakan penelitian.
  • Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian.
  • Merumuskan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan melalui kegiatan workshop.
  • Merumuskan indikator keberhasilan penerapan workshop pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru penerapan metode pebelajaran.
  • Merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan. Langkah-langkah yang diambil peneliti dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Pada siklus kedua ini, pemaparan materi tentang kegiatan penelitian tindakan kelas tidak dilaksanakan lagi, guru diberi tugas dalam menyusun pelaksanaan penelitian tindakan kelas sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
  • Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / dalam melakukan tindakan.
  • Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang terjadi di kelas.
  • Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan instrument berupa lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada guru, untuk mengetahui penilaian dari guru mengenai apa yang ditemukan di kelas dalam proses kegiatan belajar mengajar.
  • Mengidenifikasi fasilitas yang diperlukan.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :

  • Guru dibagi dalam kelompok.masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang.
  • Guru diberi tugas untuk mengidentifikasi masalah yang ditemukan di kelas.
  • Merumuskan masalah yang ditemukan di kelas.
  • Menuliskan tujuan yang akan dicapai terhadap masalah yang ditemnukan di kelas.
  • Menulis metode penelitian sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemateri.
  • Menuliskan hasil penelitian dan pembahasan.
  • Menyimpulkan hasil penelitian dan memberikan saran.
  • Menuliskan hal-hal menyangkut penelitian seperti rencana pelaksanaan pembelajaran atau rpp, lembaran observasi guru dan lembaran observasi siswa.

c. Observasi/Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 13 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing.

Pengamatan oleh peneliti meliputi :

  • Persiapan dalam melakukan penelitian tindakan kelas.
  • Kemampuan menemukan masalah, merumuskan judul, merumuskan masalah serta kemampuan merumuskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas.
  • Kemampuan untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahan serta menyimpulkan dan memberi saran.

d.Refleksi

Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus kedua tersebut.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.

  1. Wawancara.

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data dari informan secara langsung. Dalam melakukan wawancara dipergunakan pedoman wawancara yang terbuka.

  1. Pengumpulan data

Teknik ini digunakan untuk mengumpul data sekunder melalui dokumen-dokumen tertulis yang diyakini integritasnya karena mengambil dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian. Pengambilan sumber yang bersifat sekunder ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan bersama pembimbing, data base sekolah, dan lain-lain.

  1. Observasi atau pengamatan

Observasi digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan pengumpulan dokumentasi, terutama dalam lingkup masalah penelitian, antara lain mengamati guru.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain adalah:

  1. Skala Penilaian
  2. Lembar Pengamatan

H. Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang  bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun penulisan penelitian tindakan kelas yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini.

I. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru mampu menyusun penelitrian tindakan kelas.

Pembahasan

Kegiatan workshop dalam melakukan pembelajaran di kelas terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Keempat tahapan tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Tahapan perencanaan siklus I meliputi merumusan masalah yang akan dicari solusinya. Dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang kurang disiplin dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Merumuskan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan. Dalam penelitian ini penulis mengambil rencana untuk melakukan tindakan workshop kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan pembelajaran. Merumusan indikator keberhasilan workshop dalam meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan pembelajaran pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru dalam melakukan pembelajaran kelas.

Merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan. Langkah-langkah yang diambil peneliti dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Mengidentifikasi warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/ menghadapi tantangan /melakukan tindakan. Peneliti melakukan identifikasi siapa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh penulis merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan serta wawancara kepada guru mengenai kemampuan guru dalam menyusun penelitian tindakan kelas. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan instrument berupa lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada guru, untuk mengetahui penilaian dari guru mengenai tingkat keberhasilan guru di kelas  dalam proses kegiatan belajar mengajar. Mengidenifikasi fasilitas yang diperlukan. Fasilitas atau alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : lembar pengamatan guru dan hasil penilaian guru.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : Pemaparan materi oleh pemateri. Mengidentifikasi masalah yang ada dikelas. Menemukan masalah yang ada di kelas dan mulai menulis masalah yang akan diteliti. Merumuskan masalah yang ditemukan di kelas. Merumuskan masalah yang akan dilakukan penelitian Menuliskan tujuan dan manfaat dilaksanakan pembelajaran kelas sesuai dengan masalah yang ditemukan. Melaksanakan tindakan dalam kelas. (Sekolah yang diambil contoh untuk melaksanakan tindakan). Menuliskan metode yang digunakan dalam penelitian. Melaksanakan pengamatan dalam penelitian Menulis hasil penelitian dan pembahasan. Menulis kesimpulan dan saran atas hasil yang dicapai dalam penelitian tindakan kelas.

Hasil observasi guru siklus I dalam melakukan pembelajaran di gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang siap dalam melakukan pembelajaran ada 6 orang guru dengan prosentase 46,15%. Jumlah guru yang mampu  menemukan masalah, merumuskan masalah serta kemampuan merumuskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas  ada 5 orang dengan prosentase 38,46%. Jumlah guru yang mampu untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahasan serta menyimpulkan dan memberi saran  ada 3 orang dengan prosentase 23,08%.

Melihat hasil yang diperoleh pada siklus I belum menunjukan hasil yang memuaskan. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85% dalm menyusun penelitian tindakan kelas. Ada tiga aspek penilaian belum menunjukkan hasil yang signifikan. Setelah melalui refleksi maka perlu adanya perbaikan di siklus II.

Tahapan perencanaan siklus II meliputi merumusan masalah yang akan dicari solusinya. Dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang belum bisa dalam melakukan pembelajaran kelas. Merumusan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan. Dalam penelitian ini peneliti mengambil rencana untuk melakukan tindakan workshop kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan pembelajaran di kelas. Merumusan indikator keberhasilan workshop dalam meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan pembelajaran kelas pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru dalam menyusun penenelitian tindakan kelas melalui keempat aspek penilaian yang diberikan.

Merumuskan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan. Langkah-langkah yang diambil peneliti dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Mengidentifikasi warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/ menghadapi tantangan /melakukan tindakan. Peneliti melakukan identifikasi siapa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan serta wawancara kepada guru mengenai kemampuan guru dalam dalam melakukan pembelajaran di kelas Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan instrument berupa lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada guru, untuk mengetahui penilaian dari guru mengenai tingkat keberhasilan guru di kelas  dalam proses kegiatan belajar mengajar. Mengidenifikasi fasilitas yang diperlukan. Fasilitas atau alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : lembar pengamatan guru dan hasil penilaian guru.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : Pemaparan materi oleh pemateri. Mengidentifikasi masalah yang ada dikelas. Menemukan masalah yang ada di kelas dan mulai menulis masalah yang akan diteliti. Merumuskan masalah yang ditemukan di kelas. Merumuskan masalah yang akan dilakukan penelitian Menuliskan tujuan dan manfaat dilaksanakan penelitian tindakan kelas sesuai dengan masalah yang ditemukan. Melaksanakan tindakan dalam kelas. (Sekolah yang diambil contoh untuk melaksanakan tindakan). Menuliskan metode yang digunakan dalam penelitian. Melaksanakan pengamatan dalam penelitian Menulis hasil penelitian dan pembahasan.

Sedangkan hasil observasi guru siklus II dalam menyusun penelitian tindakan kelas di SDK Balaweling gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang siap dalam melakukan pembelajaran kelas ada 13 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu  menemukan masalah, merumuskan masalah serta kemampuan merumskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas  ada 13 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yamng mampu untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahan serta menyimpulkan dan memberi saran  ada 13 orang dengan prosentase 100%.

Berdasarkan hasil yang diperoleh siklus I dan siklus II terlihat jelas bahwa workshop dalam melakukan pembelajaran di SDK Balaweling gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur dapat ditingkatkan.

 Kesimpulan

Hasil observasi guru siklus I dalam melakukan pembelajaran menunjukkan bahwa jumlah guru yang siap dalam melakukan pembelajaran ada 6 orang guru dengan prosentase 46,15%. Jumlah guru yang mampu  menemukan masalah, merumuskan masalah serta kemampuan merumuskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas  ada 5 orang dengan prosentase 38,46%. Jumlah guru yang mampu untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahasan serta menyimpulkan dan memberi saran  ada 3 orang dengan prosentase 23,08%

Data hasil observasi guru siklus II dalam melakukan pembelajaran di SDK Balaweling gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang siap dalam melakukan pembelajaran ada 13 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu  menemukan masalah, merumuskan masalah serta kemampuan merumskan tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan di kelas  ada 13 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yamng mampu untuk menyusun metode penelitian, hasil dan pembahan serta menyimpulkan dan memberi saran  ada 13 orang dengan prosentase 100%..

Berdasarkan analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa workshop efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dalam dalam melakukan pembelajaran kelas di gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur.

SARAN

Adanya pengaruh peningkatan kemampuan melakukan pembelajaran melalui kegiatan workshop, maka melalui kesempatan ini peneliti mengajukan beberapa saran :

  1. Semua Kepada Kepala Sekolah disarankan melakukan melakukan pembelajaran untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar di sekolah.
  2. Kepada semua guru dalam melaksanakan tugas untuk dapat meningkatkan kemampuan melakukan pembelajaran kelas sebagai bentuk peningkatan profesi guru.(*)

 

No comment for Peningkatan Kemampuan Guru Di SDK Balaweling Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur Dalam Menerapkan Metode Pembelajaran Melalui Kegiatan Workshop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.