Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Gereja Sebagai Persekutuan Dengan Menggunakan Metode Pemberian Tugas Terstruktur Di Kelas VI SDN Nelelamadiken Tahun Ajaran 2017/2018

Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Gereja Sebagai Persekutuan Dengan Menggunakan Metode Pemberian Tugas Terstruktur Di Kelas VI SDN Nelelamadiken Tahun Ajaran 2017/2018

(164 Views) May 11, 2018 3:12 pm | Published by | 2 Comments

Oleh: Maria Ema Serani, S.Ag

PENDAHULUAN

Berdasarkan pengalaman mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik di kelas VI SDN Nelelamadiken tentang Gereja sebagai Persekutuan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Jumlah siswa kelas VI SDN Nelelamadiken ada 22 siswa.  Siswa yang tuntas dalam pembelajaran ada 8 orang. Prosentase ketuntasan secara klasikal adalah 36,37%. Sedangkan siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran ada 14 orang. Prosentase ketidaktuntasan adalah 63,63%.

Hasil tersebut dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan guru tentang model pembelajaran, kurangnya kreatifitas guru dalam pembelajaran dan lebih banyak mengunakan metode ceramah sehingga siswa hanya menjadi pendengar dalam kegiatan pembelajaran. Melihat masalah tersebut diatas perlu diadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang dilakukan pada pembelajaran Pendidikan Agama Katolik materi Gereja Sebagai Persekutuan adalah menggunakan metode pemberian tugas terstruktur. Pembelajaran terstruktur, adalah bentuk pembelajaran sistematis. Tujuan pemberian tugas terstruktur adalah untuk menunjang pelaksanaan program intrakurikuler. Tujuan tersebut juga agar siswa dapat lebih menghayati bahan-bahan pelajaran yang telah dipelajarinya serta melatih siswa untuk melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.

Berdasakan uraian diatas maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Gereja Sebagai Persekutuan Dengan Menggunakan Metode Pemberian Tugas Terstruktur Di Kelas VI SDN Nelelamadiken Tahun Ajaran 2017/2018.” Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Nelelamadiken tentang Gereja sebagai Persekutuan melalui penggunaan metode pemberian tugas terstruktur?” Tujuan penelitian yang akan di capai adalah meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Nelelamadiken pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik tentang Gereja Sebagai Persekutuan melalui penggunaan metode pemberian tugas terstruktur. Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Nelelamadiken melalui penggunaan metode pemberian tugas terstruktur. Sebagai acuan untuk meningkatkan profesionalitas guru dan merangsang siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik  materi Gereja sebagai Persekutuan. Sebagai referensi bagi peneliti yang lain untuk melakukan penelitian selanjutnya.

METODE PENELITIAN

Tempat penelitian pada SDN Nelelamadiken – Desa Nelelamadike-Kecamatan Ile Boleng –  Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada semester dua, tahun ajaran 2017/2018 tepatnya pada bulan Februari 2018. Subyek penelitian adalah  siswa kelas VI  SDN Nelelamadiken yang berjumlah 22 orang siswa yang terdiri dari  9 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan dengan kemampuan yang berbeda. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus.

Siklus I; Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam 3 tahapan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan awal meliputi doa, orientasi apersepsi dan motivasi. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan oreintasi adalah mengecek kehadiran siswa. Kegiatan inti di bagi atas 5 fase. Masing-masing fase diuraikan sebagai berikut : Fase 1; Kegiatan yang dilaksanakan pada fase 1 adalah mendemontrasikan pengetahuan dengan rincian kegiatan sebagai berikut : Guru mengajak siswa untuk mendengarkan ceritera “Lidi-lidi yang menjadi sapu.” Siswa mendengarkan ceritera Pendalaman critera seca lisan. Siswa menjawab pertanyaan. Guru menyajikan ceritera dari teks Kitab Suci; 1 Kor; 12:12 – 27. Siswa mendengarkan ceritera teks Kitab Suci. Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Pendalaman ceritera Kitab Suci. Guru memberikan masukan seperlunya. Siswa mendengar dan mencatat masukan yang diberikan guru. Fase 2; Membimbing pelatihan tentang materi yang diperoleh yaitu guru bersama siswa mencari dan menggambar simbol gereja. Fase 3; Mencek pemahaman dan memberi umpan balik. Kegiatan yang dilaksanakan adalah membimbing, mengamati dan melakukan penilaian minat belajar anak lewat pekerjaan menggambar simbol gereja dan soal-soal evaluasi. Fase 4; Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penetapan. Kegiatan yang dilakukan adalah merangkum materi pembelajaran, memberikan evaluasi materi pembelajaran. Fase 5; Memberi penghargaan. Bersama anak memeriksa hasil pekerjaan dan memberi penilaian. Siswa mengoreksi hasil pekerjaan dan menerima penilaian yang diberikan guru.

Siklus II; Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam 3 tahapan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan awal meliputi doa, orientasi apersepsi dan motivasi. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan oreintasi adalah mengecek kehadiran siswa. Kegiatan inti di bagi atas 5 fase. Masing-masing fase diuraikan sebagai berikut : Fase 1; Kegiatan yang dilaksanakan pada fase 1 adalah mendemontrasikan pengetahuan dengan rincian kegiatan sebagai berikut : Guru mengajak siswa untuk mendengarkan ceritera “Lidi-lidi yang menjadi sapu.” Siswa mendengarkan ceritera. Pendalaman critera seca lisan. Siswa menjawab pertanyaan. Guru menyajikan ceritera dari teks Kitab Suci; 1 Kor; 12:12 – 27 . Siswa mendengarkan ceritera teks Kitab Suci. Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Pendalaman ceritera Kitab Suci. Guru memberikan masukan seperlunya. Siswa mendengar dan mencatat masukan yang diberikan guru. Fase 2; Membimbing pelatihan tentang materi yang diperoleh yaitu guru bersama siswa mencari dan menggambar simbol gereja. Fase 3; Mencek pemahaman dan memberi umpan balik. Kegiatan yang dilaksanakan adalah membimbing, mengamati dan melakukan penilaian minat belajar anak lewat pekerjaan menggambar simbol gereja dan soal-soal evaluasi. Fase 4; Memberi kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penetapan. Kegiatan yang dilakukan adalah merangkum materi pembelajaran, memberikan evaluasi materi pembelajaran. Fase 5; Memberi penghargaan. Bersama anak memeriksa hasil pekerjaan dan memberi penilaian. Siswa mengoreksi hasil pekerjaan dan menerima penilaian yang diberikan guru. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: Metode tes dan metode observasi. Indikator Keberhasilan; data hasil tes belajar dianalisis dengan menggunakan acuan tingkat pemahaman atau penguasaan siswa. Tingkat pemahaman siswa ditentukan dengan menggunakan kriteria penilaian sebagai berikut: 80   – 100  = Amat baik (A), 70   – 79 = Baik (B), 60  –   69 =  Cukup (C), 50  – 59 = Kurang (C). Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar apabila telah memiliki daya serap 60 % ke atas. Sedangkan ketuntasan klasikal tercapai apabila paling sedikit 85 % siswa di kelas tersebut telah tuntas belajar.

PEMBAHASAN

Dalam pembelajaran siklus I jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran ada 13 orang dengan prosentase keaktifan sebesar 59,09%, siswa yang kurang aktif ada 7 orang dengan prosentase sebesar 31,82% dan siswa yang tidak aktif ada 2 orang dengan prosentase sebesar 9,09%.

Sedangkan hasil observasi guru siklus I menunjukkan jumlah nilai yang diperoleh dalam observasi guru siklus I adalah 14,39, dengan rata-rata skor adalah 3,59. Dengan melihat hasil yang diperoleh guru maka guru dikatakan baik dalam melaksanakan pembelajaran siklus I. Jumlah nilai siswa siklus I adalah 136, rata-rata kelas 6,18. Prosentase ketuntasan secara klasikal 50%.

Melihat hasil yang ada pada siklus I maka peneliti dan guru pengamat melakukan refleksi. Hasil yang diperoleh dari refleksi adalah guru belum metode sesuai dengan materi pembelajaran sehingga siswa kurang mengerti tentang materi yang disampaikan dalam pembelajaran. Akibat dari pembelajaran yang tidak menggunakan metode yang sesuai dengan materi pembelajaran maka hasil yang diperoleh siswa dalam pembelajaran siklus I belum menunjukkan hasil yang memuaskan sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Hasil observasi siswa siklus II menunjukkan menunjukkan bahwa semua siswa aktif dalam pembelajaran dengan prosentase 100%. Dan hasil observasi guru menunjukkan bahwa jumlah nilai yang diperoleh dalam observasi guru siklus II adalah 15,90, dengan rata-rata skor adalah 3,97. Dengan melihat hasil yang diperoleh guru maka guru dikatakan baik dalam melaksanakan pembelajaran siklus II.

Pembelajaran siklus II diakhiri dengan pemberian post tes. Hasil post menunjukkan bahwa semua siswa tuntas dalam pembelajaran dengan prosentase 100%. Jumlah nilai siklus II adalah 173 dengan rata-rata kelas 7,86.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh siswa siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan maka disimpulkan bahwa penggunaan metode pemberian tugas terstrukur dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Nelelamadiken tentang Gereja sebagai Persekutuan.

SARAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh siklus I dan siklus II maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebaiknya guru menggunakan metode pemberian tugas terstruktur dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik tentang Gereja sebagai Persekutuan dan merekomodasikan bahwa metode pemberian tugas terstruktur sebagai metode yang mampu mengoptimalkan pembelajaran di sekolah dasar pada mata pelajaran pendidikan Agama Katolik tentang Gereja sebagai Persekutuan.(*)

2 Comments for Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tentang Gereja Sebagai Persekutuan Dengan Menggunakan Metode Pemberian Tugas Terstruktur Di Kelas VI SDN Nelelamadiken Tahun Ajaran 2017/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.