Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Pengaduan Leluhur Mengejar Bayang-Bayang Kunjungan di Desa Nelayan Lamalera

Pengaduan Leluhur Mengejar Bayang-Bayang Kunjungan di Desa Nelayan Lamalera

(1366 Views) November 5, 2016 4:06 am | Published by | No comment

 

Lamalera. Nama kampung nelayan penangkap ikan paus, yang belakangan ramai diperbincangkan. Ini berkenaan dengan seminar internasional tentang budaya penangkapan ikan paus tersebut. Seorang putra Lamalera, Pieter Bataona,SVD pernah melakukan studi sosiologi dengan fokus penelitian “Sosial budaya Nelayan Lamalera dari Pengalaman Penangkapan Kotekelema orang Lamalera.” Koordinator JPIC SVD Timor dan Anggota LEADHAM International, yang kini tinggal di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara ini, membuat catatan kritis tentang kampung halamannya, yang disajikan secara lugas dan puitis. Berikut catatannya:

Malam turun, di ujung 31 Oktober 2016. Selimut pekat malam membentang. Perlahan mengatup rapat hari yang cerah. Aku hanya tercenung dalam sebuah permenungan usil. Mencoba menembus pekatnya malam. Menggapai remah-remah cerita dari penantian yang panjang para nelayan tradisional di cekung bibir pantai Lamalera.

Sebuah penantian untuk memaknai hidup mereka sendiri. Dibalut doa penuh harap para janda, yatim piatu dan kaumku yang sudah usur termakan usia, sambil menakar nasib hidup mereka yang terwaris dari para leluhur.

Dalam bimbang, mereka bergumam, “Entah keberuntungan dari titisan dewi Fortuna pada episode kunjungan ini, ataukah kemalangan meremas dada sendiri pada sebuah kunjungan para dewa-dewi dari planet yang lain?”

Dewa-dewi ini bukan dari singgahsana para leluhur atau kediaman nenek moyang para nelayan ini.

Malam masih gelap. Ada bisikan warta tentang bulan baru yang masih terlena dalam selimut rahim ibu pertiwi. Besok dia akan tampil dalam peredarannya dengan sebuah senyum bulan sabit yang ceriah.

Karenanya, malam ini hanya dihias gemerlap bintang gemintang yang setia menentukan sebuah arah, memberi harap pada kelana bahari anak-anak nelayan untuk berlabuh ke tepian yang didamba. Sebuah pelabuhan yang terpatri harapan bisu.

Dari sebuah ilmu perbintangan leluhur di taman kuliah Universitas Bahari ada ajaran tentang gugus Galaxi bintang-bintang yang membentuk sebuah salib dengan kakinya terjulur ke arah selatan. Nama yang terpatri di gugus langit malam adalah bintang Salib.

Bintang Salib adalah Bintang keniscayaan yang menuntun arah para nelayan memposisikan haluan biduk mereka mengarungi malam-malam perjuangan. Dan, keniscayaan membaca tanda untuk hari baru dan musim yang berjalan. Sebuah keniscayaan untuk membaca goresan-goresan dari guratan hati dan impian yang masih tertinggal di atas pantai Lamalera sebelum dihapus,  dihempas gelombang pasang naik.

Keniscayaan dari gelagat para dewa-dewi yang turun dari kapal putih untuk sekejap saja mematrikan tapak-tapak sepatu mereka pada lekuk pantai Nelayan Lamalera. Keniscayaan yang terpantul pada wajah-wajah asing yang sekilas menggeliat, mengintai pada sasaran tak pasti. Lalu, terus berpaling wajah dari aroma amis jemuran ikan anak-anak desa nelayan ini. Berpaling dan terus berputar haluan menuju ufuk barat mengejar Surya – Lera yang sedang masuk ke peraduanya di ujung Lama, lali Suba. Beradu di pinggang  piring leluhur, kampungku tercinta. Lamalera.

Malam pun semakin larut. Hembusan angin malam tak terasa karena angan masih berputar-putar seperti peronda malam, melingkar pada drama kunjungan petinggi-petinggi itu di bibir pantai cekung Lamalera.

Sebuah adegan singkat yang dipentaskan mengisi babak kunjungan itu bagai sebuah mimpi saja. Entah, sedang bermimpikah diriku ini di perpisahan dua malam? Ataukah mimpi-mimpi para dewa dewi itu tentang diri mereka yang sekejap jatuh di bibir pantai diiring gemuruh sorak sorai, dan riuh tepuk tangan, lalu segera berlalu mengejar Surya yang sedang membenamkan diri?

Mimpi mereka tentang sebuah seminar. Sebuah diskusi misterius tentang penangkapan koteklema.  Misteri tentang laut Sawu nan biru yang membentang menggapai kaki langit. Dan, misteri cetacean kotekelema yang berasmara cinta – bulan madu di permadani biru laut Sawu. Misteri hidup di darat yang dikandung dalam jiwa generasi penerus Lamalera. Juga, misteri tentang ombak yang bergulung berkejar-kejaran antara Sarabia dan Baofutung hingga keabadian.

Pater Piter Bataona, SVD (baju merah) dalam sebuah kesempatan bersama para nelayan dan keluarganya di Pantai Lamalera.

Mimpi mereka tentang sebuah seminar yang lebih ilmiah, tetapi harus jauh dari pakar-pakar penangkap kotekelema. Jauh dari para ahli kotekelema yang arif. Bersembunyi di gedung-gedung mewah berhias dekorasi palsu. Mimpi mereka untuk segera menghindar dari aula – ruang bibir pantai Lamalera. Menghindar dari seminar yang sarat makna kearifan lokal di Pantai Lamalera untuk meraih sukses dari sebuah presentasi yang boleh di price “cum laud” – tapi kosong tanpa eidetic insight tanpa makna.

Wahai para dewa-dewa planet yang asing. Ketahuilah di bibir pantai ini para nelayan Lamalera mengadakan seminar sesungguhnya tentang Olanue (melaut). Di bibir pantai ini yang penuh kenangan tentang leluhur, para nelayan kami bermufakat. Bersepakat. Lalu dengan siapakah seminar di Lewoleba itu? Untuk siapakah semua diskusi yang digiring ke balik dinding-dinding bangunan itu?

Langit pun tahu. Bumi pun tahu. Bahwa Lewoleba itu adalah sebuah organ manusia tanpa kepala (odang emu-kote take) supaya kalian bebas menggiring seminar dan diskusi sesuai premis yang sudah ditetapkan tanpa verifikasi dan validasi sang pakar sejati, penangkap kotekelema. Diskusi tanpa kepala, tanpa otak, sesungguhnya sambil mengabaikan penutur-penutur ahli yang sarat kearifan lokal dan tradisional.

Wahai para dewa dewi, langit pun tahu dan bumi ini pun tahu. Bahwa kalian berdiskusi tentang penangkapan kotekelema tapi jauh dari pantai kami. Bukan di aula kami. Menghindari anak cucu kami yang pakar dan arif.

Langit pun tahu dan bumi tahu. Di pantai ini, dewa dewi boleh duduk melantai, merasakan wibawanya para nelayan, tapi kalian masih bermimpi untuk bersembunyi di balik tembok. Duduk di kursi berhias dengan anggaran tentunya. Bermimpi tentang uang duduknya serta uang tidur di penginapan Lewoleba.

Pejabat Lembata, stop tipu-tipu rakyat. Stop tipu dewa dewi planet lain itu, yang bisa tidur dan bermimpi indah ala nelayan Lamalera di pantai Lamalera sambil meraih bintang gemintang cita dan impian mereka membangun negeri ini. Hai pejabat Lewoleba, stop tipu-tipu menggunakan kapal putih sambil mengelak realita jalan yang buruk dari konsep pembangunan, dan malam gulita yang membentang antara Lamalera-Lewoleba.

Wahai pejabat Lewoleba, jangan lihai untuk merenggut dewa-dewi itu yang bisa langgeng bercengkrama dengan kaumku di pantai Lamalera. Pengaduan bisu tengah malam para leluhurku untukmu pejabat Lembata.

“My critic are men and education, but i can not put myself in your shoes. And as i have never seen anything change since i was born, i try to say as best i can what i saw and felt when i was at work.” (*)

Topik:
News:

No comment for Pengaduan Leluhur Mengejar Bayang-Bayang Kunjungan di Desa Nelayan Lamalera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.