Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Pemkab Lembata Tidak Taat Putusan Pengadilan, Obyek Sengketa Dilelang Ulang Saat Masih Sengketa

Pemkab Lembata Tidak Taat Putusan Pengadilan, Obyek Sengketa Dilelang Ulang Saat Masih Sengketa

(1026 Views) July 10, 2017 1:01 pm | Published by | No comment

Markus Daton, saksi yang diajukan penggugat

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Sidang lanjutan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) antara PT Sinar Lembata dan Pemkab Lembata menghadirkan dua saksi dari penggugat. Yakni, Silvester Singa Wutun dan Markus Daton.

Hal itu disampaikan Akhmad Bumi, SH selaku Kuasa Hukum PT Sinar Lembata kepada aksiterkini.com, Senin (10/7/2017).

Dalam persidangan, saksi Markus Daton menjelaskan bahwa tanaman bambu dan jati sudah dipotong karena ada pekerjaan jalan di wilayah itu. Masyarakat Lebatukan di sekitar lokasi proyek sudah senang karena jalan masuk, tapi tahu-tahu pekerjaan atas proyek itu tidak dikerjakan.

“Akibatnya, kemiri masyarakat di desa Lerahinga dan sekitar dan lokasinya di atas gunung tidak bisa diangkut. Bagaimana bisa angkut, mobil tidak ada. Mobil ada, tapi jalan tidak bisa dilewati kendaraan. Saya ini orang desa dan tinggal di desa itu. Jadi kenyataan tersebut saya tahu dan rasakan langsung,” kata Markus Daton dalam persidangan, seperti ditirukan Akhmad Bumi, SH.

Markus Daton mengaku mengetahui adanya pekerjaan jalan itu dari pemberitaan media. Ya, “Proyek itu saya baca di koran bahwa PT Sinar Lembata menang. Lalu dibatalkan Dinas PU terus digugat di TUN Kupang dan PT Sinar Lembata menang dan putusan sudah inkrach. Tapi proyek itu tidak dikerjakan PT Sinar Lembata tapi PT Bragas Cipta Construksi,” ujarnya.

Lebih jauh, Markus Daton menguraikan, “Saya dengar dari Hamdan, yang selalu dengan saya. Hamdan sampaikan bahwa yang kerja proyek tersebut adalah PT Bragas Cipta Konstruksi, tapi proyek itu tidak selesai dikerjakan.”

Selain Markus Daton, pengguhat juga menghadirkan Silvester Wutun sebagai saksi dalam persidangan. Wutun menjelaskan, pada bulan Agustus 2015 obyek tersebut sedang diperkarakan di tingkat banding Surabaya.

Banding di Surabaya itu diajukan oleh Pemkab Lembata selaku Pembanding (dahulu Tergugat), tapi di saat bersamaan di bulan Agustus 2015 juga, proyek yang menjadi obyek sengketa tersebut dilelang ulang dan dimenangkan oleh PT Bragas Cipta Construksi.

“Jadi mereka lelang ulang saat obyek itu masih disengketakan di Banding PT TUN Surabaya,” jelas Silvester Wutun, seperti disampaikan Akhmad Bumi.

Saat ditanya, apakah Pemkab Lembata tidak memberikan pekerjaan kepada PT Sinar Lembata sesuai perintah Pengadilan TUN, apa karena proyek tersebut sudah dilelang dan dinenangkan PT Bragas Cipta Construksi atau karena ada alasan lain? Silvester Wutun menjelaskan bahwa proyek tersebut sudah dilelang ulang kepada PT Bragas Citra Construksi saat obyek tersebut masih dalam sengketa ditingkat banding.

Apakah PT Sinar Lembata dirugikan ketika sudah dinyatakan menang kemudian dibatalkan, PT Sinar Lembata gugat di Pengadilan TUN, putusan sudah inkrach yang dimenangkan PT Sinar Lembata tapi tidak dijalankan perintah Pengadilan tersebut oleh Tergugat?

Silvester Wutun mengiyakan. “Iya, itu merugikan PT Sinar Lembata. Karena saat dinyatakan PT Sinar Lembata sebagai pemenang, pekerjaan persiapan sudah dijalankan. Seperti produksi batu di quari milik PT Sinar Lembata, juga datangkan alat berat, dum truck dan lain-lain. Keuntungan fee over head 15% sudah dalam tangan. Itu rill, tapi itu lepas saat dinyatakan batal oleh tergugat,” urai Bumi menirukan Wutun.

Pemecahan batu itu ada tenaga kerja, dibutuhkan bahan bakar, alat berat dan mobil dum truck untuk mengangkut material dari lokasi batu ke tempat produksi. Semuanya itu berkonsekuensi pada biaya. Dan biaya itu sudah dihitung keuntungannya dalam dokumen penawaran. Ada penghematan biaya kerena punya alat berat, kendaraan dum truck dan quari tempat produksi batu.

“Perhitungan kerugian semula berubah jadi kerugian. Kerugian itu ada dua yakni biaya dan rugi. Biaya mencakup seluruh biaya yang sudah dikeluarkan dan rugi adalah perhitungan keuntungan yang sudah dihitung sebelumnya. Karena proyek tidak berjalan maka keutungan yang sudah dihitung tersebut berubah jadi kerugian,” terang Bumi.

Batu pecah sudah bertumpukan di area quari dan itu untuk pekerjaan proyek di Hadakewa. Hal itu dijelaskan Kalis Kolin kepada Silvester Wutun waktu itu di lokasi quari. Tapi karena batal proyek, maka keutungan tersebut berubah menjadi kerugian dan kerugian tersebut rill sifatnya. “Produksi batu untuk proyek tersebut masih ada di lokasi, belum diuangkan,” jelas Akhmad Bumi, SH.

Sidang akan dilanjutkan pada hari Jumad (18/7/2017). Masih dengan agenda yang sama, mendengar keterangan saksi lanjutan dari penggugat. (at01)

No comment for Pemkab Lembata Tidak Taat Putusan Pengadilan, Obyek Sengketa Dilelang Ulang Saat Masih Sengketa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.