Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Pelantikan Kades Lewoeleng Tergantung Bupati Sunur

Pelantikan Kades Lewoeleng Tergantung Bupati Sunur

(1205 Views) April 10, 2016 8:51 am | Published by | 1 Comment

 

Kades Lewoeleng2Teka-teki soal siapa yang paling berperan dalam proses pelantikan kepala desa terpilih Desa Lewoeleng, Markus Corsini Raring akhirnya terkuak jua. Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Drs. Petrus Toda Atawolo, MSi menyebut, waktu pelaksanaan pelantikan sangat tergantung pada sikap Bupati Eliaser Yentji Sunur, ST. Lah koq?

Kendati terpilih secara meyakinkan dengan mengantongi 212 suara dari 355 pemilih di Desa Lewoeleng pada tanggal 14 Desember 2015 silam, Markus Corsini Raring belum jua dilantik sampai saat ini. Dia menyingkirkan dua pesaingnya, yang masing-masing hanya memperoleh 54 suara dan 84 suara. Lima suara dinyatakan terbakar.

Ikhwal soalnya, berkaitan dengan dugaan ijazah palsu yang dipakai Corsini Raring ketika mendaftarkan diri pada panitia pemilihan kepala desa Lewoeleng tanggal 25 November 2015 silam. Ketika itu, Raring menyertakan ijazah SMK Yapenrays Maumere –dulu bernama SPM/Sekolah Menengah Pelayaran. Dua hari setelah mendaftarkan diri, panitia memanggilnya. Dia diminta untuk menyertakan juga surat keterangan dari pastor paroki Santu Wilhelmus Lodoblolong terkait jabatannya sebagai ketua dewan stasi Santu Petrus Lewoeleng. “Ini tidak menjadi tuntutan aturan, tetapi saya penuhi berdasarkan permintaan panitia,” ungkap Corsini Raring.

Tak cuma dari paroki. Panitia Pilkades juga memintanya untuk mengajukan surat keterangan dari Credit Union (CU) Sinar Saron dan menunjukkan ijazah asli SMK Yapenrays. Raring menjelaskan bahwa surat keterangan dari Sinar Saron tidak bisa diperoleh karena ia bukan karyawan/staf upahan Sinar Saron. Sedangkan, ijazah asli SMK Yanpenrays diperlihatkan kepada panitia. Pun, surat keterangan yang menerangkan dirinya adalah alumnus SMK Yapenrays Maumere.

Celakanya, tanggal 29 Desember 2015, panitia malah mengumumkan hasil verifikasi kepada warga desa bahwa dirinya mengantongi ijazah SLTA yang diragukan keabsahannya. Kontan saja, Raring kecewa berat. Dia menegaskan bahwa dirinya mengantongi ijazah yang sah, karena dikeluarkan oleh SMK Yapenrays Maumere. “Kalau tidak sah, maka saya adalah orang yang paling dirugikan,” tegas Raring, yang sudah menuntaskan studi sejak tahun 1998 silam.

Buntutnya, dirinya akhirnya ditetapkan menjadi salah satu calon dan berhasil mendulang suara mayoritas sekaligus memenangkan Pilkades Lewoleng. Sayangnya, masalah ijazah tidak segera kelar. Dia harus bolak-balik Maumere untuk mengikuti pertemuan dengan Dinas PPO Sikka. Apalagi, panitia pilkades serentak tingkat kabupaten pun mengutus tiga orang untuk mengklarifikasi ijazah. Sebab, Raring tamat tahun 1998, tapi diberi ijazah tahun 2014. Dia akhirnya mendapatkan ijazah baru dengan terbitkan keputusan sekolah yang menarik ijazah yang dikeluarkan pertama dan menggantinya dengan ijazah baru sesuai tahun tamat sekolah, 1998.

Pada masa pengaduan masyarakat terkait Pilkades, ada juga yang mempersoalkan masalah ijazah ini. Namun panitia kabupaten merekomendasikan agar Raring tetap dilantik. Sebab, persyaratan minimal untuk calon kepala desa adalah ijazah SMP. Sehingga, sekalipun ijazah SLTA bermasalah, tidak membatalkan proses yang sudah berjalan.

Alhasil, Raring pun ikut proses pengukuran pakaian resmi pada pejahit Selebes pada tanggal 19 Desember 2015 bersama kades terpilih lainnya. Pun, ia sudah mengikuti gladi resik pada tanggal 27 Desember 2015. Tapi, tanggal 26 Desember 2015 malam, ia menerima surat panggilan dari Polres Lembata sebagai saksi dalam kasus dugaan pemalsuan ijazah untuk menghadap pada hari Minggu, 27 Desember 2015.

Raring menyurati Reserse Polres Lembata yang menyatakan dirinya belum bisa menghadap. Sehingga hari Minggu sore ia mengikuti gladik resik bersama 57 kades terpilih lainnya. Apalagi, sebelum gladik, dia sudah mendapat surat undangan pelantikan sebagai Kades Lewoeleng.

Aneh bin ajaib. Tengah malam sekitar pukul 23.30 Wita, Raring menerima lagi surat dari Pemkab Lembata. Surat ini tidak dibuka. Dia tetap mengikuti tahapan menuju pelantikan keesokan harinya. Maka, pada tanggal 28 Desember 2015, dia berseragam Kepala Desa yang baru dijahit,  bersama keluarga datang ke kantor bupati untuk mengikuti pelantikan. Tapi, rombongan mereka dicegat oleh petugas Polisi Pamongpraja (Pol PP). Kata mereka, Kades Lewoeleng tidak ada dalam daftar nama Kades terpilih yang akan dilantik Bupati Sunur. Maka, pulangnya rombongan kades terpilih Lewoeleng dengan tenang. “Kami tidak lawan atau bikin keributan. Kami pulang ke rumah orang tua saya di Kota Baru,” ungkapnya, lirih. Terus?

Proses hukum di Polres Lembata masih berlanjut. Raring bahkan melancarkan serangan balik. Dia melaporkan balik panitia Pilkades Lewoeleng yang telah melaporkan dirinya menggunakan ijazah palsu. Sayangnya, kasusnya pun masih belum jelas hingga hari ini. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) maupun pihak-pihak yang terkait dengan penundaan pelantikan kades terpilih Lewoeleng seperti enggan buka suara soal masalah ini. Sementara situasi di desa Lewoeleng sendiri penuh dengan curiga mencurigai. Kondisi sosial masyarakat setempat sudah tidak seperti sediakala yang rukun dan bersahabat. Kubu-kubuan sangat kentara terlihat.

Sekda Atawolo, ketika ditanya soal kemelut di kampung halamannya ini, menuturkan, “Penundaan pelantikan itu adalah kewenangan dari pejabat yang berwenang menetapkan keputusan, yakni kepala daerah/Bupati.”

Sebagai bawahan, dia mengaku siap menjalankan keputusan pimpinan. Ya, “Karena dia (bupati-Red) yang memutuskan untuk menunda maka semua yang di bawah harus mentaati. Dilantik karena SK. SK beliau belum tanda tangan. Kalau dia belum tanda tangan maka belum bisa dilantik,” ungkapnya.

“Jadi masih terus menggantung?” desak Mingguan Aksi. “Keputusan untuk dilantik itu tergantung beliau (bupati-Red). Karena dia merupakan pejabat yang menurut undang-undang berhak menetapkan keputusan pengangkatan kepala desa. Kapan keputusan itu dilaksanakan ya tergantung beliau. Kita tidak punya wewenang untuk memutuskan dan menetapkan,” tandasnya. Lalu?

Kita tentu berharap agar masalah ini segera berakhir. Dugaan ijazah palsu benar-benar menyita energi publik Lembata. Karena masalah dugaan ini bukan cuma dialami Kades terpilih, bupati yang sedang memimpin pun diterpa dugaan ijazah palsu. Oh! Lembata! (fredy wahon/yosy kares)

Topik:
News:

1 Comment for Pelantikan Kades Lewoeleng Tergantung Bupati Sunur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.