Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Pau Lewu, Sekampung Menangkap Ikan Untuk Menolak Bala

Pau Lewu, Sekampung Menangkap Ikan Untuk Menolak Bala

(276 Views) December 10, 2017 5:13 am | Published by | No comment

Pasang surut cukup jauh saat ini. Musim berkarang (meting), orang Lembata menyebutnya. Seperti pagi, Sabtu (9/12/2017) di pantai sepanjang perkampungan Waipukang hingga Riangbao, Ile Ape. Air laut surut jauh dari bibir pantai. Ini saat yang tepat, dalam hitungan para pemangku adat untuk melakukan ritual Pau Lewu atau memberi makan seluruh warga kampung dari hasil laut.

Pau Lewu diawali ritual yang dilakukan pada sore sebelumnya yang disebut Tunu Muko Manu (bakar pisang dan ayam). Saat matahari tenggelam dan hari mulai gelap, para kepala suku yang jumlahnya sekitr 20 orang berkumpul di pantai melakukan ritual ini. Ada sirih pinang, tuak dan tembakau, selain pisang dan ayam. Mereka mengalunkan permintaan-permintaan dalam bahasa sastra setempat hingga memasang pukat dari batas Waipukang hingga Riangbao.

Ritual ini sebagai persiapan menggelar Pau Lewu. “Kami harus mempersiapkan segala sesuatu untuk Pau Lewu di keesokan harinya. Termasuk memohon agar semuanya berjalan lancar dan masyarakat mendapatkan hasil laut yang cukup,” ujar salah seorang pemangku adat, bapak Gabriel Lamatapo (65). Beberapa ‘pantangan’ saat Pau Lewu juga disampaikan. Misalnya, saat masuk daerah penangkapan tidak boleh dari tengah tapi harus masuk dari pinggir batas akhir pemasangan pukat. Menangkap ikan juga hanya dilakukan dalam daerah batas pukat, tidak boleh melewati batas. Makian dan kata-kata kasar tidak boleh dilontarkan.

Pau Lewu pun dimulai. Warga Kolontobo dan sekitarnya memasuki area dari pinggir batas pukat. Berjejer rapi seperti antrian panjang di batas pemasangan pukat. Belum dimulai jika seekor ikan belum terlihat masuk perangkap pukat. Saat seekor ikan masuk jaring, teriakan akan terdengar: Masuk, masuk saling bersahutan menandai dimulainya menangkap ikan dan hasil laut lainnya. Siapapun boleh ikut. Siapapun boleh menangkap sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan. Ini dilakukan selama air laut surut di hari itu.

“Hasil tangkapan mereka bawa pulang ke rumahnya masing-masing sebagai rejeki mereka hari itu. Ini yang disebut  Pau Lewu,  kasih makan seluruh warga kampung,” ujar Bapak Gabriel. Tugas mereka sebagai pemangku adat selesai saat air pasang dan mereka menarik kembali pukat yang dipasang malam sebelumnya.

Pau Lewu, kata Bapak Gabriel merupakan lanjutan dari Pesta Kacang di Kampung Lama, Lewohala. Sebelumnya ada ritual yang sama untuk hasil dari pegunungan yakni berburu binatang. “Pau Lewu tahun ini sudah dilakukan Desa Muruona, Waipukang dan Riangbao lalu kami di Ohe Kolontobo hari ini,” ujarnya.

Ritual ini harus dilakukan, kata Bapak Gabriel lagi. Sebab jika tidak, tak ada rejeki bagi masing-masing warga sekampung. Lebih mengerikan adalah kambing, ternak piaraan unggulan masyarakat Ile Ape  akan menjadi korban mati dengan leher tersayat karena gigitan anjing liar. “Peristiwa matinya ternak kambing piaraan warga adalah bencana bagi kami dan ini tak boleh terjadi.”

Pau Lewu, sekampung menangkap ikan, memberi makan sekampung. Pau Lewu itu, menolak bala! (fince bataona)

No comment for Pau Lewu, Sekampung Menangkap Ikan Untuk Menolak Bala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *