Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Panti Eugiene Smitz Lewoleba Butuh Sentuhan Semua Pihak

Panti Eugiene Smitz Lewoleba Butuh Sentuhan Semua Pihak

(846 Views) July 10, 2016 3:00 pm | Published by | No comment
eugene 2

Abdi Keraf tengah berbincang dengan anak asuh Panti Eugene Smith.

LEWOLEBA, aksiterkinicom – Psikolog Universitas Cendana (Undana) Kupang, Marcelino Abdi Keraf, S.Psi. M.Si. M.Psi mengingatkan bahwa anak panti asuhan adalah anak-anak yang perlu mendapat perhatian khusus, baik dari lingkungan, orang dewasa, guru juga pemerintah. Sama seperti anak lainya, anak panti pun memiliki hak hidup, hak untuk tumbuh kembang, dan hak untuk mendapat pendidikan yang layak. Semua pihak diharapkan bisa memperhatikan 23 anak asuhan pada panti Eugine Smitz SVD.

Marcelino Abdi Keraf menyampaikan hal ini saat bersama keluarga besarnya berkunjung ke Panti Asuhan Eugiene Smitz, Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur, Minggu (10/6). Dikatakan, semua anak tentu menginginkan agar lahir dan tumbuh dalam belaian kasih sayang orang tua. Namun perlakuan semacam itu tentu tidak dihadapi anak-anak panti asuhan yang rata-rata sejak lahir sudah mendapat penolakan dari orang tua, atau karena kehadiran mereka tidak diharapkan sehingga sudah dikucilkan sejak lahir.

“Anak-anak ini berada dalam situasi khusus sehingga membutuhkan perlakuan khusus. Sama seperti anak lainya, anak-anak panti juga punya hak hidup, hak tumbuh kembang dan hak untuk mendapat pendidikan layak. Semua orang dewasa harus memenuhi syarat bagi anak untuk mendapatkan hak hidup, di beri makan dengan gizi yang cukup, perehatian, juga cinta kasih. Lingkungan pun harus disiapkan atau di desain sedemikian rupa supaya anak mengalami tumbuh kembang dari vase anak ke remaja secara normal, demikian juga dengan hak untuk pendidikan. Saya sempat diskusi dengan bebepara anak disini dan mereka bilang mereka sempat mendapat perlakuan diskriminasi dari guru, mereka di kata-katai bahwa anak panti, anak tanpa orang tua dan macam-macam. Terhadap mereka, ketika di sekolah guru harus bisa mengambil peran sebagai orang tua dari mereka, agar anak-anak ini tidak kehilangan perhatian, cinta dan kasih sayang,” kata dia.

Seperti disaksikan, dalam kunjungan itu, Abdi membawa serta orang tua, saudara kandung dan istri dan tiga orang buah hatinya. Abdi terlihat akrab bercengkrama dengan 23 anak asuhan panti Eugine Smitz SVD.

Putra ketiga dari mantan Penjabat Bupati Lembata Petrus Boliona Keraf kepada aksiterkini.com mengaku mengenal panti asuhan Eugine kala hadir mendampingi ayahnya dalam misa perayaan pesta 50 tahun Imamat salah satu pengasuh panti asuhan Eugiene, Bruder Damianus Wathun, SVD yang diselenggarakan persis di halaman belakang panti asuhan.  Informasi yang dia peroleh tentang panti asuhan itu, membuat dirinya merasa terpanggil dan mengajak serta seluruh keluarga besarnya untuk datang berkunjung.

Menyaksikan kondisi bangunan yang sempit dengan perabot seadanya namun mampu menampung 23 anak dari usia balita hingga remaja itu, bagi abdi merupakan sebuah kondisi miris. Apalagi panti yang tumbuh dalam kondisi keterbatasan itu, berada persis di jantung kota kabupaten lembata. Menurutnya, kondisi demikian selayaknya mendapat dukungan dan bantuan dari semua pihak terutama pemerintah daerah.

“Satu situasi yang sangat miris. Banyangkan saja, di tengah kita eforia menghadapi Pilkada dimana-mana orang bicara soal calon Bupati, calon Wakil Bupati, orang bicara tentang perkembangan kota, namun satu peristiwa yang saya saksikan hari ini bahwa bagaimana anak-anak panti hidup dengan satu situasi yang sangat terbatas, di tengah kota yang kita anggap sudah menjadi kabupaten selama 15 tahun ini, sangat miris memang. Jadi saya ajak semua kita untuk bertanggungjawab member perhatian kepada anak-anak dip anti ini terutama pemerintah. Karena bagaimana sekalipun, anak-anak disini adalah generasi bangsa, penerus dan pewaris lembata,” tandasnya.

Minim Perhatian

Pengasuh panti asuhan Regina Sura pada kesempatan yang sama menjelaskan, sejak berdiri 13 tahun silam, seluruh biaya kehidupan anak asuhnya semata-mata mengandalkan penghasilan yang dia peroleh dari hasil menjual sayur dan kue ke pasar. “Rumah panti dibangun almahrum Pater Eugine Smitz, SVD,” jelasnya.

eugene 1“Tanah dibeli oleh Pater Smitz lalu bangun rumah dan saya disuruh tinggal. Kita sudah ada sejak tahun 2003 dan sekarang menampung 23 anak dari umur balita sampai remaja. Memang ada bantuan beras dari Dinas Sosial Kabupaten Lembata sebanyak 100 kilogram untuk tiga bulan, sementara  satu hari kita butuh beras 19 kilogram, jadi bantuan itu memang tidak cukup. Ada kita punya saudara-saudara disini juga ikut membantu, disamping itu saya jual sayur juga buat kue dan anak-anak bantu jual ke rumah-rumah tetangga,” ujarnya, lirih.

Anak-anak panti asuhan yang datang dari berbagai latar belakang kerluarga itu baginya adalah titipan Tuhan, dia merasa besyukur bisa mengabdikan diri bagi mereka. Selama mengelola panti, wanita yang ditaksir berusia sekitar 50-an tahun dan belum berkeluarga itu mengaku mengalami banyak tantangan, tertutama dari lingkungan sekitar.

“Ada yang datang tegur dan suruh saya buat pagar tinggi, karena ana-anak disini kalau jam bermain mereka ribut, dan mengganggu istirahat siang. Aduh.. bagaimana mungkin saya bangun pagar. Berpikir untuk 23 anak makan dalam satu hari saja pusing. Tetapi saya pahami saja, dan itu tantangan yang harus saya terima,” kata dia.

Sebagai gambaran, Eugine Smitz bernaung dibawah Yayasan Pondok Kasih Indah dengan tiga orang pengasuh utama, masing-masing Br. Damianus Wathun, Regina Sura dan Goldenvirdus Banilabi.(ogy)

Topik:
News:

No comment for Panti Eugiene Smitz Lewoleba Butuh Sentuhan Semua Pihak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.