Menu Click to open Menus
Home » EKBIS » Panen Perdana Garam Peledang, Penjabat Deadline 1 Minggu “Pasarkan” Produksi 2015

Panen Perdana Garam Peledang, Penjabat Deadline 1 Minggu “Pasarkan” Produksi 2015

(1148 Views) September 6, 2016 12:16 pm | Published by | No comment
Garam Peledang Panen

Penjabat Bupati Lembata, Drs. Sinun Petrus Manuk dan Kapolres Lembata didampingi Plt Kadiskoperindag Ansel Bahy memperlihatkan garam peledang yang baru diproduksi.

TAPOBARAN, aksiterkini.com – Dinas Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lembata sukses menerapkan teknologi geo membrane dalam proses produksi garam di Desa Tapobaran. Terbukti, produksi garam lebih meningkat dengan kualitas kristal garam lebih putih dan bersih. Selasa (6/9), Penjabat Bupati Lembata, Drs. Sinun Petrus Manuk melakukan panen perdana di Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan.

Ketika meninjau langsung proses produksi, di salah satu ruangannya, Drs. Sinun Petrus Manuk yang didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan, Anselmus Bahy, Asisten I dan II, para Kepala SKPD,  serta Camat Lebatukan, terkejut melihat masih begitu banyak produksi garam tahun 2015 masih menumpuk. Kurang lebih 60-an ton hasil produksi tahun 2015 belum dipasarkan.

Garam Peledang Menumpuk

60-an ton garam peledang Tapobaran yang masih menumpuk dalam gudang di Tapobaran.

“Wah, tidak bisa begini. Saya kasih waktu satu minggu, ini sudah kosong. Pelaku usaha yang memakai garam seperti pabrik tepung ikan, pengawetan ikan, tidak boleh lagi mengambil (garam) dari luar. Segera panggil mereka dan buatkan kerja sama untuk memanfaatkan garam dari sini,” tandas Manuk.

Seperti gayung bersambut, sebelumnya, saat menyampaikan sambutannya sebelum acara panen perdana garam dengan teknologi Geo Membrane tersebut, Anselmus Bahy meminta pemerintah memfasilitasi agar pabrik-pabrik lainnya di Lembata yang memanfaatkan garam dalam proses produksi untuk tidak mengambil garam dari luar Lembata. “Selama ini hanya PT Cendana Indopearls yang mengambil garam dari Tapobaran,” ungkap Bahy.

Bertahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2004, para petani garam di  Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan menerapkan teknologi Maduris Tradisional dimana tanah sebagai meja kristal (Maduris) dan teknologi Portugis dimana garam dibiarkan menjadi plat pada meja kristal.  Namun, sejak tahun 2016 ini, diterapkan teknologi  Geo Membrane. Pada teknologi ini, seluruh meja kristalisasi dilapisi terpal plastik untuk menjamin kebersihan produksi garam.

Bahy juga mengharapkan dukungan pemerintah dalam hal anggaran agar teknologi Geo Membrane tetap dikembangkan dengan perluasan lahan. Sebab saat ini lahan yang dimanfaatkan baru 2,5 hektare dari 6 hektare yang tersedia.

Selain itu Bahy juga meminta tenaga teknis sarjana kimia yang saat ini tersebar di intansi dan dinas-dinas  agar dikembalikan ke Dinas Koperindag. Sebab mereka dibutuhkan untuk pengembangan garam ke depan.

Terhadap harapan itu, Manuk mengatakan berbagai kebijakan ke depan agar tetap berpihak pada usaha garam. Dia mengajak semua pihak agar mencontohi Kabupaten Sabu yang menargetkan PAD Rp 100 M dari usaha garam.

Sementara Kepala Seksi Usaha Industri Diskoperindag, Alexius Dato dan Ketua Kelompok Usaha Garam Peledang, Yanto Atawolo yang ditemui terpisah menjelaskan, mulanya sawah garam di Desa Tapobaran hanya seluas 1 hektare di tahun 2004. Lalu tahun2006 dikembangkan lagi seluas 1 hektare dan tahun 2016 setengah hektare dengan teknologi Geo Membrane. (ona)

Topik:
News:

No comment for Panen Perdana Garam Peledang, Penjabat Deadline 1 Minggu “Pasarkan” Produksi 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.