Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Neme Bataona Jadi Saksi: “Tidak Ada Yang Mengganggu Tradisi Penangkapan Paus”

Neme Bataona Jadi Saksi: “Tidak Ada Yang Mengganggu Tradisi Penangkapan Paus”

(1088 Views) November 1, 2016 11:48 pm | Published by | No comment

Neme Bataona di Lamalera, Senin (31/10). Sore yang teduh, hanya sedikit mendung menjelang senja. Di Neme, sedang ramai. Masyarakat Lamalera sedang menerima tamu, rombongan Kementrian Koordinator Maritim, Dinas Pariwisata NTT, Penjabat Bupati Lembata dan sejumlah wartawan Indo Media.

Kunjungan para pejabat ini, sehari sebelum digelarnya seminar paus  yang diberi judul “Penguatan Budaya Maritim-Budaya Lefa Dalam Rangka Pengembangan Destinasi Wisata Bahari dan Pengelolaan Sumber Daya” di Lewoleba, Selasa (1/11).

Sambutan yang luar biasa, ujar mereka. Betapa tidak, sebelum menginjakan kaki di pasir pantai Lamalera, mereka disuguhi atraksi penangkapan ikan paus. Lima peledang (perahu) mendemonstrasikan bagaimana caranya seorang Lamafa (juru tikam) melakukan tugasnya sebagai lamafa. Lamafa dengan tempuling  di tangan dan seluruh awak perahu dengan tugasnya masing-masing “menjemput” ikan paus lalu dibawa ke kampung untuk kehidupan masyarakat Lamalera. Ikan paus bagi masyarakat Lamalera adalah nenek moyang yang dikirim (knato) untuk kehidupan anak cucu di Lamalera. Karena itulah penangkapan ikan paus berkaitan erat dengan aspek sosial, kultur dan budaya, imanensi, spriritual juga moral dan harmonisasi kehidupan masyarakat Lamalera.

img-20161102-wa001Jika eksistensi masyarakat Lamalera ini diusik, wajar saja bila mereka marah. Apalagi, jika hidup masyarakat Lamalera coba dialihkan seperti yang pernah ‘dicoba-coba’ WWF beberapa waktu silam, mereka bisa menjadi tidak hormat pada para tamu. Masih terluka,masyarakat Lamalera tidak bisa menyembunyikan sikap kehati-hatian terhadap setiap tawaran pemerintah atas budaya penangkapan ikan paus.

Kehati-hatian itu pula yang terlihat saat kunjungan Kemenko Maritim dan rombongan. Lihatlah reaksi spontan masyarakat dengan bertepuk tangan kala Deputi Bidang SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Dr Safri Burhanuddin, bilang begini, ”Tradisi penangkapan paus di Lamalera, adalah budaya yang harus dilestarikan. Setelah melihat langsung, kami melihat bahwa ada satu kesatuan yang harus dijaga. Bagaimana kerja sama dan gotong royong masyarakat. Misalnya waktu menarik perahu, tidak hanya dilakukan bapa-bapa tapi juga ibu-ibu dan anak-anak. Banyak hal dari budaya Lamalera yang perlu  lebih terbuka dilihat  dunia luar.”

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata NTT,  DR Marous Djelamu, M.Si, juga bicara yang sama. “Desa Lamalera adalah destinasi wisata Internasional yang tidak bisa diganggu gugat. Karena itu tradisi penangkapan ikan paus harus tetap dipertahankan,” ujar Djelamu yang disambut tepuk tangan masyarakat.

Pun saat Penjabat Bupati  Lembata, Drs. Piter Manuk menegaskan,” kami datang, bukan untuk  menghapus atau melarang jangan tangkap ikan paus. Tradisi ini harus tetap dipertahankan.”

Saat menyambut tamu, Camat Wulandoni, Paulus Sinakai, dengan tegas mengatakan,” kami tetap mempertahankan tradisi penangkapan ikan paus. Kami butuh pengakuan Indonesia dan dunia internasional untuk melindungi masyarakat. Jika ada UU yang mengatur adanya larangan penangkapan paus, harusnya ditinjau kembali untuk keberlangsungan masyarakat Lamalera.”

Neme (namang) Bataona adalah namangnya Lamalera. Tempat pertemuan seluruh masyarakat Lamalera. Pertemuan di Neme Bataona, riuh rendah dengan tepuk tangan masyarakat Lamalera. Suara mereka seolah mengalahkan debur ombak di tanjung kecil sarabia dan baofutung karena merasa hidup mereka tidak sedang diusik. Tak diusik!

Kepada para tetamu, perwakilan masyarakat, Gaspar Nivak juga menyampaikan sikap masyarakat Lamalera.  “Sebagai nelayan tradisional mencari dan menangkap ikan paus atau Koteklema, pada laut sawu merupakan mata pencaharian dan pekerjaan pokok kami para nelayan tradisional Lamalera guna menghidupi keluarga masing masing pada khususnya dan masyarakat Levo Lamalera pada umumnya. Dari laut hasil ikan tangkapan itu akan dibawah oleh ibu ibu dan perempuan (pnete alep) ke daerah pedalaman atau ke pegunungan dan dibarter dengan ubi, pisang, jagung, padi dan kacang kacangan.

Untuk itu penangkapan ikan paus berkaitan erat dengan tatanan sosial budaya sesuai fungsi dan tanggungjawab masing masing pihak menjadi tali pengikat kekerabatan yaitu Tena Laja, Suku Lamma dan Lango Uma. Ini adalah modal sosial dan nilai gotong royong masyarakat nelayan Lamalera.

Selain itu, penangkapan Koteklema atau Ikan Paus, merupakan sebuah aktivitas kultur budaya, mulai dari penebangan kayu, pembuatan perahu atau peledang, pesta perahu, pembuatan tali, pembukaan musim leva, dimana semua tahapan dan ritual ini dimulai dari rumah besar. Dalam aktivitas kultural tersebut, kami generasi nelayan tradisional Lamalera masa kini dipersatukan dengan masa lampau (nenek moyang kami yang sudah meninggal) dan bagaimana kami berusaha membangun masa depan bagi anak anak kami yang adalah merupakan warisan adat dan budaya kami.

Aspek imanensi, bagi nelayan tradisional lamalera ikan paus atau koteklema merupakan penjelmaan dari nenek moyang kami yang sudah meninggal, yang memberi bagi kami dan anak cucu kami demi keberlangsungan hidup dan kehidupan generasi selanjutnya di Levo Lamalera. Hal ini nampak nyata dalam sapaan sapaan simbolis dan bahasa isyarat  antara nelayan dan Koteklema yang mau ditikam.

Aspek spiritual, semuanya diawali dengan doa. Seekor ikan yang berhasil ditangkap itu semata mata adalah penyelengaraan ilahi. Pada tahun 1970 ketika generasi nelayan pada masa itu difasilitasi oleh FAO dalam penangakapan ikan secara modern dengan menggunakan harpoon. Bagi kami nelayan tradisional Lamalera posisi Tuhan dan kekuatan Levotana tidak bisa diganti dengan kekuatan apapun.

Lalu aspek moral dan harmonisasi, penangkapan Koteklema, akan membentuk dan menentukan perilaku kami para nelayan tradisional Lamalera. Sikap dan perilaku kami baik dalam keluarga maupun dalam lingkup sosial kemasyarakatan tidak boleh mengarah pada rasa dendam, dengki, penghinaan, permusuhan bahkan kaum lemah, (janda – jompo, yatim piatu) tersakiti. Jika semua ini sampai terjadi akan menimbulkan akibat fatal misalnya, bala bencana dalam keseluruhan penangkapan koteklema, seperti nelayan meninggal dunia, perahu pecah/hancur dan tenggelam.  Berbulan bulan bahkan  sampai tahunan tak ada hasil tangkapan.

Aspek politik dan esksitensi, tatanan pengorganisasian penangkapan Koteklema, telah membentuk etos politik kami yang tidak feodal, penuh asas kekeluargaan dengan penataan peran dan tanggungjawab masing masing sesuai fungsi dan tugas kami masing masing. Kehidupan sosial politik budaya dan kultur kami berpusat pada rumah besar dan kepala suku dengan tali pengikat, tena laja, suku lamma, lango uma.

Karena itu, penangkapan Koteklema, di Lamalera merupakan eksistensi kami nelayan tradisional Lamalera.

Penangkapan koteklema di Lamalera merupakan satu kesatuan yang membentuk ke-Lamalera-an kami.

img-20161102-wa002Dengan menangkap koteklema secara tradisional merupakan cara beradat, cara hidup, cara berpikir, serta membentuk karakter kami. Dan tidak ada penangakapan ikan paus secara tradisional berarti tidak ada orang Lamalera.

Menghentikan dan melarang penangkapan ikan paus sama artinya dengan ada usaha untuk menghilangkan bahkan membasmi orang Lamalera dan levo Lamalera.

“Maka bila ada tendensi penghentian dan pelarangan penangkapan Koteklema, maka kami akan melawan sampai kapan dan dimanapun selagi masih ada Levo Lamalera dan nelayan tradisional Lamalera. Hal ini bagi kami merupakan hal serius karena disamping sebagai kebutuhan pokok, mempertahankan eksistensi kami sebagai hak hidup, membentuk karakteristik. Untuk itu, selagi masih ada Levo Lamalera dan kami nelayan tradisional Lamalera kami tetap berjuang dan mempertahankan Koteklema.” (fince bataona)

Topik:
News:

No comment for Neme Bataona Jadi Saksi: “Tidak Ada Yang Mengganggu Tradisi Penangkapan Paus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.