Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Nelayan Lamalera Akhirnya Ditetapkan Jadi Tersangka Gara-Gara Insang Pari Manta

Nelayan Lamalera Akhirnya Ditetapkan Jadi Tersangka Gara-Gara Insang Pari Manta

(724 Views) June 19, 2017 10:43 pm | Published by | No comment

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Goris Dengekae Krova, 62 tahun, nelayan Desa Lamalera ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan “Dengan sengaja mengedarkan ikan yang merugikan masyarakat, sumber daya ikan kedalam atau keluar wilayah pengolahan RI dan mengedarkan ikan yang dilarang dan dilindungi oleh pemerintah.

Status tersangka ini diketahui Goris dari surat panggilan kepolisian atas dirinya untuk menghadap Kepala Brigpol Yusub G. Kapitan di ruangan Reskrim Kantor Polres Lembata hari ini, Selasa (20/6/2017) pukul 09.00 Wita. Meski merasa heran atas peningkatan status dirinya dari saksi ke tersangka namun dia siap memenuhi panggilan tersebut.

Kepada aksiterkini.com, Goris Dengkae Kova menuturkan bahwa dirinya bukan pedagang. “Saya ini nelayan. KTP saya jelas tertulis bahwa saya nelayan bukan pedagang,” ujarnya, seraya mengungkapkan keheranannya mengapa kasusnya digiring ke arah perdagangan insang Pari Manta.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya, nelayan Lamalera ini dijebak seseorang yang mengaku bernama Akang Bandung yang menemuinya di Lamalera untuk membeli insang ikan pari manta. Dalam ketidaktahuannya, Goris lalu digiring hingga ke Lewoleba dan ditangkap aparat Kepolisian Resort Lembata di Hotel Palm saat terjadi transaksi jual beli dengan Akang Bandung. Anehnya, hingga saat ini Akang Bandung yang bertindak sebagai pembeli tidak pernah diperiksa polisi.

Uniknya lagi, penangkapan ikan pari sudah mentradisi dalam kehidupan nelayan Lamalera sejak nenek moyang, jauh sebelum peraturan pelarangan ini lahir. Pun, masyarakat nelayan Lamalera tidak tahu menahu sama sekali kalau pemerintah Indonesia sudah menerbitkan aturan yang melarang penangkapan ikan Pari Manta.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lembata juga mengakui bahwa mereka belum melakukan sosialisasi Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2014 tentang  Penetapan Status Perlindungan Penuh Pari Manta.

“Kami belum lakukan sosialisasi. Saya sudah menyampaikan ke DKP Kupang  juga  bahwa kami yang salah. Kami belum sosialisasi tentang larangan penangkapan. Ini juga baru,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, Drs. Atanasius Amuntoda, Rabu (30/11/2016).

Penjelasan Kadis DKP Lembata, waktu itu, menguatkan penuturan masyarakat Lamalera yang dengan tegas mengatakan mereka belum pernah didatangi pemerintah untuk mensosialisaikan adanya larangan tangkap ikan pari. “Sampai saat ini kami belum pernah dapat sosialisasi tentang perlindungan dan larangan menangkap pari,” ujar Yohakim Demon dibenarkan nelayan Lamalera dan sejumlah ibu dari Lamalera, di Lewoleba beberapa waktu lalu.

Amuntoda menegaskan, DKP akan menyurati Polres Lembata untuk memberitahukan bahwa DKP belum melakukan sosialisasi Kepmen nomor 4 tahun 2014 tersebut.  Alasannya, selain Kepmen tersebut belum lama alias baru, budaya Lamalera menurut Amuntoda, sudah melakukan yang namanya perlindungan terhadap satwa laut. “Budaya Lamalera, sudah melakukan konservasi sejak jaman nenek moyang dan berlaku turun temurun. Mereka tangkap pari ini sudah dari nenek moyang dengan peralatan tradisional,” ujarnya.

“Tapi, nanti kita sosialisasi saja bahwa ini dilarang, itu dilarang. Tetapi kami tetap memperhatikan bahwa menangkap ikan paus dan jenis lainnya termasuk pari bagi masyarakat Lamalera sangat terkait dengan budaya,” ujar Amuntoda.

Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Ever Simatupang menegaskan seharusnya aturan atau Undang-Undang yang melarang penangkapan ikan Pari Manta disosialisasikan dulu pada masyarakat. “Oh ya, kata DKP (Dinas Kelautan Perikanan) belum disosialisasi ya. Harusnya  disosialisasikan dulu, biar masyarakat tahu,” ujarnya kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (2/12/2016).

Kapolres membantah ditekan LSM WCU (Wildlife Crime Unit) yang berada dibalik penangkapan nelayan Lamalera Goris Dengekae Krova. “Ah tidak benar itu. Tidak seperti itu,” ujarnya.

Dia enggan menjawab ketika ditanya jika bukan karena desakan LSM tersebut, mengapa tidak melakukan penangkapan sejak lama, karena kenyataannya masyarakat Lamalera memang menangkap pari sejak jaman nenek moyang. Seperti juga hewan langka lainnya yakni ikan paus.

Mengenai budaya, Kapolres mengatakan harus tetap dihormati. Namun masyarakat juga perlu mengetahui bahwa ada Undang-Undang yang mengatur perlindungan hewan laut yang  langka termasuk ikan pari manta tersebut. “Kita hormati budaya. Tetapi masyarakat juga perlu tahu bahwa ada hewan laut yang harus dilindungi menurut Undang-undang,” ujarnya.(fince bataona)

No comment for Nelayan Lamalera Akhirnya Ditetapkan Jadi Tersangka Gara-Gara Insang Pari Manta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *