Menu Click to open Menus
Home » SOSOK » Monika N Arundhati: Penyair Perempuan Lembata dan Catatan Sunyi

Monika N Arundhati: Penyair Perempuan Lembata dan Catatan Sunyi

(1945 Views) April 19, 2016 11:19 am | Published by | No comment

IMG_20160112_061834Masih muda usia. 25 tahun. Perempuan Lembata ini memiliki bakat menulis sastra yang luar biasa. Karya-karya puisi dan cerpennya sudah banyak dipublikasikan di berbagai media lokal dan kampus kala dia masih seorang mahasiswi di Universitas Sanata Dharma  Yogyakarta. Menyebutnya dengan penyair atau sastrawati, Monika tersenyum.

“Entah apalah namanya, tanggungjawab intelektual saya yang menuntut untuk menulis dan terus menulis dan menerbitkan buku. Orientasi saya adalah terus menulis dan bukan menulis untuk terkenal,” ujarnya.

Catatan Sunyi, adalah karyanya yang pertama. Meski puisi-puisinya yang bertebaran dimana-mana itu sudah beberapa kali diikutkan dalam antologi puisi bersama teman-temannya, juga antologi puisi 17 penyair perempuan Indonesia Timur: Sajak Terpagi (2010), Isis dan Musim-musim (2014).

Monika2Setidaknya, dalam setahun harus bisa menghasilkan dua buku. Tapi, setahun lalu sejak memutuskan pulang Lembata, Monika mengalami saat-saat matinya berkreasi. “Di Yogyakarta saya hidup di tengah orang-orang yang hidupnya adalah berkarya seni. Ada ruang yang sangat mendukung kreatititas saya. Mudah menemukan teman-teman yang bisa diajak berdiskusi dan saya tidak merasa sendiri. Di Lembata?Saya tidak menemukan ruang itu lagi.”

Butuh waktu dan akhirnya dia tahu bahwa di kampungnya sendiri Lembata, hal-hal sulit yang dialaminya, dirasakannya dalam berkreasi adalah tantangan. Kerikil yang mesti dilewatinya. “Menulis itu dimana saja, kapan saja karena itu tentu saja di Lembata pun saya tetap berkarya.”

Tahun ini, Monika menargetkan menerbitkan novel anak-anak. Mengapa anak-anak?

Monika1“Saya prihatin melihat anak-anak saat ini. Mereka lebih suka menghabiskan waktu menonton televisi yang menyajikan acara-acara yang tidak mendidik. Akibatnya anak-anak sekarang tidak punya imajinasi, tidak dirangsang kreatifitasnya. Ini sangat mencemaskan.”

Beda jika anak membaca buku atau mendengar dongeng dari orangtuanya. Anak-anak akan dirangsang berimajinasi. Sayangnya, kata Monika,  mencari novel anak-anak saat ini cukup sulit. “Dan untuk itulah saya tergerak hati untuk menulis novel anak-anak. Lebih pada pengalaman masa kecil dan kepercayaan-kepercayaan lokal. Menulis novel ini seperti kembali ke masa kecil.”

Jika Monika akhirnya pantas disebut penyair, masa kecilnya sangat mempengaruhi ketertarikannya menulis sastra. Ayahnya, Antonius Nero Liman dan ibunya, Angela Bali Kotan membesarkan Monika dan ke empat adiknya dalam kesederhanaan hidup seorang tukang kayu. Ketika Monika kecil, ayahnya sering membawa pulang buku-buku bekas dan mereka sering membaca bersama. Ayahnya juga sering memperdengarkan lagu-lagu Ebiet G. Ade dan Frangky Sahilatua. Lirik-lirik lagu imaginatif yang menyentuh jiwa kecilnya begitu membekas hingga dia mulai belajar menulis puisi.

Di SMP dan SMA, Monika menemukan guru Bahasa Indonesia yang pandai bersastra. Pak Frans Bala, nama guru bahasanya kala itu. Ketika Monika tahu skripsi gurunya itu menulis syair-syair Kahlil Gibran, dia lalu meminjam dan mencatat isi skripsi yag tentu saja jumlahnya puluhan halaman. Soalnya membeli buku-buku sastra bukanlah hal yang gampang. Di Lembata, apalagi. Tekadnya menekuni sastra makin kuat. Dia memutuskan mengambil kuliah di Jurusan Sastra Sanata Dharma Yogyakarta.

Saat kuliah dan mulai serius menulis itulah Monika lalu melekatkan nama Arundhati pada nama belakangnya. Ketika itu ulang tahunnya ke 20 tahun. Seorang temannya memberinya hadiah buku dengan gambar seorang perempuan penulis India bernama Arundhati Roy, Arundhati sendiri berarti bintang timur. Temannya itu menuliskan ucapan: “Semoga suatu saat kelak, engkau menjadi penulis seperti perempuan dalam gambar ini”. Dan, sejak saat itulah, Monika lalu memakai nama Monika N Arundhati untuk karya-karya puisi dan cerpennya.

Menulis puisi, kata Monika, tingkatannya lebih sulit dari menulis cerpen. Guru SBK di SMA Frater Lewoleba ini beralasan dia harus bergulat dengan ide, dengan kata-kata. Apakah orang bisa mengerti atau tidak, ide yang saya sampaikan. Jangan-jangan ada penilaian, hanya bisa bermasturbasi dengan puisi sendiri.

Dalam “Semacam Pembukaan” di Catatan Sunyi, Monika menuliskan: “Menulis puisi bagi saya adalah sebuah ritual sakral untuk menjelma menjadi manusia seutuhnya sekaligus memperoleh kemanusiaan. Melalui ritual sakral ini, saya bisa merenungi hidup, bercakap-cakap dengannya, lantas insaf bahwa saya sejatinya adalah manusia.”   

Sensivitasnya diakuinya bisa menangkap apapun  yang ada dan terjadi di sekitarnya menjadi sebuah puisi. Karena itu kemana-mana selalu dibawanya buku kecil untuk mencatat. “Sebab ide itu datang kapan saja, dimana saja tetapi sering begitu cepat pula dia pergi.”

Catatan Sunyi, masih dalam “Semacam Pembukaan” kata Monika, “lahir dalam saat-saat sunyi, saat dimana pengembaraan intelektual dan rohani saya berlangsung intens. Saya hanya menuruti kehendak hati, menggali dan mengolah kemungkinan yang ada hingga yang paling mustahil sekalipun.”

Catatan Sunyi lalu menjadi sebuah buku, diakui Monika, bukan tanpa siapa-siapa dibaliknya. Seorang temannya, Mas Chrisye (Chris Woodrrich) adalah orang yang mulanya mendorong, membantu dan membuat seluruh puisinya yang tercecer menjadi sebuah buku yang prolognya ditulis Pater Budi Kleden dan dieditori Charles Beraf.

Monika N Arundhati, penyair perempuan Lembata. Dan, Catatan Sunyi adalah bentuk pertanggungjawaban intelektualnya. Karya buku pertama! Seterusnya dia akan terus berkarya dari kampungnya, tanah lahirnya,twvgv Lembata. Menulis, menulis dan terus menulis. (fince bataona)

Topik:
News:

No comment for Monika N Arundhati: Penyair Perempuan Lembata dan Catatan Sunyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *