Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Misa Leva Dalam Bahasa Lamalera; Pater Dile Bataona: Apakah Kita Pasrah Saja ?

Misa Leva Dalam Bahasa Lamalera; Pater Dile Bataona: Apakah Kita Pasrah Saja ?

(818 Views) May 2, 2017 3:39 am | Published by | 1 Comment

LAMALERA, aksiterkini.com — Misa pembukaan musim Leva tahun ini, tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahasa Lamalera mendominasi keseluruhan upacara misa yang dihadiri ratusan orang, tak hanya orang Lamalera tetapi juga wisatawan asing dan domestik juga para pejabat Kabupaten Lembata. Bahkan Injil dibacakan dalam Bahasa Lamalera oleh Pater Pieter Dile Bataona, SVD yang bersama Pastor Paroki, Rm Leo, Pr dan Rm Bernard Kedang, Pr memimpin misa Leva, Minggu (1/5/2017).

Sehari sebelumnya, di tempat yang sama, Pantai Lamalera, diadakan misa arwah untuk nelayan yang meninggal di laut. Nama-nama mereka sebanyak 39 orang yang meninggal sejak tahun 1917 dibacakan secara khusus. Sebelum misa diakhiri, dilakukan upacara arung lilin dan bunga di laut Lamalera.

Seluruh umat yang hadir larut dalam suasana khusuk. Komentator Theo Bataona juga mengantar umat mengikuti misa dalam bahasa Lamalera. Dalam pernyataan tobat, tuan tanah, Lamafa, Tena Alep (pemilik perahu), Ume Alep (Yang mengatur pembagian ikan),  Pnete Alep (perempuan Lamalera) menyampaikan seluruh isi hati mereka. Apa yang mereka lakukan selama musim leva yang berlalu. Dalam bahasa Lamalera, mereka memohon pengampunan Tuhan atas semua kesalahan tersebut. Lagu Ampuni Ya Tuhan mengiringi pernyataan tobat mereka di hadapan altar Kaple St Petrus Paulus Lamalera

Sementara itu dalam kotbahnya  yang juga dibawakan dalam bahasa Lamalera, Pater Dile Bataona mengatakan, dalam injil Yesus mengingatkan bahwa Allah menginginkan semua orang percaya pada puteraNYA. Dulu, ketika agama belum dikenal Lamalera, nenek moyang kita sangat percaya bahwa Allah sudah menyediakan ikan di laut untuk hidup. “Seperti kata Rm Leo kemarin di misa arwah, kita mengambil di tempat yang tidak kita tanam dan kita menuai hasil dari tempat yang tidak kita semai. Allah sudah menyiapkan semuanya. Kita juga berdoa begini saat ada ikan paus: Bao di kperek, puke ribu ratu, bao depe lodo, levo prae malu mara, muge ana kide knuke, gereja hiir kae, gereja hir kae”.”

Sayangnya, lanjut Pater Pieter, saat ini orang Lamalera lebih percaya pada mesin. Saat dapat ikan, bagian untuk orang susah dan anak yatim piatu tidak lagi diberikan karena bagian tersebut untuk mesin. Ola Nue (melaut) sudah diganti dengan mesin nuang (musim). Anak-anak muda saat ini tidak lagi dayung, maunya ikut di perahu dengan mesin. “Apakah kita pasrah saja. Dimana pendidikan kita untuk melestarikan budaya, Ina Tao Ama Gene. Apakah iman leluhur yang kita anut: Percaya pada Allah (Alepte) atau iman yang dibangun berdasarkn sistem modernisasi yang sedang menghempas dan menyingkirkan kita menjadi orang asing di warisan budaya leluhur ini? Dan karena terasing dari budaya, maka kita gampang tertangkap jerat-jerat hukum,” ujarnya.

“Apa yang harus kita lakukan? Percaya seperti nenek moyang kita atau ikut irama modernisasi, motornisasi yang membuat kita semakin jauh dari semangat iman leluhur kita. Irama motornisasi yang  justru membuat kita semakin miskin dalam setiap sendi kehidupan. Semakin miskin karena kita melepas anak suku, mereka tidak dapat bagian karena mereka tidak punya tenaga untuk ikut melaut. Kita semakin miskin karena ikan-ikan harus diuangkan untuk beli minyak solar mesin. Apa yang kita lakukan dilihatNYA.  Semoga leva tahun ini sukses seiring kepercayaan kita yang sungguh-sungguh pada Bapa.”

Misa diakhiri dengan pemberkatan seluruh perahu dan pelepasan Praso Sapang sebagai tanda mengawali musim lefa tahun ini. (fince bataona)

1 Comment for Misa Leva Dalam Bahasa Lamalera; Pater Dile Bataona: Apakah Kita Pasrah Saja ?

  • Beatrix T says:

    Terimaksih untuk berita, luar biasa. Setuju bahwa “mesin” atau moderenisasi cukup berpengaruh di levo,kami yang tinggal di luar Lamalera apalagi yang sudah pindah ke suku geak, hanya beri saran…hal seperti ini sebaiknya TIDAK dibicarakan pada saat misa lefa saja, tetapi jadi agenda rutin anak2 lefo untuk “URUN REMBUG” bagaimana baiknya. Kemajuan teknologi tidak bisa kita hindari, tetapi kita juga TIDAK BOLEH lupa pada knene yang diwariskan leluhur kita. Nanipe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.