Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Menkokemaritiman Akan Meliding Pembicaraan Tentang Penangkapan Kotekelema

Menkokemaritiman Akan Meliding Pembicaraan Tentang Penangkapan Kotekelema

(1928 Views) October 31, 2016 10:30 am | Published by | 1 Comment

 

lamaleraMenkokemaritiman akan menggelar seminar internasional tentang penangkapan ikan paus oleh Nelayan Lamalera di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT, Selasa (1/11/2016). Redaksi aksiterkini.com menghubungi Pater Piter Bataona untuk menulis catatan seputar polemik penangkapan ikan paus dan konservasi yang sempat menyulut kemarahan orang Lamalera, beberapa waktu lalu. Berikut catatan Pater Piter Bataona, putra Lamalera yang menjadi pastor di Keuskupan Atambua, Belu.

Sonasi

Pemahasan tentang zona bebas pergerakan cetacean dan wilayah tangkap ikan paus bagi orang Lamalera. Sejauh ini belum ada sosialisasi penetapan garis batas dari pihak menkokemaritiman.

Semisal Menkokemaritiman melakukan penetapan sepihak tanpa perundingan atau sosialisasi dengan masyarakat nelayan Lamalera, maka tindakan itu bisa dinilai manipulatif terhadap hak-hak para nelayan. Atau bisa dianggap penyerobotan terhandal hak ulayat para nelayan.

Sama seperti tuan-tuan tanah atau land owner memiliki hak ulayat atas tanahnya, demikian juga para nelayan tradisional penangkapan ikan paus memiliki ulayat atas wilayah laut dengan tapal batas yang sudah teridentifikasi dari generasi ke generasi yang lasim dikenal dengan sebutan “KAJU”.

KAJU adalah indikasi ukuran jauhnya sebuah jarak dari bibir pantai menuju ke tengah laut yang diperbolehkan untuk diarungi para nelayan Lamalera dalam mencari ikan.

Para nelayan akan lebih taat kepada pemahaman lokal atau kearifan lokal yang terwariskan ketimbang patokan yang dikukuhkan sepihak pihak kemaritiman. Patokan yang sama berlaku untuk lefa atau perairan di Duli dan lefa di Lewotobi.

Yang dipertanyakan, penetapan zonasi untuk apa dan kepentingan siapa, kalau pemangku adat ulayat atas laut sawu tidak dilibatkan?

Konsep Perlindungan Paus

Konsep ini akan menjadi sangat ironis dan menyesatkan banyak pihak untuk terjerumus  dalam pemahaman yang keliru.

Alasan keliru dan tersesat karena kemiskinan menterjemahkan konsep yang dituangkan dalam International Whale Concensus (IWC).

Disana disebutkan tentang jenis-jenis paus yang dinyatakan “Indanger” atau mendekat kepunahan. Jenis-jenis itu adalah – Blue whale;  – Baleen; – Pilot Whale; – Killer Whale.

lamalera2Sedangkan Sperm Whale dikatakan masih dalam populasi yang banyak. Hal ini juga ditegaskan pula oleh Benyamin Khan, seorang ahli Ikan Paus berkebangsaan Amerika yang meneliti secara khusus penyebaran ikan paus di laut Sawu sejak tahun 1975.

Kekeliruan yang menyesatkan ketika berhadapan dengan kemiskinan konsep Indonesia untuk menerjemahkan istilah jenis-jenis ikan paus yang dinyatakan “indanger” ke dalam bahasa Indonesia.

Lebih populer orang Indonesia menyebut saja ikan paus. Dan, terminologi ikan paus ini digunakan secara datar untuk menghakimi orang Lamalera yang menangkap ikan paus tanpa ada pemahaman mendalam tentang terminologi IWC tersebut.

Tahun 2011, petugas WWF Lembata menjadi seteru orang Lamalera karena menghakimi orang Lamalera dengan kesempitan pemahaman mereka tentang ikan Paus dan bergerilya dengan Visi yang tidak sejalan dengan seluruh tatanan budaya penangkapan ikan paus di Lamalera.

Orang Lamalera jauh sebelum penandatanganan IWC untuk perlindungan cetacean indanger, sudah punya konsep yang melarang penangkapan jenis-jenis paus yang hampir punah itu.

Blue whale sudah orang Lamalera kenal dengan istilah “kelaru”, Baleen juga sudah dikenal orang Lamalera dengan istilah “Lelangaji”, pilot Whale dikenal orang dengan “temu bele”, killer Whale dikenal dengan istilah “Seguni”.

Jenis yang terlarang itu berkaitan dengan totem dari suku tertentu di Lamalera atau legenda tersendiri dalam hubungan dengan jenis paus yang dilindungi itu;  sedangkan Sperm Whale lasim disebut “kotekelema” bukan masuk jenis yang hampir punah.

Quota Penangkapan Sperm Whale/Kotekelema

Kotekelema secara umum diketahui masih dalam populasi yang banyak sehingga tidak termasuk dalam agenda kesepakatan untuk dilindungi. Namun tetap diatur secara Internasional untuk mencegah kerakusan manusia.

Adalah suatu kekeliruan yang besar untuk menerapkan quota penangkapan sperm whale/kotekelema di desa Nelayan Lamalera. Karena Quota atau pembatasan jumlah penangkapan kotekelema tersebut diarahkan untuk negara-negara tradding seperti Jepang, Newzeland, Norwegia, korea, dan lain-lain.

Sedangkan orang Lamalera menangkap sperm whale untuk kelangsungan hidup dengan seluruh tatanan hidup sosial budaya yang erat berkaitan dengan penangkapan kotekelema itu.

Melarang penangkapan koteklema adalah bentuk pemerkosaan yang keji terhadap existensi hidup orang Lamalera.

Menyebut kata perburuan koteklema saja sudah sangat menodai makna terdalam dari penangkapan kotekelema. Dalam sebuah penelitian kami tentang “Pengalaman penangkapan kotekelema dari para Nelayan tradisional Lamalera” tahun 2006, kami menemukan makna penangkapan kotekelema sebagai suatu reuni, perjumpaan dengan leluhur atau nenek moyang, atau kunjungan ke kampung halaman yang disambut secara heroik dalam drama penangkapan itu.

Dalam babak penangkapan itu, sperm whale langsung diidentifikasikan dengan leluhur, nenek moyang. Dalam penuturan lokal disebut: “Ema, Bapa, Bele, Bapa, fakahae bao depe lodo (Mama, bapak,Kakek-nenek- terapung dengan tenang!)- dalam suatu  pengharapan untuk dibawa ke kampung halaman.

Jadi kata berburu itu sendiri tidak sepadan dengan makna terdalam penangkapan kotekelema itu bagi orang Lamalera.

Tunjukan dimana salah orang Lamalera dalam penangkapan sperm whale atau koteklema itu. Ataukah karena melanggar Zonasi yg ditetapkan sepihak oleh pemerintah kah? Ataukah menyalahi hukum International dalam IWC? Ataukah melanggar undang-undang republik ini?

Parieisats harus kust melindungi tradisi dalam 3 sisi: Ie Gerek, Olanue dan Fule-Pnete.

Penangkapan kotekelema itu sendiri terlarang untuk ditikam di perairan Duli, juga terlarang ditangkap di perairan Lewotobi. Nelayan Lamalera membatasi diri untuk tangkap kotekelema di perairan sawu depan Lamalera.

Dan, ini menjadi kearifan lokal turun temurun.(*)

Topik:
News:

1 Comment for Menkokemaritiman Akan Meliding Pembicaraan Tentang Penangkapan Kotekelema

  • Erick Betekeneng says:

    Tradisi ini jangan sampai hilang, lagipula jenis sperm whale tidak termasuk endanger IWC. Pemda perlu menjembatani untuk sosialisai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.