Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Menjelang Hari HAM 10 Desember, Nelayan Masyarakat Adat Lamalera Dikriminalisasi

Menjelang Hari HAM 10 Desember, Nelayan Masyarakat Adat Lamalera Dikriminalisasi

(694 Views) December 7, 2016 4:31 pm | Published by | 1 Comment

Goris Dengekae Krova

JAKARTA, aksiterkini.com – Menjelang peringatan hari Hak Azasi Manusia (HAM), 10 Desember, tahun ini, seorang lamafa nelayan masyarakat adat Lamalera terancam kriminalisasi, Goris Dengekae Krova terancam dikriminalisasi. Padahal, dia melakukan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak anggota komunitasnya. Goris menangkap ikan pari jenis Pari Manta (manta birostris).

Demikian siaran pers Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) yang dikirim ke redaksi aksiterkini.com dari Jakarta, Rabu (7/12/2016).

Bona Beding, Ketua Bidang Masyarakat Adat dan Kebudayaan Bahari KNTI dan Marthin Hadiwinata, Ketua Bidang Pengembangan Hukum dan Pembelaan Nelayan DPP KNTI, menjelaskan bahwa Goris merupakan anggota komunitas nelayan masyarakat adat Lamalera sebagai komunitas orang asli yang menangkap ikan dengan cara yang telah dipraktekkan secara turun temurun. “Sejak abad ke-16 hingga saat ini praktek penangkapan ikan secara tradisional dengan teknologi yang sederhana masih dipraktekkan terhadap ikan-ikan besar termasuk ikan Pari dan ikan Paus,” jelas keduanya.

Praktek tradisional ini terkadang memerlukan waktu hingga berhari-hari untuk menaklukkan ikan besar yang memiliki tenaga besar, bahkan melampaui batas perairan teritorial Indonesia. Setelah mendapatkan ikan, jelas KNTI, para lamafa (orang yang memimpin dan menangkap dengan tombak) tidak mengambil sendiri hasil tangkapannya. Akan tetapi, memastikan kelompok yang paling rentan mendapatkan hasil tangkapan. Kelompok prioritas untuk mendapat bagian hasil tangkapan yaitu ibu janda yang renta, perempuan dan anak, dan termasuk yatim dan piatu baru bisa memanfaatkan hasil tangkapan.

Kriminalisasi ini dilakukan oleh Kementerian Kelautan Perikanan, Kepolisian Resort Lembata dan Wildlife Crime Unit dengan dasar Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta. Keputusan tersebut tidak pernah melalui konsultasi publik bahkan sosialisasi kepada masyarakat adat Lamalera, yang otomatis mengkriminalisasi segala penangkapan ikan pari manta jenis Manta Birostris dan Manta Alfredi.

Goris terancam dikenakan ketentuan pidana dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, khususnya Pasal 21 ayat (2) huruf b dan d junto Pasal 40 dengan ancaman pidana penjara 5 (lima) tahun dan denda Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Namun jika menggunakan Undang-Undang Perikanan, Goris termasuk kategori nelayan kecil dapat dikenakan Pasal 100C UU Nomor 45 Tahun 2009 yang melanggar Pasal 7 ayat (2) huruf n UU Nomor 45 Tahun 2009 mengenai pengaturan atas jenis ikan yang dilindungi dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

Namun hingga kini, Goris tidak mendapatkan kejelasan statusnya, apakah menjadi tersangka atau sebatas saksi. Tindakan kriminalisasi ini, menurut KNTI, merupakan pelanggaran terhadap Konstitusi UUD 1945 yang termasuk sila kelima pancasila, Pasal 18B ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (1),  Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I ayat (3), Pasal 28H ayat (1), Pasal 32 ayat (1)Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.

Termasuk juga UU Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam  dan UU Nomor 27 Tahun 2007 junto UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

“Masalah yang dihadapi oleh Goris dengan kriminalisasi ini merupakan pelanggaran terhadap komitmen Indonesia atas implementasi Pedoman Perlindungan Perikanan Skala Kecil FAO Tahun 2014 yang berbasiskan pendekatan hak asasi manusia dalam perikanan,” tandas KNTI.(at02)

Topik:
News: ,

1 Comment for Menjelang Hari HAM 10 Desember, Nelayan Masyarakat Adat Lamalera Dikriminalisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *