Menu Click to open Menus
Home » PENDIDIKAN » Meningkatkan Kemampuan Guru Di SDK Lewokluok Dalam Menentukan KKM Tiap Mata Pelajaran Melalui Kegiatan KKG/KKGMP

Meningkatkan Kemampuan Guru Di SDK Lewokluok Dalam Menentukan KKM Tiap Mata Pelajaran Melalui Kegiatan KKG/KKGMP

(227 Views) March 23, 2018 1:23 pm | Published by | No comment

Oleh: Aleksander Talu, S.Pd

Pendahuluan

Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematik yang meliputi banyak komponen. Komponen tersebut di antaranya sumber belajar. Sumber belajar merupakan suatu unsur yang memiliki peranan penting dalam menentukan proses belajar agar pembelajaran menjadi efektif dan efesien dalam pencapaian tujuan.

Kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan efisien dalam usaha pencapaian tujuan instruksional jika melibatkan komponen proses belajar secara terencana. Sebab sumber belajar sebagai komponen penting dan sangat besar manfaatnya. Salah satu komponen dalam proses pembelajaran adalah menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai pengawas di Gugus Bama, Kecamatan Demong Pagong, Kabupaten Flores Timur, masih banyak guru belum menunjukkan KKM sesuai dengan SK dan KD pembelajaran.

Sekolah cenderung bertanya kepada kepala sekolah atau guru lain di sekolah lain untuk menyamakan penetapan KKM. Masih bayak guru belum mengerti tentang cara penetapan KKM dan rambu-rambu penentapan KKM.

Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan tahapan awal pelaksanaan penilaian hasil belajar sebagai bagian dari langkah pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi yang  menggunakan acuan kriteria dalam penilaian, mengharuskan pendidik dan satuan pendidikan menetapkan KKM dengan  analisis dan memperhatikan mekanisme, yaitu prinsip dan langkah-langkah penetapan.

Kenyataan di lapangan, guru dalam menetapkan KKM tidak berdasarkan analisis dan tidak memperhatikan prinsip serta langkah-langkah penetapan. Oleh karena itu, perlu ada kegiatan pada awal tahun pelajaran yang dapat memberikan informasi kepada guru yang dijadikan  pedoman dalam penetapan KKM.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Guru Di SDK Lewokluok Dalam Menentukan KKM Tiap Mata Pelajaran Melalui Kegiatan KKG/KKGMP”.

Yang menjadi masalah dal;am penmelitian ini adalah “Bagaimana upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) melalui kegiatan workshop?”

Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari peneliti yang meliputi empat tahapan yaitu tahapan perencanaan, tahapan pelaksananaan, tahapan observasi dan tahapan refleksi.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru di Gugus Bama, Kecamatan Demong Pagong, Kabupaten Flores Timur.

Manfaat dalam penelitian ini adalah (1) melalui KKG/KKGMP diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar bagi guru, karena melalui KKG/KKGMP guru diberikan materi dan latihan menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di Sekolah Dasar. (2) Guru di Gugus Waibelen memiliki kemampuan dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal sehingga proses belajar mengajar lebih baik.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah yang dianalisis secara deskriptif kualitatif yang terdiri dari empat tahapan. Yaitu tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Lokasi penelitian ini adalah Gugus Bama, Kecamatan Demong Pagong, Kabupaten Flores Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2015..

Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di Gugus Bama, Kecamatan Demong Pagong, Kabupaten Flores Timur, berjumlah 60 orang..

Prosedur Penelitian: Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap. Yakni (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.

Perencanaan; kegiatan yang dilakukan peneliti dalam perencanaan adalah menyiapkan tempat penyelenggaraan KKG/KKMG. Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah. Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah.Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / melakukan tindakan. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas.  Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan. Antara lain, memaparkan materi dalam kegiatan workshop. Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal. Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.

Selanjutnya, guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-msing mata pelajaran dalam kelompok. Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

Observasi/ Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus) untuk semua guru yang berjumlah 42 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu oleh guru pembimbing atau pemateri.

Pengamatan oleh peneliti meliputi Kemampuan merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran. Kemampuan untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran.. Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Refleksi dilaksanakan bersama pembimbing untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.

Siklus II

Kegiatan siklus II sama dengan siklus I. Pemaparan materi di siklus II tidak dilaksanakan lagi. Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua, maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus kedua tersebut. Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah melalui data kualitatif yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain adalah skala penilaian dan lembar pengamatan. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang  bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun penulisan penelitian tindakan kelas yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini.

Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 85% guru mampu menentukan KKM masing-masing mata pelajaran.

Pembahasan

Kegiatan KKG/KKGMP menentukan KKM terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Keempat tahapan tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

Tahapan perencanaan siklus I meliputi menyiapkan lokasi KKG/KKGMP. Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan KKG/KKGMP. Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah. Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / melakukan tindakan.  Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain : memaparkan materi dalam kegiatan KKG/KKGMP. Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang. Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal. Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-msing mata pelajaran dalam kelompok. Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan KKG/KKGMP.

Hasil observasi guru siklus I dalam menentukan KKM masing-masing mata pelajaran di gugus Bama Kecamatan Demong Pagong Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 21 orang guru dengan prosentase 50%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 17 orang dengan prosentase 40,48%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 16 orang dengan prosentase 38,09% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 16 orang dengan prosentase 38,09%.

Melihat hasil yang diperoleh pada siklus I belum menunjukan hasil yang memuaskan. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini peneliti tetapkan sebesar 85% dalam menyusun penelitian tindakan kelas. keempat aspek penilaian belum menunjukkan hasil yang signifikan. Artinya berdasarkan indikator jika guru sudah mencapai 85% maka guru dikatakan mampu dalam menentukan KKM. Ketiga aspek yang belum mencapai indikator tersebut adalah guru yang belum mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 21 orang guru dengan prosentase 50%. Jumlah guru yang belum mampu  mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 25 orang dengan prosentase 59,52%.

Jumlah guru yang belum mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 26 orang dengan prosentase 61,91% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 16 orang dengan prosentase 61,91%. Setelah melalui refleksi maka perlu adanya perbaikan di siklus II.

Tahapan perencanaan siklus II meliputi menyiapkan tempat diselengarakan workshop. Menghubungi sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan sekolah. Menghubungi pembimbing untuk meelaksanakan penelitian tindakan sekolah. Menyiapkan materi dalam melaksanakan penelitian. Mengidentifikasi pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah / menghadapi tantangan / melakukan tindakan. Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan. Metode pengumpulan data yang diambil oleh peneliti merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan guru serta wawancara kepada para guru mengenai masalah yang ditemukan di kelas. Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi. Mengidentifikasi fasilitas yang diperlukan.

Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah siklus II dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain Membagi guru dalam delapan kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang.  Menjelaskan tentang cara memperoleh Kriteria Ketuntasan Minimal. Guru diberi tugas mengumpulkan SK dan KD masing-masing mata pelajaran. Guru diberi tugas merumuskan Komplesitas untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Daya Dukung untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan. Guru diberi tugas merumuskan Intake untuk masing-masing mata pelajaran dengan krietria penilaian yang telah dijelaskan.  Guru diberi tugas merumuskan KKM masing-masing mata pelajaran. Mempresentasekan hasil penentuan KKM masing-msing mata pelajaran dalam kelompok. Mengumumkan KKM masing-masing mata pelajaran di dalam kegiatan workshop.

Sedangkan hasil observasi guru siklus II dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di Gugus Bama, Kecamatan Demong Pagong, Kabupaten Flores Timur menunjukkan bahwa jumlah guru yang mampu merumuskan Kompleksitas untuk tiap mata pelajaran ada 42 orang guru dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu  mampu merumuskan Daya Dukung untuk tiap mata pelajaran ada 42 orang dengan prosentase 100%. Jumlah guru yang mampu merumuskan Intake untuk tiap mata pelajaran ada 42 orang dengan prosentase 100% sedangkan guru yang untuk menentukan KKM masing-msing mata pelajaran ada 42 orang dengan prosentase 100%.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan KKG/KKGMP efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di gugus Bana Kecamatan Demong Pagong Kabupaten Flores Timur.

Saran

Adanya pengaruh peningkatan kemampuan menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran melalui kegiatan KKG/KKGMP, maka melalui kesempatan ini peneliti mengajukan beberapa saran : (1) Semua Kepada Kepala Sekolah disarankan melakukan monitoring kepada guru dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran di sekolah. (2) Kepada semua guru dalam melaksanakan tugas untuk dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menentukan KKM tiap-tiap mata pelajaran sebagai bentuk peningkatan profesi guru. (*)

No comment for Meningkatkan Kemampuan Guru Di SDK Lewokluok Dalam Menentukan KKM Tiap Mata Pelajaran Melalui Kegiatan KKG/KKGMP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.