Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Menggapai Pendidikan Yang Luas, Merata dan Berkeadilan di Lembata

Menggapai Pendidikan Yang Luas, Merata dan Berkeadilan di Lembata

(875 Views) March 3, 2017 1:38 pm | Published by | No comment

Kades Kolontobo, Philipus Payong Lamatapo menyerahkan buku kepada Kepala SD Inpres Ohe, Kolontobo disaksikan Direktur LSM Menza, Valentinus Ola Senior. (foto:santaum)

LEWOLEBA, aksiterkini.com – 196 siswa di SD Inpres Ohe, Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata mengacungkan buku. Ratusan buku berbagai judul itu baru diterima dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Menza. Seperti merindukan buku bertahun-tahun, siswa SD itu kemudian mencari tempat dan membaca buku yang baru dibagikan, Jumad (3/3) siang.

Kepala Sekolah SD Inpres Ohe, Felixianus Arakian tak kuasa menyimpan rasa syukurnya. Ia berterima kasih atas perhatian LSM Menza, yang membagikan buku secara gratis.

“Saya kira buku menjadi hal penting yang harus diperhatikan untuk menunjang keberhasilan siswa. Saya selalu tekankan kepada siswa bahwa kurikulum K-13, menuntut anak anak untuk gemar membaca. Aktivitas anak yang tidak bermanfaat seperti bermain berlebihan dapat berkurang. Tetapi kami butuh buku,” ujar Felixianus Arakian, Kepala Sekolah SDI Ohe.

Kesulitan yang dihadapi adalah gedung perpustakaan, pengelolaan perpustakaan, tenaga khusus kelola perpustakaan, minat baca yang kurang, apalagi menulis. Arakian mengisahkan, proyek pengadaan perpustakaan sekolah dari dana DAK Tahun Anggaran 2015 hanya cukup untuk pengadaan meja, lemari dan rak buku. Sementara buku sebagai sumber pengetahuan belum cukup.

Tak ada makan siang gratis. Peribahasa ini, rupanya tak berlaku bagi sekelompok pemuda yang tulus mengerahkan kemampuan memberikan buku, memacu minat baca, memperkaya pengetahuan anak-anak dan remaja putus sekolah serta menggerakkan siswa putus sekolah untuk kembali ke bangku sekolah. Mereka mengisi ruang kosong di sektor pendidikan yang luput dari perhatian pemerintah. Kebebasan memperkaya pengetahuan secara berkeadilan, mendekatkan buku dan kebutuhan taman baca yang menyenangkan.

Menza, Lembaga Swadaya Masyarakat, besutan seorang pemuda bernama Valentinus Ola Senior, memutuskan untuk menjadi sinterklas. Bersusah payah menyediakan bahkan mendistribusi buku-buku secara gratis ke Taman Kanak-Kanak (TKK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Lembaga ini pun terus berupaya meyakinkan siswa putus sekolah untuk kembali ke bangku sekolah.

“Yang pertama, kami indentifikasi sekolah dan melihat secara langsung kebutuhan mereka, baru kami bisa turunkan buku sesuai dengan kebutukan sekolah. Sejauh ini sudah 2.474 judul buku yang sudah kami bagikan kepada 79 SD di Kabupaten Lembata. Kami ingin menjangkau semua sekolah SD dan TKK – PAUD yang ada di Lembata,” ucap Valentinus Ola Senior, Direktur Menza.

Melalui Pendidikan Layanan Khusus (PLK), Ola Senior dan kawan-kawan mendampingi anak yang putus sekolah untuk kembali ke bangku sekolah.  Kebanyakan siswa putus sekolah karena orang tua merantau. Tekanan hidup bersama keluarga yang bukan orang tua kandung menyebabkan anak anak itu putus sekolah. Menza mendampingi siswa dan orang tua asuh untuk menyediakan waktu dan kenyamanan bagi anak untuk kembali ke bangku sekolah.

Para siswa tampak gembira mendapat sumbangan buku gratis dari LSM Menza. Tampak para siswa mengangkat buku yang baru diterima.

“Kalau jalur pendidikan layanan khusus, kami dampingi 25 siswa SMA, siswa SMP 15 orang. Kami ajak sekolah di alam bebas. Pendampingan lebih ke pembinaan mental. Kami kemudian meyakinkan pemerintah telah memberlakukan pendidikan gratis sehingga anak-anak diarahkan kembali ke bangku sekolah,” ujar Ola.

Dia mengaku, hanya memiliki semangat memberikan pengetahuan melalui buku dan menggerakkan siswa untuk mengenyam pendidikan formal sebelum menyesal di kelak kemudian hari.

“Ada yang sudah kembali ke sekolah melalui program pendidikan layanan kusus (PLK). Kami cuma punya ide dan kemampuan mengerjakan ide. Saya inginkan agar anak-anak putus sekolah ini diasramakan kemudian disadarkan utuk sekolah sampai SMA,” ujar Ola.

Kepada aksiterkini.com, Valentinus Ola Senior menyebutkan bahwa kebanyakan sekolah saat ini tidak memiliki buku. “Kalaupun ada, itu hasil proyek pengadaan buku, terbatas nomenklatur. Minimnya buku juga tingkat minat baca anak-anak  kita sangat kurang. Nah, ini butuh perhatian khusus bagi yang pemangku kepentingan. Persoalan ini juga tidak terlepas dari peran partisipasi orang tua terhadap anak soal budaya baca,” ujarnya.

Lembaga nirlaba ini telah menyalurkan 2.474 judul buku kepada 79 dari 176 SD di kabupaten Lembata secara gratis. Tak menuntut bayaran, Ola bersama 3 rekannya di LSM itu memulai kiprahnya sejak tahun 2014.

“Saya pribadi adalah lulusan paket C. Sangat tidak cukup pengetahuan menjalani hidup. Untuk menambah referensi pengetahuan, saya memacu diri untuk selalu membaca. Tetapi masalahnya tidak ada buku. Melalui facebook, seribu buku untuk anak Lembata, saya meminta donasi buku. Ternyata mendapat response bagus dari luar. Dan, saya mulai gerakan itu dari sekolah ke sekolah, membagi buku secara gratis,” ujar Ola, Direktur LSM Menza.

Sebagai gudang ilmu pengetahuan, kata dia, buku dan minat baca dipandang sebagai cara murah dan sederhana mewujudkan akses pendidikan yang luas, merata dan berkeadilan. Buku masih menjadi barang langka di Lembata, sementara internet tak menjangkau pelosok.

Setali tiga uang, Taman Daun, sebuah perpustakaan dengan nuansa taman sejuk dan menyegarkan, letaknya di Bluwa, Keluarahan Lewoleba Barat. Sepintas, fasilitas sederhana ini mirip kafe.

Sederetan ornamen seperti kulit siput laut dipajang di dalam toples botol, diletakan di rak kayu yang dilukis abstrak. Mskipun dalam kondisi sederhana, namun penataan Lokasi Taman Daun ini sangat bernilai.

Lembaga ini berkomitmen menyediakan wisata edukasi, menyediakan buku kemudian menggratiskan para pelajar membaca koleksi Taman Daun tanpa harus menjadi anggota.

“Bulan Maret, Taman Daun genap 30 tahun. Kami memoles kesederhanaan dengan seni rupa. Tujuannya sederhana, anak sekolah mendapat suasana belajar Dan membaca dengan bebas, tanpa takut gurunya. Mereka juga punya banyak pilihan bacaan di sini,” ujar Goris Batafor.

Dua lembaga swadaya masyarakat ini memulai mewujudkan akses pendidikan yang luas, merata dan berkeadilan. Sebuah pilihan yang melampaui tanggung jawab negara dengan cara sederhana.

Di lain pihak, Sekretaris Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata, Yohanes Lako Udak, mengatakan, pihaknya memiliki ribuan koleksi buku, berfungsi sebagai pengayaan. Meski memiliki dua unit mobil perpustakaan keliling, namun minat baca guru dan PNS sangat kurang.

“Data pengunjung ke Perpustakaan Daerah tahun 2016 menunjukan pengunjung terbanyak adalah siswa SD, sebanyak 1607, disusul siswa SMP sebanyak 1292, disusul siswa SMA sebanyak 889, PNS sebanyak 75 kali kunjungan dan guru sebanyak 5 kali kunjungan,” ujar Yohanes Lako Udak, sekretaris Perpustakaan Daerah Kabupaten Lembata.(san taum/fredy wahon)

Topik:
News:

No comment for Menggapai Pendidikan Yang Luas, Merata dan Berkeadilan di Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.