Menu Click to open Menus
Home » POLKAM » Mado Watun Sebut Sumber Daya Dokter Spesialis Lemah, Dokter PTT Lembata Hanya Cari Signal HP

Mado Watun Sebut Sumber Daya Dokter Spesialis Lemah, Dokter PTT Lembata Hanya Cari Signal HP

(6912 Views) July 27, 2016 2:20 pm | Published by | 5 Comments
Viktor Mado Watun

Wabup Viktor Mado Watun, SH

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Sumberdaya dua dokter spesialis yang menghuni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba dinilai lemah, sementara dokter PTT yang ditugaskan di sembilan Puskemas tidak bekerja maksimal karena alasan signal handphone. Padahal tenaga medis yang datang berkat kerjasama Pemda Lembata dengan Universitas Brawijaya Malang dan Udayana serta kerjasama dengan Rumah Sakit (RS) Saiful Anwar dan salah satu rumah sakit di Bali itu dibayar dengan gaji yang sangat mahal.

Selain masalah sumberdaya tenaga medis, kurangnya sarana kesehatan di RSUD Lewoleba membuat banyak pasien harus dirujuk ke Rumah Sakit (RS) lain di luar Lembata.

Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun menerangkan hal ini ketika hadir sebagai pembicara dalam diskusi publik dengan tema Curah Pendapat 17 Tahun Otonomi Lembata di aula Kantor Camat Nubatukan, Sabtu (23/7) lalu. Pernyataan ini disampaikan Wabub Lembata menanggapi keluhan tentang buruknya pelayanan di RSUD Lewoleba yang disampaikan salah satu peserta diskusi.

Tak cuma itu, dalam diskusi yang diprakarsai Aktivitas Pendalaman Iman (API) Reinha Rosari Mahasiwa Katolik Dioses Larantuka – Kupang itu, Wabup Mado Watun mengaku pernah menegur langsung dokter spesialis di RSUD Lewoleba karena tidak mampu menangani pasien.

“Dua dokter spesialis kita danai dengan Rp 25 juta per bulan per orang. Begitu dia kerja, kurang satu alat saja dia tidak bisa ambil tindakan, dan pasien harus dirujuk, sehingga saya pernah bilang mereka begini, dokter, kalau semua dirujuk sebaiknya anda pulang saja. Iya… karena yang kita minta datang kesini adalah dokter yang belum sempurna menjadi dokter spesialis. Begitu juga dengan dokter PTT, keberadaan mereka di Puskemas hanya satu atau dua hari saja, kerjanya hanya bolak-balik cari sinyal HP. Padahal mereka kita kontrakan dengan Rp 10 juta per bulan. Kita punya dokter ahli yang dikasih tunjangan mahal tetapi pelayanan masih buruk juga. Beginilah kondisi daerah kita,” kata Wabup Mado Watun.

Lebih jauh dalam penjelasannya, Viktor Mado juga mengatakan, 90 persen tenaga medis baik perawat maupun bidan di kabupaten Lembata berijazah D3. Kedepan dibutuhkan tenaga medis berijazah S1. Menurutnya, infomasi tentang kebutuhan tenaga medis dengan latar belakang pendidikan Starata 1 itu dia peroleh saat dirinya berkunjung ke kantor Kementerian Kesehatan RI di Jakarta, belum lama ini.

 

Bukan Sekedar Omong

Pernyataan Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun ini disesalkan Direktur RSUD Lewoleba, dr. Bernard. Dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Rabu (27/7), dokter Bernad mengatakan, kalau banyaknya pasien yang dirujuk ke luar Lembata bukan karena lemahnya sumber daya dokter. Menurutnya, status rumah sakit dan ketersediaan sumber daya manusia serta sarana penunjang yang terbatas menyebabkan tidak semua penyakit bisa ditangani di RSUD Lewoleba.

“Mereka sudah selesai studi spesialis, tinggal tunggu keputusan yudisiumnya, dan justru kitalah yang harus bersyukur karena mereka mau mengabdi di daerah kita. Omong soal rujuk, kita yang dokter lengkap saja kalau tidak bisa tangani yah.. kita rujuk. Jadi ini soal status rumah sakit juga sarana penunjang yang terbatas sehingga tidak semua penyakit bisa kita tangani di sini. Saya kasih contoh, untuk pasien kanker, harus kita rujuk. Kekurangan seperti itu pemerintah harus ambil langkah dan mari kita benahi bersama, bukan sekedar omong saja,” sesal Bernard.

Dalam perbincangan melalui sambungan telepon ini, Bernard juga mengklarifikasi informasi tentang besaran tunjangan dokter spesialis. Menurutnya, jika dibanding dengan kabupaten lain, tunjangan untuk tenaga dokter spesialis di Lembata sangat kecil. Tawaran gaji yang kecil itu, menurutnya, menjadi hambatan untuk mencari tenaga dokter baru.

“DIPA RSUD Lewoleba untuk item anggaran gaji dokter sebesar Rp 15 juta per bulan, bukan 25 juta seperti yang disampaikan pak Wakil Bupati. Itu informasi yang salah. Kalau kita bandingkan dengan kabupaten lain maka tawaran gaji untuk dokter spesialis kita sangat kecil. Di kabupaten lain gaji mereka rata-rata Rp 30-an juta. Jadi sekali lagi kitalah yang harus bersyukur bahwa mereka mau mengabdi di sini dengan tunjangan yang kecil,” tandasnya.

Lebih jauh, dokter Bernad juga menginfomasikan bahwa pada tanggal 5 Agustus 2016 nanti, RSUD Lewoleba akan mendapat tambahan tenaga dokter spesialis dari RS Saiful Anwar-Malang, masing-masing dokter spesialis penyakit dalam, spesialis bedah dan anestesy.

Lantas bagaimana dengan dokter PTT? “Ada dokter PTT pusat dan PTT daerah. Tapi itu di bawah koordinasi Dinas Kesehatan. Jadi saya no coment,” pungkasnya. (ogy)

Topik:
News:

5 Comments for Mado Watun Sebut Sumber Daya Dokter Spesialis Lemah, Dokter PTT Lembata Hanya Cari Signal HP

  • pius Kulu Beyeng says:

    Ini soal sistim pak Wabup. Tidak bisa dilihat sepotong sepotong. Benar kata Kepala RSUD Lewoleba.

    Berikut ini soal sangat tekhnis di bidang kedokteran. Dan menyangkut nyawa manusia. Seorang dokter terikat kode etik dan sumpah profesi, dan tidak bisa bertindak di luar protap dan bisa dipidana pak Wabup.

    Bagaimana kalau nanti para dokternya ngamuk atau mogok, apa kita yang awam ini bisa.

    Soal upah itu hak dan juga regulasi. Jika pemerintah membiaya, ya itu kewajibannya demi untuk masyarakat.

  • Daniel says:

    Pak wabup yth,
    Nama saya dr daniel, saya bekas residen yang pernah membantu rsud anda di medio 2014.
    Setelah saya perhatikan uraian yang anda berikan, saya jadi berkesimpulan bahwa anda kok hanya omong besar tapi tidak tahu apa2 ya? Anda seorang dokter bukan?
    Kalau anda bukan dokter, semestinya tidak pada tempatnya anda berbicara spt itu. Tanyakan dahulu secara mendetail apa masalahnya sampai seorang spesialis atau dokter ptt harus sampai merujuk pasien?
    Anda pikir rsud anda itu sudah hebat dan canggih sekali penunjangnya? Alat bantu nafas yang semestinya adalah suatu keharusan di icu saja tidak ada dan anda mengharapkan seorang pasien gawat bisa selamat? Selamat bermimpi di siang bolong bapak.
    Blm di lab yang reagen utk pemeriksaan saja banyak yg tidak ada. Jangan tanya di bagian radiologi pula, yg pemeriksaannya serba terbatas dengan SDM yg terbatas pula.
    Anda tahu soal itu semua pak wabup yang terhormat? Tidak kan?
    Yang harus anda perhatikan adalah, bukan 1 atau 2 pasien yang tidak tertolong atau harus dirujuk, tapi berapa banyak pasien yg sudah kami bantu dengan izin TUHAN! Dan anda suruh dokter spesialis utk pulang? Sangat tidak sopan dan tidak menghargai profesi orang lain.
    Lebih baik anda urus saja jalanan lembata yang carut marut seperti omongan anda. Tidak pernahkah ada masyarakat yang mengeluh soal jalanan ke telinga anda?
    Anda tahu bahwa akses yang baik di suatu daerah akan meningkatkan ekonomi masyarakatnya? Saya sudah keliling lembata berkali2 dan yg saya dengar hanya keluhan tentang jalan raya yg tidak pernah kunjung baik. Coba anda pwrbaiki itu dulu, bisa?
    Saya dapat uang gaji 15 JUTA SEBULAN, BUKAN 25 JUTA SEBULAN. Sekarang saya bekerja di sumba dengan gaji berkali lipat dari yg pemkab lembata berikan dan pemerintah sumba sangat menghargai saya dan profesi saya.
    Dan saya tidak sedikitpun berniat untuk membantu kembali lembata dengan fasilitas yg msh sama spt dulu apalagi dengan omongan bapak yg sombong seperti itu.
    Jadi, jangan asal bunyi pak wabup yth.

    Akhir kata dari saya, pak wabup yg terhormat. Silakan berpolitik, jika anda saat ini sedang berpolitik. Tapi mohon lakukanlah dengan bersih, jangan memojokkan orang lain. Menaikkan mutu dengan cara menjatuhkan orang lain adalah suatu cara yang cepat hasilnya tapi sungguh merusak efek yg ditimbulkannya.

  • gias says:

    Kehendak pak wakil tuk perbaiki bagus juga n saya sepakat…. Bagaimana bisa maju kalo pemimpinnya instansi tersebut saja tdk tau apa yg dia nahkodai, Jadi apa bawahan, Di tambah bawahan yang acuh tak acuh n ingat skrg bukan rahasia lg karyawan rumah sakit penyumbang perceraian keluarga terbanyak untuk lembata. N ruangan di pakai karyawan buat esek2… Mari merenung Dimanakah Adat Istiadat lamaholot sekan hancur di 5 tahun ini…

  • Francesco Siregar says:

    Bapak Wabup yg terhormat,

    Membaca pernyataan Bapak diatas saya menilai anda sangat lemah dalam membuat pernyataan publik yg merusak Nama baik beberapa orang terkait profesi mereka sebagai tenaga medis yg sudah berbakti di kabupaten yg anda wakili sebagai Wabup di Lewoleba. Apakah betul para tenaga medis di tempat yang terpencil tsb menerima penghasilan sejumlah nilai yg anda besar2kan, Dan tidak be kerja maksimal sesuai statement anda?
    Pernahkah anda duduk di RSUD atau tempat pelayanan kesehatan setempat, sehingga anda begitu yakin membuat pernyataan yg isinya hanya fitnah belaka?
    Lalu, kemana saja anda selama ini?, bila betul pernyataan anda tersebut diatas, di mana tanggung jawab anda sebagai Wabup?
    Coba pikirkan bila para tenaga medis tersebut adalah sanak saudara anda atau anda sendiri, anda sudah melakukan pelecehan profesi.
    Seharusnya sebagai wakil kepala daerah, anda bangga dengan keberadaan para tenaga medis ini, tapi anda malah mempermalukan diri anda sendiri.
    Satu saran saya Pak Wabup, bila ingin berpolitik, berpolitiklah dengan cantik dan jujutsu. Jangan mengorbankan profesi / nama baik orang lain untuk mencapai tujuan anda. Sangat tidak elok dan mempermalukan putera daerah.
    Banyak cara untuk bermanuver Pak, Alih-alih mendapat dukungan, anda malah mendapat sumpah serapah.
    Kalau anda lelaki sejati, sewajarnya anda memohon ma’af pada para tenaga medis yang sudah anda fitnah.
    Kalau berniat membangun daerah seharusnya anda berusaha utk memenuhi kebutuhan peralatan medis di daerah yang anda pimpin, itu baru pemimpin yg bijak Dan hebat.

  • anno says:

    Bapak wakil bupati yang kami Hormati, anda minta tenaga medis S1 kedepannya di perbanyak, ??jangan terlalu bermimpi,.Sudah terlalu banyak anak tanah lomblen yang sudah tidak nyaman lagi untuk kembali ke kampung halaman untuk mau bekerja mengabdi tanah leluhur. Adapun yang diterima pada akhirnya bakal tidak nyaman lagi. salah satu faktor pencetusnya adalah tipe pemimpin yang kurang analisa dan blusukan seperti anda. mari melawan lupa pak.!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *