Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Lembata Negeri Malaria, Dukungan Dana Miris

Lembata Negeri Malaria, Dukungan Dana Miris

(781 Views) November 17, 2016 3:01 am | Published by | 1 Comment

Kornelis Kodi Mete

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Kendati berbagai program pemberantasan malaria sudah digulirkan di NTT dan Kabupaten Lembata, namun hingga kini kabupaten Lembata masih menjadi daerah endemic malaria. Lembata layak disebut negeri para nyamuk penyebab malaria.

Selain menggelar program pembagian 1 juta kelambu di Seluruh wilayah NTT, di Kabupaten Lembata kini mulai digelar program berantas malaria dalam dua tahun.

Program tersebut diselenggarakan berkat kerjasama WHO dan Kementerian Kesehatan RI dibantu Dinas Kesehatan Propinsi NTT.

Kepala Dinas Kesehatan Propinsi NTT, Cornelius Kodi Mete saat bertatap muka dengan Penjabat Bupati Lembata, Sinun Petrus Manuk serta Tim Eksternal Review yang terdiri dari WHO dan Kementerian Kesehatan RI, Rabu (15/11/2016), di ruang rapat Bupati Lembata, mengatakan, pihaknya tengah melakukan gerakan pembagian 1 juta kelambu untuk memberantas malaria di seluruh wilayah NTT. Namun gerakan 1 juta kelambu harus diikuti kemauan dan kesadaran warga.

Sementara, Ketua Tim Eksternal Review Kementerian Kesehatan RI,  Budi Pramono, menjelaskan, pihaknya bekerjasama dengan WHO tiba di Lembata untuk  mengumpulkan data dan membahas sejumlah permasalahan berkaitan dengan malaria di Lembata. Sehingga menjadi masukan bagi pemerintah pusat dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan pemberantasan malaria.

Kegiatan pemberantasan malaria yang didukung WHO dan Kemenkes yang tergabung dalam Tim External Review ini akan melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah Lembata dan Puskesmas Rawat Inap Waipukang selama dua hari.

Program berantas malaria yang digelar di Lembata dilaksanakan dengan dukungan tenaga kesehatan tersebar di sembilan (9) Puskesmas di Lembata.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Lusia Sandra G.A, menjelaskan Lembata menjadi endemik malaria nomor satu di NTT disebabkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan belum memadai.

Lusia mengungkapkan, masih tingginya angka kematian disebabkan Malaria di Lembata, disebabkan karena kurangnya obat obatan persediaan dari propinsi, kurangnya kesadaran masyarakat menggunakan kelambu berinsektisida, kurangnya dukungan dana dari APBD II.

Soal dukungan dana ini, demikian Lusia, pada tahun 2011 APBD II hanya mengalokasikan Rp 2,6 juta, 2012 meningkat menjadi Rp 17,7 juta, 2013 anggaran APBD nihil, 2014 dialokasikan Rp 12 juta, dan 2015 hanya Rp 6,6 juta.

Mendengar pemaparan dukungan dana dari APBD yang minim ini, penjabat Bupati Lembata, Sinun Petrus Manuk merasa prihatin.

Manuk pun meminta agar Dinkes fokus merencanakan pemberantasan malaria secara serius dan membuat laporan termasuk anggaran kepada dirinya agar bisa disampaikan dalam.pembahasan anggaran APBD 2017 mendatang.(sandrowangak)

Topik:
News:

1 Comment for Lembata Negeri Malaria, Dukungan Dana Miris

  • Robert Hutabarat says:

    Sangat senang melihat penjabat Bupati Lembata yang ada saat ini pro kepada kesehatan khususnya pemberantasan penyakit Malaria,
    Sehat Lembata-ku, Sehat Rakyat-ku

    Salam hangat
    -Robert Hutabarat-
    Ex. Program Koordinator Kesehatan Ibu Bersalin dan Bayi Baru Lahir Kab. Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *