Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Laut Lamalera Diberkati 14 Imam

Laut Lamalera Diberkati 14 Imam

(1830 Views) May 5, 2016 3:02 pm | Published by | No comment
DSC_2531

Para imam sedang memberkati laut di Pantai Lamalera.

Lamalera musim leva. Ditandai dengan misa pembukaan yang berlangsung di pantai, Minggu (1/5/2016). Umat berjubel memadati pantai berpasir hitam tersebut. Tak hanya warga Desa Lamalera dan sekitarnya, wisawatan dalam dan luar negeri berada diantara warga setempat.  

Berbeda dengan tahun sebelumnya, misa leva tahun ini dipimpin 14 Imam. Selebran utamanya adalah Romo Vikjen Keuskupan Larantuka, Rm. Gabriel Unto da Silva, Pr. “ Dalam hidup itu harus ada aksi dan reaksi, ada tindakan dan refleksi. Ombak saja, untuk lebih dasyat menghempas dia harus mundur agak jauh. Kita harus belajar dari ombak, untuk mendapatkan kekuatan dalam tindakan kita harus berefleksi,” ujar Rm. Gabriel dalam kotbahnya.

Misa pembukaan musim leva (musim penangkapan ikan paus) ini ditandai dengan pemberkatan perahu (peledang) serta peralatan tangkap dan juga pemberkatan laut. Dengan pemberkatan diyakini, hasil tangkapan lebih banyak dan semua aktivitas melaut berjalan lancar dalam restu Tuhan dan leluhur.

Seharusnya musim leva juga ditandai dengan pelepasan satu peledang, namun karena di hari minggu semua aktifitas di laut dihentikan maka upacara tersebut di jadwalkan keesokan harinya. Di Hari pertama itu, satu peledang yakni Praso Sapang yang dianggap sebagai ‘negosiator’ harus melakukan ‘janji bertemu di pasar’ (tenna fule). Laut oleh masyarakat Lamalera adalah juga pasar dan karena itu harus ada janji dengan penghuninya untuk bertemu.

Sehari sebelum Misa Leva, di pantai Lamalera, seperti biasa dilangsungkan misa mengenang arwah nelayan Lamalera yang meninggal dunia saat berjuang menaklukan paus. Usai misa, semua umat melabuhkan lilin bernyala dan karangan bunga. “Ini disebut gnato ume lamak (kirim bagiannya arwah anggota keluarga yang sudah meninggal),” ujar Bapak Beatus Korohama, pensiunan guru ini.

Beberapa ritual adat, ujar Korohama, yang harus  dilakukan sebelum tanggal 1 Mei yakni Tobu Neme Fate. Tiga bersaudara (lika telo) yakni Suku Bataona, Blikololong dan Levotukan, serta tuan tanah (fujon, tufan) dan Leva alep (nelayan) berkumpul dan melakukannya. Dalam upacara ini, dibicarakan semua hal yang berkaitan dengan suku, tuan tanah, masalah-masalah dalam kampung dan diselesaikan saat itu. Acara ini lalu dilanjutkan dengan Ie Gerek (memanggil roh ikan paus) di batu Paus, sebuah batu besar yang sangat persis menyerupai ikan paus. Upacara yang dilakukan setiap tanggal 29 April ini dilakukan oleh tuan tanah Suku Langofujo.

Fakta yang tak terbantahkan adalah Lamalera sudah mendunia karena tradisi penangkapan ikan paus dengan peralatan tradisional. Perkampungan nelayan di selatan Pulau Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur ini terbagi menjadi dua desa yaitu Desa Lamalera A dan Desa Lamalera B dengan jumlah penduduk kurang lebih 2.000 jiwa. Secara  administratif, Desa Lamalera A (Atas) dan B (Bawah) ini berada di wilayah Kecamatan Wulandoni. Perkampungan Lamalera berhadapan langsung dengan laut Sawu.

Bangunan rumah-rumahnya permanen, dibangun di atas bebatuan cadas di kaki bukit.  Pantainya, adalah butiran halus pasir berwarna hitam pekat sepanjang kurang lebih 150 meter. Karang-karang dan bebatuan ‘mengisi’ sebagian besar bibir pantainya. Kurang lebih 30 an rumah-rumah perahu (disebut peledang) beratap anyaman lontar yang disanggah tiang-tiang kayu bulat berderet rapi. Tanpa dinding.  Rumah perahu ini dalam bahasa setempat disebut Naje. Naje juga menjadi tempat melakukan aktivitas menganyam berbagai kerajinan dari daun lontar, membuat tali temali untuk alat tangkap dan  membuat sampan yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil. Naje juga adalah tempat istirahat siang yang nyaman dari terik matahari yang menyengat dan udara panas.

Lamalera juga mengenal musim istirahat atau dalam bahasa setempat disebut lefa bogel. Di musim ini, nelayan hanya mencari ikan-ikan kecil saja. Sementara musim leva berlangsung enam bulan sejak bulan Mei – Oktober.

 Jalan Buruk

Mengakui  senang bisa mengikuti misa leva, beberapa wisatawan mengeluhkan jalan yang buruk di sejumlah titik sebelum sampai di Lamalera. Tujuh orang dokter PTT, yang bertugas di Kabupaten Lembata yakni  dr. Ines, dr. Ersa, dr. Frischa, dr. Fanny, dr. Nely, dr. Maria Anastasia dan dr. Agus juga mengungkapkan hal yang sama.

“Saya baru kali ini mengikuti upacara leva di Lamalera ini, saya puas karena  niat saya terpenuhi. Saya bisa ikut dari awal sampe akhir. Yang perlu dibenahi jalan ke Lamalera,” ujar dr Ersa yang asal Ende ini.

Sementara dr. Maria Anastasia, kepada aksiterkini.com mengatakan momen ini berharga baginya karena bisa berkunjung di Lamalera, kampung wisata yang selama ini hanya didengarnya saja dan dibaca di internet.

“Saya senang sekali, bisa ke Lamalera. Kampung wisata yang selama ini saya dengar, dengan budaya penangkapan ikan paus secara tradisional. Saya juga bisa ikut upacara dari awal hingga akhir, upacara yang dilaksanakan sebelum berburu, bisa lihat ikan paus secara langsung, lihat dipotong, intinya luar biasa Lamalera,” ujar dokter yang betugas di Puskesmas Loang ini.

Dirinya juga mengharapkan kepada pemerintah agar bisa memperbaiki jalan menuju Lamalera, sehingga wisatawan yang mau berkunjung ke Lamalera bisa menikmati perjalanan dengan baik. (paul/osy)

Topik:
News:

No comment for Laut Lamalera Diberkati 14 Imam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *