Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Lagi, Pernyataan Sikap SIMPEL: Copot Yentji Sunur  Sebagai Bupati Lembata

Lagi, Pernyataan Sikap SIMPEL: Copot Yentji Sunur  Sebagai Bupati Lembata

(1347 Views) June 10, 2016 1:39 pm | Published by | No comment
SIMPE Ombudsman

SIMPEL menyerahkan surat pengaduan ke Ombudsman NTT.

KUPANG, aksiterkini.com – Solidaritas Mahasiswa Peduli Lembata (SIMPEL) kembali mengeluarkan pernyataan sikap. Kali ini, judulnya: Copot Eliaser Yentji Sunur, ST Sebagai Bupati Lembata.

Pernyataan sikap yang dikeluarkan di Kupang, Jumat, 10 Juni 2016, itu ditandatangani Koordinator Umum SIMPEL, Igo Halimaking dan Koordinator Lapangannya, Vinsensius F. Prasong. Berikut petikan lengkap pernyataan sikap tersebut:

A.LANDASAN

Femomena ijazah palsu bukanlah sesuatu yang asing bagi Indonesia hingga sampai waktu belakangan ini. Kondisinya ibarat gunung es, yang kelihatan baru bagian di atas airnya, sementara yang di bawah permukaan air, jauh lebh banyak dari pada yang diperkirakan. Hampir di segenap sektor sering ditemukan pengguna ijazah bodong yang disebut ijazah aspal: asli tapi palsu. Latar belakang yang dimiliki oleh pemilik ijazah palsu juga bermacam-macam. Mulai dari alasan gengsi gelar, agar tidak minder, atau sebaliknya supaya lebih “didengar” di tengah pergaulan. Ada juga dengan tujuan untuk menaikkan kredibilitas diri. Misalkan, meskipun tidak sekolah, tapi sukses menjadi pengusaha, anggota DPR, DPRD dan DPD, dijadikan tokoh masyarakat, maka dirasakan perlu ada embel-embel titel sarjana di depan atau di belakang namanya. Agar lebih mantap.

Ada juga yang memang sengaja untuk digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan, karena dibutuhkan kualifikasi ijazah untuk bisa mendaftar sebagai calon pegawai atau pekerja. Atau sekadar untuk mendukung jabatan publik yang diembannya. Tanpa memiliki pendidikan yang memadai, tiba-tiba menjadi pejabat publik. Maka dirasakan perlu embel-embel sarjana. Yang lebih unik lagi, maksud hati merantau ke luar daerah dalam rangka kuliah, hingga bertahun-tahun tidak lulus menjadi sarjana asli, sampai akhirnya drop-out. Sehingga akhirnya terpaksa pulang dengan tangan hampa tanpa membawa gelar apapun. Kemudian untuk menutupi kekecewaan –lebih tepatnya malu–, “terpaksa” beli ijazah aspal. Bertahun-tahun kuliah di jurusan teknik, ketika sampai di kampung halaman, di belakang namanya muncul gelar “S.E.” (Sarjana Ekonomi). Pendeknya apa yang mudah dibeli dan ada diperjualbelikan, itulah yang dibawa pulang.

Fenomena Ijazah palsu ini pun mencuat di Kabupaten Lembata. Iya beberapa waktu lalu  kelompok masyarakat yang tergabung dalam Forum Penyelamat Lewotana Lembata dan PANSUS DPRD Lembata melalui Pansus Ijazah menemukan bukti bahwa ijazah strata satu (S1) milik Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur TIDAK DIAKUI NEGARA. Kasus Ijazah Bupati Eliaser Yentji Sunur yang dilaporkan FP2L ke Mabes Polri dan kemudian dilimpahkan ke Polda NTT, kini sedang ditangani penyidik di Direkrimum Polda NTT.

Banyak kejanggalan yang ditemukan FP2L dan Pansus DPRD Lembata dalam Ijazah S1 Bupati Eliaser Yentji Sunur. Kejanggalan-kejanggalan tersebut antara lain:

  1. Bahwa nama Eliaser Yentji Sunur tidak ditemukan di pangkalan data Forlap DIKTI yang artinya tidak sah atau tidak diakui negara
  2. Bahwa data atas nama Eliaser Yentji Sunur juga tidak ditemukan di Kopertis Wilayah III
  3. Bahwa rektor Universitas Krisdwipayana sendiri merasa heran mengapa tanggal terbit Ijazah S1 Eliaser Yentji Sunur mendahului SK yudisium.
  4. Bahwa pengakuan rektor universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, Eliaser Yentji Sunur benar pernah menjadi mahasiswa di UNWIRA Kupang tetapi mengundurkan diri sehingga tidak berhak menggunakan 155 SKS yang telah diperoleh di UNWIRA dan tidak disertai surat pindah. Sementara Pengakuan Pihak Fakultas Teknik Universitas Krisdwipayana Jakarta, Eliaser Yentji Sunur adalah mahasiswa pindahan dari UNWIRA Kupang.
  5. Bahwa Eliaser Yentji Sunur tidak berhak mendapatkan gelar akademik jenjang strata satu (S1) yakni Sarjana Teknik (ST) karena 11 alasan mendasar yang tertera dalam laporan PANSUS DPRD Lembata.
  6. Lampiran foto copy ijazah memnunjukan bahwa Ijazah Eliazar Yentji Sunur dikeleuarkan oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana Jakarta, diketahui tanda tangan Rektor tidak dibubuhi dengan cap.
  7. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak Universitas Krisnadwipayana Jakarta dengan jelas menunjukan bahwa Eliazer Yentji Sunur tidak tuntas dalam menyelesaikan proses perkuliahan.
  8. Kejanggalan-kejanggalan tersebut merupakan kesimpulan atas perolehan ijazah Bupati Sunur yang kami yakini diduga kuat merupakan ijazah yang diperoleh secara instant. Hal ini penting untuk dipersoalkan karena melekat dalam diri Eliaser Yentji Sunur adalah jabatan sebagai Bupati Lembata. Artinya, secara luas dapat berdampak pada kebijakan-kebijakan pembangunan yang strategis terutama dalam urusan administrasi daerah.

Tentunya kasus dugaan ijazah palsu yang menimpa bupati Lembata merupakan aib besar bagi dunia pendidikan sehingga kasus tersebut harus di usut tuntas oleh aparat berwenang.  Ijazah yang seharusnya didapatkan dengan proses yang panjang dan melalui banyak tahapan, ternyata bisa dipalsukan dan didapatkan dalam waktu yang singkat. Kehadiran ijazah palsu ini menambah daftar penyakit yang diidap bangsa ini.

Ijazah palsu sesungguhnya simbol bahwa masyarakat kita sudah tidak menghargai ilmu, tidak menghargai proses, malas, tidak jujur, bermental korup, dan berpola pikir praktis dan instan. Orang yang menggunakan ijazah palsu ketika sudah masuk dalam sistem pemerintahan atau lemabaga Negara, maka kemungkinan besar yang akan dilakukan adalah membuat kebijakan-kebijakan yang “ngawur” dan korupsi. Bagaimana bisa membuat kebijakan yang baik, sementara mereka miskin gagasan, ilmu, dan kompetesnsi. begitupun dengan korupsi, hal yang paling besar kemungkinannya adalah merampas uang rakyat atau korupsi, pada dirinya saja tidak jujur apalagi pada rakyatnya.

Demikian pula dunia kampus sebagai tempat bercokolnya para intelektual dan masyarakat ilmiah, seharusnya menjadi teladan dalam menjaga integritas moral dan nilai-nilai kejujuran. tidak seharusnya melakukan transaksi jual-beli ijazah palsu, karena akan mencederai citra perguruan tinggi dan seluruh civitas akademik. Jika itu dilakukan maka dapat kita pastikan bahwa tindakan tersebut merupakan kejahatan intelektual (Intelectual crime). Kejahatan intelektual lebih berbahaya. Ada sebuah adagium yang berbunyi “Kejahatan yang dilakukan oleh orang cerdas efeknya lebih berbahaya, dari pada efek kejahatan yang dilakukan oleh orang bodoh”. Dunia kampus adalah dunia intelektual, tempat berkumpulnya manusia-manusia ilmiah dan cerdas. maka ketika “mereka” (orang kampus) berbuat kejahatan efeknya akan sangat berbahaya. Menjual ijazah palsu adalah salah satu tindakan yang merugikan orang lain, maka ketika tindakan itu merugikan orang lain itulah yang dinamakan dengan kejahatan (Sahetapy,2012). Kejahatan apapun bentuknya sepanjang masih merugikan orang lain, maka harus beri sanksi sesuai kadar kejahatannya. Termasuk pengguna dan penyedia ijazah palsu.

B.PERNYATAAN SIKAP DAN TUNTUTAN

Dari berbagai problematika ini, maka SIMPEL sebagai sebuah elemen mahasiswa menyatakan sikap sekaligus menuntut:

  1. Mendesak Gubernur NTT untuk segera bersurat ke MENDAGRI agar segera mencopot Eliaser Yentji Sunur, ST dari jabatannya sebagi Bupati Lembata karena diduga menggunakan Ijazah Palsu.
  2. Mendesak MENRISTEK DIKTI agar membentuk tim investigasi ke univeristas Krisnadwipayana untuk melakukan verifikasi atas keabsahan ijasah Eliaser Yentji Sunur, ST.
  3. Mendesak POLDA NTT untuk menetapkan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, ST sebagai tersangka dalam kasus penggunaan ijazah yang tidak diakui negara.
  4. Memberi peringatan terhadap POLDA NTT bahwa tidak ada alasan untuk melakukan SP3 atas kasus ini karena DPRD Lembata melalui Panitia Khusus (PANSUS) Ijazah telah menemukan bukti-bukti akurat dan menyimpulkan bahwa Ijazah Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur tidak sah alias tidak diakui negara.
  5. Bahwa kasus Ijazah Bupati Eliaser Yentji Sunur adalah kasus hukum bukan politis sehingga Polda NTT wajib membuktikan independensinya.
  6. Terkait kasus Ijazah Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur Tidak boleh ada upaya pengalihan dalam bentuk apapun terhadap kasus ini dari pihak Polda NTT.
  7. Kami akan terus melakukan aksi demonstrasi sampai kasus ijasah palsu ini selesai diusut.
  8. Terhitung dari hari ini, dalam waktu 7×24 jam ke depan kami akan melakukan aksi demonstrasi dengan massa aksi yang besar ke kantor Gubernur NTT untuk meminta ketegasannya dalam menyikapi kasus dugaan ijazah palsu Eliaser Yentji Sunur, ST selaku bupati Lembata.

Demikian pernyataan dan tuntutan ini kami sampaikan.(osy)

Topik:
News:

No comment for Lagi, Pernyataan Sikap SIMPEL: Copot Yentji Sunur  Sebagai Bupati Lembata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.