Menu Click to open Menus
Home » OPINI » Kualitas Produk Pertanian, Keinginan Konsumen dan Pasar

Kualitas Produk Pertanian, Keinginan Konsumen dan Pasar

(146 Views) June 4, 2018 8:41 pm | Published by | No comment

Oleh : Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Alumnus Universitas Flores, Ende-NTT

Dunia pertanian dewasa ini berada pada suatu paradikma baru yang ditunjukkan dengan modernisasi dalam bidang petanian. Hal ini dapat menjadi suatu kebanggaan sekaligus sebagai tantangan. Tantangan untuk menciptakan dan menghadirkan kualitas produk pertanian sesuai keinginan konsumen dan pasar. Sejarah mencatat  Indonesia sebagai negara agraris. Sebagai negara agraris Indonesia pernah mengalami swasembada pangan di tahun 1980-an. Indonesia mengekspor beras kenegara-negara tetangga. Kini Indonesia mengimpor beras.

Pertanian adalah bidang yang sangat strategis karena mengenai berbagai sendi kehidupan manusia. Pertanian mempunyai makna yang sangat penting.  Kebutuhan dasar manusia terutama pangan dan sandang berasal dari bidang pertanian. Goncangann terhadap sektor pertanian dapat berimbas pada sektor ekonomi, dan politik bahkan sosial budaya. Oleh kerena itu pemerintah memandang perlu adanya upaya dalam mendorong sektor pertanian. Petanian menjadi leading sector pembangunan.

Sebagaimana diketahui bahwa pertanian merupakan hal yang sangat esensial bagi bangsa Indonesia. Untuk itu pemerintah Indonesia menempatkan pertanian sebagai salah satu leading sector pembangunan bangsa.    Perkambangan dan proses pertanian yang kuat berlangsung lama  sejalan dengan waktu dalam sejarah pembangunan bangsa. Ada selogan yang mengatakan bahwa negara akan kuat apabila pertaniannya kuat.  Pertanian sangat erat kaitannya  dengan pemenuhan kebutuhan pangan  yang jika tidak terpenuhi  maka akan mengancam stabilitas ekonomi, sosial dan politik suatu negara. Memang dapat dimaklumi  petani dan pertanian merupakan saudara kembar yang tidak terpisahkan. Petani merupakan subjek, sedangkan pertanian merupakan aktivitas  dari subjek dalam memainkan perannya.  Dengan demikian  petani merupakan basis  dalam bidang pertanian bukan perusahaan makro yang menjadi basis pertanian. Akan tetapi saat ini posisi pertanian dalam negeri dihadapkan pada posisi yang sangat dilematis. Hal ini mengingat terus berfluktuasinya harga-harga riil produk pertanian di satu pihak, dan kuatnya pertanian di negara maju  di pihak lain. Dengan tanah yang subur dan luas seharusnya indonesia swasembada pangan, bahkan sebagai pengeskspor hasil pertanian terdepan.

Di sisi lain kualitas ekspor hasil pertanian Indonesia  tidak terlepas dari petaninya sendiri sebagai produsen, eskportir dan dukungan pemerintah. Walaupun kualitas ekspor pertanian yang akan mempengaruhi pendapatan pasar dan minat konsumen namun produk pertanian harus memiliki kualitas untuk mampu bersaing dengan produk-produk impor dari Negara lain. Jika petani seagai pelaku usaha tidak memperhatikan kualitas produksi pertanian maka akan berpengaruh pada pasar dan keinginan konsumen. Berbicara mengenai kualitas produksi, pasar dan konsumen harus didiskusikan secara matang dan kontinyu sebab mengenai kehidupan masyarakat secara umum tidak hanya berbicara tentang masyrakat petani. Mutu pertanian yang layak dikonsumsi, sehat dan aman serta bergizih dan juga mudah di peroleh.

Hal ini yang perlu dipertimbangakan bersama. Sebab berbicara tentang konsumen tidak terlepas dari segala aspek yang mempengaruhi kehidupannya. Selain itu permintaan konsumen terhadap produk pertanian tidak sama dengan produk industri non pertanian  lainnya. Di samping itu dapat kita maklumi bahwa produk hasil pertanian sebagian besar tidak tahan lama, maka harus pasarkan  dalam waktu dekat, sehingga produk pertanian tersebut  tidak rusak. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa  untuk menjadi seorang eksportir hasil pertanian, biasanya  berpikir secara saksama dan matang sebelum berkecimpung di dalam dunia pemasaran hasil pertanian jika dibandingkan menjadi eksportir non produk pertanian.

Hal ini mejadi bahan kajian dan introspeksi bagi semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pertanian. Mengingat bukan saja kerugian hanya dialami oleh eksportir, tetapi dampak kerugian ini juga berimbas kepada petani. Petani akan di kuras karena bagaimanapun juga eksportir akan berusaha meraup keuntungan sebesar-besarnya dari petani. Dan hal ini perlu di hindari. Dapat dimaklumi bahwa untuk sampai menghasilkan produk pertanian  harus melewati proses yang panjang, perluh adanya kesabaran sebab membutuhkan waktu cukup lama dengan biaya yang tidak sedikit sesuai dengan komoditi yang dikembagkan. Padahal sebagian besar pelaksana, pengelola, dan pemanfaat pertanian itu sendiri adalah petani kecil yang memiliki modal, kualitas sumber daya manusia, dan luas lahan yang sangat terbatas.

Dari kegiatan agribisnis misalnya, para petani diharapkan dapat memperoleh keuntungan dari setiap kegiatan bisnis pertanian.  Di sisi lain, petani di tuntut selalu meningkatkan dan mempertahankan kuantitas dan kualitas produk agar memiliki daya saing tinggi di pasaran. Petani juga harus dapat menjamin kualitas produk sesuai permintaan konsumen. Produk-produk pertanian yang beredar di pasar global  sangat dibutuhkan standardisasi. Pasar-pasar internasional akan menetapkan syarat atau kriteria  produk espor hasil pertanian seperti persyaratan  sanitary and phytisanitary sebagai sebagai salah satu bentuk hambatan non tarif dalam perdagangan internasional. Banyak persyaratan teknis yang harus dipenuhi oleh Indonesia apabila ingin memasarkan produk pertanian Indonesia di pasar Internasional, termasuk persyaratan bebas hama dan sisa-sisa kerusakan hama.

Kualitas produk pertanian menjadi salah satu parameter keberhasilan produk pertanian dalam menembus  pasar internasional. Oleh karena itu untuk memenuhi persyaratan diatas, dibutuhkan kerja sama dari petani, eksportir dan pemerintah untuk  menjaga komoditas  pertanian yang akan  diekspor dapat memenuhi kriteria. Penjaminan kualitas produk dapat dimulai dari teknologi budidaya. Bahkan untuk produk organik, persyaratan dapat lebih ketat karena tidak setiap lahan dapat digunakan untuk budidaya produk tertentu. Kualitas produk pertanian juga ditentukan oleh perlakuan panen dan pasca panen. Perhatian terhadap hal teknis seperti ini menjadi suatu keharusan agar produk pertanian dapat diterima di pasar internasional.

Persoalan lain yang juga dapat menjadi penghambat ekspor produk pertanian adalah kebijakan harga. Hal ini sangat terkait dengan kebijakan pemerintah dalam perdagangan  dan pembangunan pertanian secara keseluruahan, misalnya apakah ada kebijakan subsidi, dan insentif pajak, sehingga harga komoditas pertanian lebih kompetitif di pasar internasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemberian subsidi pada komoditas pertanian dilasanakan  dengan tujuan agar komoditi pertanian dapat dijual dengan murah di pasar.

Hasil produk pertanian terutama yang dihasilkan oleh petani jarang untuk mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pasar dan konsumen. Hal ini dapat dimaklumi karena banyak produk ekspor pertanian berkualitas jelek sehingga sulit menembus pasar global. Misalnya, persoalan yang membelit ekspor hortikultura tidak hanya terletak pada insfrastruktur trasportasi tetapi persoalan juga timbul dari standardisasi kualitas hortikultura yang belum memenuhi pasar global sehingga banyak buah-buahan dalam negeri ditolak oleh importir. Permasalahan sederhana, karena petani dan eksportir  tidak mampu menyediakan kualitas yang sama dengan kuantitas tertentu dalam waktu yang diinginkan sehingga tidak dapat menguasai pasar. Jika hasil pertanian tidak dapat menguasai pasar maka dengan sendirinya tidak dapat memenuhi kebutuhan konsumen dengan nilai jual yang layak. Hal ini menunjukan bahwa petani sebagai pelaku usaha  tidak dapat menghasilkan kualitas produk yang seragam sesuai keinginan pasar dan keinginan atau minat konsumen.(*)

No comment for Kualitas Produk Pertanian, Keinginan Konsumen dan Pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.