Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Kronologi Penangkapan Bapak Gregorius Dengkae Krova, Nelayan Lamalera

Kronologi Penangkapan Bapak Gregorius Dengkae Krova, Nelayan Lamalera

(1770 Views) June 19, 2017 10:47 pm | Published by | No comment

Gregorius Dengkae Krova, 62, nelayan Lamalera

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Hampir setahun sudah proses penyidikan atas nelayan Lamalera, Gregorius Dengkae Krova bergelinding di Polres Lembata. Berikut kronologi penangkapan nelayan Lamalera berusia 62 tahun yang kini ditetapkan jadi tersangka gara-gara insang ikan Pari Manta.

Bapak Goris Dengekae Krova tidak ingat hari dan tanggal, saat dua orang yang tidak dikenalinya, datang ke rumahnya di Lamalera. Dia hanya ingat itu terjadi beberapa hari setelah kunjungan Deputi Bidang SDM, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Maritim, Dr Safri Burhanuddin, sejumlah staf kementrian,  Kadis Pariwisata NTT, DR Marous Djelamu, MSi, Penjabat Bupati Lembata, Drs Sinun Petrus Manuk dan sejumlah pejabat daerah lainnya ke Lamalera, tanggal 31 Oktober 2016. Kunjungan itu dilanjutkan dengan  digelarnya seminar  “Penguatan Budaya Maritim-Budaya Lefa Dalam Rangka Pengembangan Destinasi Wisata Bahari dan Pengelolaan Sumber Daya” tanggal 1 Nopember 2016 di Hotel Palm Indah Lewoleba.

Dua tamu itu diantar warga Lamalera, Mikhael Geroda Keraf.  Mereka ngobrol cukup lama dan isi obrolan seputar konservasi. Dua tamu itu tidak banyak bicara, namun kepada mereka, Goris menceriterakan tentang kunjungan Deputi Kemenko Maritim dan rombongan  dan juga pernyataan-pernyataan  para pejabat tersebut tentang Leva Lamalera yang tidak akan disentuh. Nelayan Lamalera tetap melaut seperti biasa dan tidak ada yang melarang orang Lamalera menangkap ikan paus.

Obrolan lalu beralih ke organ ikan pari. Tamu itu bertanya,” bapak punya insang ikan pari?”

Goris menjawab,”  ada. Saya biasa menyimpannya untuk makanan babi.”

Karena ingin melihatnya, Goris lalu mengambil insang-insang itu dari gudang lalu menaruhnya di lantai rumah. Kedua orang itu memilih-milih lalu mengambil empat helai (keping). Kata mereka, untuk makan. Dan, Goris sendiri tidak minta dibayar.

“Bapak biasa jual berapa?”

“Saya tidak jual”

Salah seorang dari mereka lalu menyodorkan uang lembaran Rp 50,000 sebanyak  Rp 250,000 diserahkan ke Goris dan Rp 50,000 ke Mikel Geroda Keraf yang mengantar dan menemani  mereka.

Setelah itulah, mereka minta nomor Hp Bapak Goris dengan alas an jika ada teman-temannya yang ingin membeli, dia akan menghubungi Bapak Goris. Bapak Goris juga menuliskan nomor HP dan bertanya,” ini saya tulis nama siapa?”

“Akang Mas Bandung”

Mereka lalu pamit dengan pesan, mereka akan terus melakukan kontak dimanapun berada.

Keesokan harinya, Akang Mas Bandung menelphon.

“Bapak, saya belum bertemu dengan teman yang mau beli. Saya mau ke rumah bos dulu nanti kami sama-sama cari,” ujar Akang Mas Bandung.

Sore harinya, Akang Mas Bandung menelpon lagi

“Saya sedang sama-sama dengan bos. Dia mau bicara dengan bapak”

Goris lalu bicara dengan bos

“Ada teman yang mau beli. Harga bagaimana? Terakhir Rp 200 ribu per Kg tapi itu terlalu murah.”

“Mas atur saja selanjutnya,” jawab Goris

Hingga telephon ditutup, tidak ada kesepakatan soal harga.

Senin (21/11/2016) pagi,  Akang Mas Bandung menelpon

“Saya sudah omong dengan teman, harga per Kilogram Rp 400,000. Nanti teman ke Lamalera. Mungkin kami juga ikut untuk ambil oleh-oleh juga.”

Sering berkomunikasi, apalagi pernah mengiriminya pulsa telpon, Akang Mas Bandung  menurut Goris sudah akrab dengannya. Karena itu ada janji pula memberi oleh-oleh ikan untuk Akang Mas Bandung.

Senin (21/11/2016) siang, Akang Mas Bandung menelpon

“Bos sudah ke Maumere. Saya masih di Bali,”

Senin (21/11/2016) malam, Akang Mas Bandung menelpon

“Saya sekarang ke Kupang. Kami kegiatan banyak jadi kita bertemu di Lewoleba saja.”

Meskipun sedang ada pekerjaan di kampong, Goris mengiyakan akan ke Lewoleba.

“Kirim nomor rekening dan saya transfer uang Rp 1 juta untuk sewa kendaraan dari  Lamalera.”

Selasa (22/11/2016) siang, Akang Mas Bandung menelpon

“Saya sudah di Lewoleba dengan bos.”

Dalam perjalanan ke Lewoleba, Selasa (22/11/2016) sore sekitar pukul 16.30 Wita, Goris mengirim pesan ke Akang Mas Bandung bahwa dia sedang dalam perjalanan dengan bus. Akang Mas Bandung menanyakan dengan bus apa dan dengan siapa.

Komunikasi terakhir via sms dari Akang Mas Bandung adalah “Kami ada di Hotel Palm Indah. Kalau sudah di Pasar Pada, telp kastau”

Sopir bus Karunia Indah yang ditumpangi Goris mengantar hingga halaman depan Hotel Palm Indah. Lama menunggu di lobi hotel, Akang Mas Bandung kemudian muncul dari lantai dua. Kata Akang Mas Bandung, bosnya masih mandi.

Agak lama duduk di lobi, Akang Mas Bandung lalu mengajak Goris, dan sopir bus, Fidelis Baran naik ke lantai dua untuk makan malam. Seorang pelayan dipanggil dan Akang Mas Bandung pesan makan. Lama menunggu namun makanan juga tidak pernah diantar. Bos lalu muncul  dan bersalaman. Berbasa basi tanya makan lalu bos memanggil lagi pelayan dan memesan minum.

Pelayan itu menghilang dan lama menunggu tidak ada minuman yang diantar. Bos lalu mengajak mereka ke lantai satu saja dan mencari makan dalam kota Lewoleba. Ketika berjalan menuju mobil, bos bilang ke Goris, ‘bapa, kita selesaikan urusan ini dulu.

Kondektur bus lalu menurunkan enam karung berisi insang. Karung dibuka dan bos memeriksa sebentar lalu menghitung harga. Saat menunjukan angka yang harus dibayarkan ke Goris itulah, sejumlah polisi mengelilingi mereka. Bos dan Akang Mas Bandung tidak lagi terlihat. Sempat mencoba menelpon Akang Mas Bandung, namun nomor Hp tidak aktif.

Kepada Goris, Fidelis mengatakan mereka dijebak. Fidelis meminta Goris menelpon saudaranya, Simon Krova. Kepada polisi, Goris marah dan mengatakan dirinya bukan penjahat. Polisi lalu mengajak Goris ke kantor polisi.

Operasi Tangkap Tangan (OTT) itu dipimpin Kasat Pol Air, Iptu Wisok Tokan yang malam itu semobil dengan Irma, yang mengaku sebagai aktivis LSM Wildlife Crime Unit (WCU).

Di kantor polisi, Goris ditanyai:

“Apakah bapak tahu atau tidak bahwa ada larangan untuk menangkap ikan pari?”

“Larang atau tidak saya tidak tahu tetapi itu mata pencaharian kami untuk menghidupi keluarga.”

“Bapak sudah tangkap berapa ekor?”

“Tahun ini sudah empat ekor.”

“Bapak sudah jual berapa kali?”

“Sudah empat kali”

(Goris mengaku bingung dengan pertanyaan ini karena sebetulnya yang terjadi adalah orang membeli di Lamalera)

“Bapak tahu tidak bahwa tangkap pari ini merugikan negara?”

“Tidak tahu tentang kerugian negara. Tapi kalau kami dilarang, bagaimana dengan hidup kami?”

Kepada penyidik, Goris menjelaskan tentang budaya Lamalera dan kehidupan orang Lamalera.

Penyidik juga meminta keterangan ahli dari staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lembata, Saban soal sosialisasi larangan penangkapan ikan pari. Kepada penyidik, seperti yang disampaikan  Saban kepada keluarga, mereka pernah melakukan sosialisasi undang-undang tersebut tahun 2014 tetapi di desa lain.

Saksi Saban, kemudian diketahui tidak pernah meminta ijin terdahulu pada Kadis DKP dan tidak memiliki surat tugas untuk memberi keterangan pada polisi. DKP, kata  Kepala Dinasnya, Atanasius Amuntoda, tidak pernah dimintai polisi untuk memberi keterangan soal penangkapan nelayan Lamalera Goris Geletan Krova.

Malam itu, kepada keluarga, polisi menyampaikan bapak Goris tidak ditahan dalam sel tetapi tidur saja di kantor polisi. Namun keluarga mengajukan keberatan melihat kondisi Bapak Goris yang sedang kurang sehat dan memberi jaminan akan mengantar bapak Goris ke kantor polisi keesokan harinya pukul 06.00 wita.

Rabu (23/11/2016), Goris ke Polres Lembata, namun hingga siang hari, tidak diperiksa.

Sementara itu, begitu mengetahui Goris ditangkap, sekitar 20-an warga Lamalera laki-laki dan ibu-ibu diutus ke Lewoleba untuk menemui Penjabat Bupati, Ketua DPRD dan berencana menemui Kapolres. Kepada Penjabat Bupati, Drs Petrus Sinun Manuk dan Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, masyarakat Lamalera mengatakan jika Goris diproses, kami semua orang Lamalera harus juga ditangkap dan diproses. Sebab kami semua menangkap ikan pari. Juga, ikan paus dan ikan lainnya yang dilarang UU.

Masyarakat Lamalera juga mengancam jika Goris dinaikan statusnya sebagai tersangka, seluruh masyarakat Lamalera  akan memboikot kegiatan Hari Nusantara di Lembata  Desember 2016 dan Pilkada Lembata Februari 2017 ini. Seperti diketahui, Lamalera dan ikan paus menjadi ikon pariwisata Lembata. Lembata dikenal karena Lamalera dan budaya penangkapan ikan paus secara tradisional.

Rabu (23/11/2016), Kapolres melalui bapak Simon Krova meminta bertemu empat mata. Namun pertemuan tersebut batal karena pada waktu bersamaan, Penjabat Bupati Lembata, Drs Sinun Petrus Manuk juga menemui Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang, SIK.

Keluarga juga memberi kuasa kepada Juprianus Lamablawa, SH dan Emanuel Blida  Wahon, SH  sebagai kuasa hukum Gregorius Dengekae Krova. Hingga saat ini Goris berstatus saksi. Sementara Akang Mas Bandung dan bos, belum pernah diperiksa.

Kepada pers, Kapolres menjelaskan Goris diduga melanggar pasal 88 jo pasal 16 ayat (1) UU RI No. 31 tahun 2004 subsider pasal 100 jo pasal 7 ayat (2) huruf m dan UU RI no. 31 tahun 2004 perikanan subside pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (1) dan (2) huruf d.

Irma, dari Wildlife Crime Unit, yang ikut bersama Polres Lembata saat penangkapan Goris di Hotel Palm Indah, kepada wartawan mengatakan pihaknya konsern dengan perlindungan hewan laut langka yang dilindungi baik oleh hukum nasional maupun internasional. Operasi Tangkap Tangan  ini merupakan tindak lanjut dari MOU bersama dengan 4 Polda  termasuk Polda  NTT untuk melindungi dan melestarikan ikan pari manta dan hewan laut langka yang dilindungi. (fince bataona)

No comment for Kronologi Penangkapan Bapak Gregorius Dengkae Krova, Nelayan Lamalera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *