Menu Click to open Menus
Home » GELIAT DESA » Kornelis Keluli Langoday, Pengrajin Tempurung Dari Lewotolok

Kornelis Keluli Langoday, Pengrajin Tempurung Dari Lewotolok

(1341 Views) July 22, 2017 9:20 am | Published by | 5 Comments

Kornelis  Keluli  Langoday sedang membuat hiasan dari tempurung kelapa. (Foto: Yurgo Purab)

SIAPA yang tak kenal sosok Kornelis Keluli Langoday? Sapaan akrab Keluli Langoday. Di kampung halaman, tempat ia hidup bersama isteri tercinta dengan empat orang anaknya. Ia bekerja sehari-sehari sebagai petani tulen. Namun dari sosok seorang petani yang giat bekerja ini, ia juga menekuni  seni memahat tempurung dan menjadikannya sebagai neak (tempat menyimpan tuak atau air minum) dan sendok. Dengan peralatan seadanya, Kornelis mulai membelah kelapa tua, dan perlahan-lahan mengikis dengan pisau buatannya sendiri.

Tak hanya itu, Kornelius juga menggunakan kertas pasir untuk memperhalus permukaan neak dan sendok yang siap dipasarkan. Berkat kejelian serta ketekunannya, ia dikenal masyarakat Lewotolok, bahkan Ile Ape seluruhnya sebagai pengrajin tempurung yang tak giat-giat amat namun sering membantu banyak siswa yang membutuhkan barang hasil buatan tangannya.

Kegiatan ini sudah ia jalankan sejak tahun 2002 hingga sekarang. Walau penghasilan keluarga tak sepenuhnya bergantung pada hasil kerajinan tangan seperti ini, tapi Keluli, demikian sapaan manis bagi suami dari Paulina Perada ini menuturkan bahwa awalnya kegiatan seperti ini ia jalankan hanya mengisi waktu luang serta memenuhi permintaan anak-anak sekolah yang membutuhkan piala, gelas, sendok baik dari tempurung maupun dari bambu untuk tugas muatan lokal.

Namun dalam perjalanan waktu permintaan itu terus bertambah. Bahkan permintaan itu datang dari berbagai wilayah. Selain itu, orang Perancis pernah singgah dan membeli beberapa hasil karyanya sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang.

Ketika disambangi media ini pada Rabu (19/7/2017), pria yang dilahirkan di Lewotolok 25 Mei 1978 ini menuturkan bahwa biasanya 50-60 orang siswa datang dan membeli hasil karyanya. Tak hanya karya seperti yang disebutkan di atas, tetapi juga orang memesan sapu lidi hasil buatannya. Banyak orang mengaku bahwa hasil karya Bung Keluli kuat dan memiliki unsur seni yang sangat tinggi. Hal ini berkat daya juang dan keinginan Keluli untuk belajar dengan terampil.

Ia mengatakan bahwa 1 neak, ia menjual dengan harga promosi berkisar Rp 15.000 untuk ukuran yang kecil. Ada juga yang dijual denga harga Rp 20.000 – Rp 50.000 untuk  yang berukuran besar.  Sedangkan sapu lidi ia biasa jual dengan harga Rp 10.000 – Rp 15.000. Namun harga tersebut kurang pasti karena banyak kali ia memberi gratis  bagi  para  pembeli karena dipandang sebagai keluarga.

Yekri Langoday, anak tertua Kornelis Keluli yang membantunya dalam bekerja. (Foto: Yurgo Purab)

Pria 39 tahun ini mengaku bahwa sehari ia bisa memahat dan mengukir peralatan dari tempurung tersebut 8 – 10 buah atau bahkan hingga satu lusin. Dan, sebagian besar peralatan ini, ia kerjakan karena kebutuhan adat dalam ritual pesta kacang di wilayah Ile Ape. Karena memang dahulu kala orang makan dan minum menggunakan barang-barang dari tempurung kelapa. Orang makan menggunakan sendok tempurung, minum menggunakan tempurung dan bahkan dalam acara-acara adat seperti lou bao, orang juga menggunakan tempurung sebagai neak (tempat menyimpan tuak) demi menjaga kesakralan sebuah ritual.

Lebih jauh, Kornelis mengatakan bahwa kegiatan meramu tempurung menjadi barang jadi semisal piala, sendok, gelas tersebut merupakan hasil pengamatan dan daya juang yang tinggi ketika ia hidup bersama nenek Agnes Beto yang berasal dari  Atawatung.

Mulai dari situ, ia belajar melihat hasil-hasil buatan dari desa tersebut. Karena keinginan yang tinggi, akhirnya ia bisa membuat barang mentah tersebut menjadi nilai seni yang berbobot tinggi dan memiliki daya jual. Ia sangat senang ketika ia bekerja didampingi anak pertamanya Yekri, yang menurut dia, ia memiliki potensi yang sama. Kornelis mengaku bahwa anak-anaknya sejak kecil sudah terampil mengorek bagian dalam tempurung dan hasilnya sudah cukup memuaskan.

Inilah yang membuat Kornelis bangga. Bagi Kornelis, walaupun pekerjaan seperti ini, bagi kebanyakaan orang disebut pekerjaan ‘ola take’(tidak ada guna). Namun, dalam perjalanan waktu, ketika orang ramai-ramai berbicara tentang menghidupkan kembali budaya, banyak orang dihentak kesadarannya. Bahkan sudah ada banyak orang  yang tidak kenal bahkan tidak tahu lagi membuat neak dan senduk  dari tempurung.  Karena itu, usaha untuk membuat peralatan dari tempurung juga merupakan usaha Kornelis Langoday untuk menghidupkan  kembali tradisi serta melestarikan budaya NTT. (yurgo purab)

5 Comments for Kornelis Keluli Langoday, Pengrajin Tempurung Dari Lewotolok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.