Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Ketika Perempuan Lembata Bicara Tentang Perempuan

Ketika Perempuan Lembata Bicara Tentang Perempuan

(434 Views) December 23, 2017 10:25 am | Published by | No comment

Sejumlah perempuan Lembata dari berbagai profesi pose bersama seusai kopi sore dalam bincang bersama. (foto : ani lamak)

“Perempuan selalu menjadi korban. Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Sebut saja soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kasusnya cukup tinggi di Lembata. Ke polisi? Biasanya ‘dikembalikan’ dan diselesaikan secara kekeluargaan. Lagi-lagi perempuan berada di posisi sulit. Seberapa banyak keluarga yang memihak perempuan?

Mau lari ke tokoh agama, eh malah sering jadi bahan gosip karena kedekatan dengan pastor misalnya. Ke sesama perempuan? Sering pula perempuan tidak saling mendukung. Sinis dan  malah korban yang sesama perempuan jadi bahan gosip. Nah, kemana perempuan? Bisakah kita yang ada di ruang ini menjadi tempat menentramkan perempuan. Tak hanya sejenak menentramkan tetapi kita bisa mengadvokasi. Mengapa tidak perempuan mengadvokasi perempuan? Mulai hari ini!”

Ini secuil fakta tentang perempuan di banyak tempat, termasuk di Lembata. Menggelisahkan dan diungkap salah seorang perempuan, sehari menjelang hari ibu 22 Desember 2017. Perempuan ini, bersama para perempuan Lembata dari berbagai profesi ngopi bersama di ruang pertemuan Hotel Annisa Lewoleba. Udara sejuk, tanah Lewoleba basah. Sebab hujan luruh berjam-jam sejak siang.

Hari itu, untuk pertama kalinya para perempuan Lembata dari berbagai profesi berkumpul. Ada ibu rumah tangga, aktivis LSM, penulis, pegawai negeri berbagai dinas dan instansi, guru, pedagang kecil, pebisnis, pegiat seni dan politisi. Tak banyak tapi cukup mewakili berbagai profesi.  “Mari ngopi, mari bicara, karena tak perlu putih dan manis untuk secangkir inspirasi,” demikian Yuliana Atu, Ani Lamak dan dua temannya yang menyebut diri sebagai perempuan fenomenal yang memelopori acara ini, memberi judul dari bincang santai para perempuan ini.

Bicara apa? Bincang soal apa? Kopi di cangkir masing-masing belum separuh, ketika perempuan bernama Angela Lena Kaha mulai menggugah pikiran perempuan-perempuan di ruang itu. “Tak perlu putih untuk bicara tentang kita. Apa saja tentang kita. Tentang perempuan. Tak ada nara sumber sebab kitalah nara sumbernya,” ujar Angela.

Bincang-bincang pun dimulai dari meja ke meja. Banyak hal yang dikisahkan. Banyak sisi hidup perempuan yang tak banyak diketahui, diungkapkan perempuan sore itu. Tentang KDRT, tentang PSK, tentang perempuan putus sekolah, tentang perempuan dan politik juga tentang perempuan dan kesehatan termasuk soal perempuan dan HIV/AIDS.

Banyak masalah perempuan teridentifikasi. Namun disadari pula selama ini perempuan belum memiliki ruang untuk menyuarakan masalahnya. Perempuan juga belum saling mendukung. Masih pula merasa diri sebagai makhluk lemah. Padahal sebetulnya perempuan itu kuat, bisa berdiri sendiri, memiliki talenta dan kharisma.

“Kita perlu ruang untuk terus bersama agar menjadi kuat. Kita harus sering bertemu, duduk bersama, saling berbagi dan  saling menginspirasi sesama perempuan,” ujar ibu Angela menyimpulkan bincang-bincang santai yang diselingi lagu dan puisi.

Rencana Tindak Lanjutnya adalah perlu ada Ruang Perempuan Berceritera. Niat untuk terus menghadirkan ruang ini di hari ibu, tentu saja tak main-main. Tidak sekedar diskusi dan selesai begitu kopi di cangkir habis. Seperti aroma kopi yang selalu memikat, Ruang Perempuan Bercerita Lembata harus bisa menggugah kegelisahan perempuan tentang perempuan. (fince bataona)

No comment for Ketika Perempuan Lembata Bicara Tentang Perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.