Menu Click to open Menus
Home » POLKAM » Ketika Caleg Perempuan Lembata Diuji Berargumen Soal Buruh Migran, Perempuan, Anak dan Disabilitas

Ketika Caleg Perempuan Lembata Diuji Berargumen Soal Buruh Migran, Perempuan, Anak dan Disabilitas

(336 Views) March 30, 2019 4:06 pm | Published by | 1 Comment

Vian Bani: Caleg Agar Banyak Membaca

Aula Ankara, Lewoleba, Jumat (29/3). Adalah Yayasan  Kesehatan untuk Semua (YKS) Lembata yang dikomandani Saverrapal Sakeng Korvandus menginisiasi kegiatan ini. Mulanya diberi judul Debat Caleg Perempuan, “Menakar Komitmen  Caleg Terhadap Perlindungan Buruh Migran, Perempuan, Anak dan Disabilitas”  tapi di injuri time, Bawaslu mewanti-wanti adanya kampanye. Karena itu konsep debat lalu beralih ke Dialog Publik.

Enam belas (16) partai diundang YKS. Sayangnya, hanya delapan (8) Parpol yakni PKB, PDIP, Golkar, Berkarya, Perindo, PSI, PAN, Demokrat, yang mengirimkan caleg. Delapan Parpol yang tidak berkabar adalah Gerindra, Nasdem, Garuda, PKS, PPP, Hanura, Partai Bulan Bintang, PKPI. Entah apa alasannya, menurut Paul Ama Duli dari YKS, hanya Hanura yang langsung memastikan calegnya tidak ikut. Parpol lainnya diam-diam tanpa kabar.

Ben Assan bersama Mey Lagaor yang memandu dialog memulai dengan pertanyaan menohok, “Boleh dibilang, partipasi politik perempuan di Lembata cukup bagus. Pada Pemilu 2019 ini, ada 140 Caleg perempuan yang ikut. Tetapi ada jargon unik  yang diberikan pada caleg perempuan yaitu, mereka (caleg perempuan) itu pelengkap, memenuhi kuota, hantar dulang saja. Jika Anda terpilih, bagaimana srategi Anda dalam mendorong partisipasi politik perempuan di tengah dominasi laki-laki?”

Ini awal dialog yang dimulai dengan sesi “Publik Bertanya, Caleg Menjawab”. Setiap pertanyaan moderator dijawab Caleg yang nomornya sudah diundi. Ke delapan Caleg yang ada di panggung tampak serius. Mereka adalah Abon Marieta Kleden (PKB), Magdalena Peni Ladjar (PDIP), Maria Katarina Wuwur ( Berkarya), Angela Poli (Perindo), Maria P. Kedang (PSI), Angela B Rosalia Kewa (PAN), Maria Inviolata (Demokrat), Theresia Bita Ujan (Golkar). Di hadapan para Caleg sedikitnya 200 orang utusan dari berbagai kelompok masyarakat memenuhi aula Ankara. Tiga panelis juga sudah berada di posisi menghadap para caleg. Mereka adalah para aktivis dan pekerja yang menguasai tiga isu yang jadi fokus dialog yakni Perlindungan Buruh Migran (Benediktus Bedil), Disabilitas (Ramsia Langoday) dan Perlindungan Perempuan dan Anak (Vian Bani).

Minimal ada dua sampai tiga pertanyaan diajukan moderator untuk masing-masing isu Perempuan, Anak, Disabilitas dan Buruh Migran. Demikian pula di sesi Caleg Menjawab Panelis.  Ruang bertanya justru lebih dibuka pada sesi Caleg Menjawab Audiense. Sedikitnya empat penanya mempertanyakan komitmen para caleg jika terpilih terhadap isu perempuan, anak, disabilitas dan buruh migran yang masih menjadi soal di Kabupaten Lembata.  Bediona Philipus, mantan Anggota DPRD Kabupaten Lembata secara gamblang mengatakan, pengalamannya menghadapi kekuasaan (bupati) yang tidak mau mendengar. “Bagaimana caranya Anda membuat pemerintah bisa mendengarkanmu?

“Komitmen harus berangkat dari hati. Saya memiliki rekam jejak yang baik. Saya juga tidak punya beban apa-apa ketika harus berbeda dengan pemerintah. Yang pasti fungsi kontrol tetap saya jalankan meski beresiko hukum penjara,” ujar Magdalena Peni Ladjar, caleg nomor 1, PDIP Dapil 1.

Sementara itu, saat memberi catatan akhir, panelis Vian Bani mengingatkan para caleg agar banyak membaca dan menguasai regulasi. “Mengubah stigma sebagai caleg  sekedar pelengkap, bukan hal mudah. Perempuan sendiri harus memulai. Dari jawaban-jawaban para Caleg, terlihat para caleg kurang memiliki referensi mengenai berbagai persoalan perempuan, anak, disabilitas dan buruh migran. Banyak jawaban mengambang. Karena itu banyak membaca. Termasuk kemampuan membaca anggaran yang diusulkan pemerintah,” ujar Vian.

Sementara panelis perempuan, Ramsia Langoday mengapresiasi caleg perempuan yang mau mengikuti dialog publik. “Melangkah naik ke podium dengan rasa percaya diri saja, saya perlu mengapresiasi. Satu hal saja tentang difabel adalah bukan masalah perorangan tetapi masalah sosial dan menjadi tanggung jawab bersama. Dari jawaban para caleg, saya belum menemukan adanya pemikiran soal pemberdayaan bagi difabel. Pendekatan selama ini lebih bersifat caritatif padahal yang paling penting buat mereka adalah pemberdayaan. Kiranya ini menjadi catatan buat para caleg jika terpilih nanti,” ujarnya.

Panelis Benediktus Bedil secara tegas mengatakan buruh migran masih menyimpan masalah. Meski mengambang, para Caleg sudah berusaha menjawab sesuai kemampuan. Penguasaan terhadap masalah termasuk data-data, menjadi hal penting yang harus dipunyai Caleg. “Kalau nanti sudah jadi DPRD, menyerap aspirasi masyarakat, jangan hanya tunggu saat reses,” ujarnya mengingatkan.

Kepada para Caleg, saat menyampaikan kesan tentang kegiatan dialog publik, Bediona Philipus mengatakan, ujian sesungguhnya soal komitmen adalah ketika sudah dilantik jadi DPRD. Sebab ada kepentingan DPR sebagai instituisi wakil rakyat, ada kepentingan partai, kepentingan ketua partai. Eksekutif itu pintar, saat ada agenda utama ada saja desakan pemerintah membuat ada agenda lain yang lebih penting. “Kalau terpilih, jadilah legislatif  yang keras dengan suara paling lembut,” ujarnya.

Direktur YKS, Mans Balawala saat menutup kegiatan mengatakan dari dialog publik yang digelar YKS, bisa dilihat kapasitas para Caleg dan bisa menjadi referensi untuk memilih. Soal komitmen, dalam situasi normal siapapun berani bicara komitmen tetapi saat berhadapan dengan situasi sulit, militansi, komitmen sesungguhnya teruji. Integritas menjadi hal penting yang harus dimiliki sebagai anggota dewan. (fince bataona)

1 Comment for Ketika Caleg Perempuan Lembata Diuji Berargumen Soal Buruh Migran, Perempuan, Anak dan Disabilitas

  • Ramsy says:

    Aksiterkini,terlengkap,terdepan,,full informasi dan tidak sepotong-sepotong.Salam sehati kita setara kanda Fince Bataona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.