Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Kemadabaja Pertanyakan Bupati, Hakim Usir Pengacara Dalam Sidang Gugatan Masyarakat Adat Dolulolong

Kemadabaja Pertanyakan Bupati, Hakim Usir Pengacara Dalam Sidang Gugatan Masyarakat Adat Dolulolong

(1016 Views) June 5, 2018 5:38 pm | Published by | No comment

Ketua Kemadabaja, Rolandus Boli

JAKARTA, aksiterkini.com – Dua kali sidang perkara Perbuatan Melawan Hukum (PMH) antara masyarakat adat Dolulolong melawan Eliaser Yentji Sunur, Bupati Lembata, terkait pelaksanaan reklamasi pantai Balauring dan pembukaan jalan wisata lingkar Lohu, tidak dihadiri tergugat. Keluarga Besar Mahasiswa dan Pemuda Lembata Jabodetabek (Kemadabaja) pun buka suara, mempertanyakan ketidakhadiran Bupati Sunur.

Ketua Kemadabaja, Rolandus Boli mempertanyakan ketidakhadiran Bupati Lembata dalam persidangan yang sudah digelar selama dua kali. “Sebenarnya Bupati Lembata harus hadir agar dapat memberikan penjelasan terkait progres pembangunan proyek reklamasi Pantai Balauring dan pembukaan jalan wisata lingkar Lohu,” tegasnya dalam rilis yang diterima aksiterkini.com, Selasa (5/6/2018).

Dikatakan, kehadiran Bupati Sunur dalam siding pengadilan sangat penting untuk mengklarifikasikan berbagai dugaan seputar pelaksanaan proyek reklamasi pantai Balauring dan pembukaan jalan lingkar Lohu. Ya, “Kita belum mengetahui betul apa ada izin, AMDAL, dan perizinan terkait lahan yang hendak digunakan dalam proyek reklamasi. Sehingga kita perlu tahu kejelasan dari bupati sendiri,” ujar Rolandus Boli.

‌Mantan Ketua Kemadabaja, Askar Ratulela mempertegas bahwa kita perlu mendukung penuh proses perjalanan persidangan yang sedang berjalan di Lewotana. “Sehingga kita akan tahu bagaimana akar persoalan dan kebenaran yang sebenarnya,” tandasnya.

Sidang kedua, Selasa (5/6/2018) juga akhirnya ditunda. Perkara Nomor Reg 8/Pdt.G/2018/PN/LBT akan disidangkan kembali pada tanggal 28 Juni 2018 yang akan datang. Pasalnya, tergugat Eliaser Yentji Sunur dan kuasa hukumnya Meridian Dado, SH tidak tampak di ruang sidang.

Sebetulnya, kubu Yentji Sunur sudah diwakili Blasius Dogel Ledjab, SH dari kantor Meridian Dado, dan pihak Peggugat diwakili Juprians Lamablawa, SH, MH dan Emanuel Belida Wahon, SH dari kantor hukum Akhmad Bumi & Rekan.

Namun dalam pemeriksaan dokumen surat kuasa, kartu advokat dan berita acara sumpah, tampak Blasius Dogel Ledjab tidak membawa kartu advokat dan berita acara sumpah advokat asli, demikian juga Emanuel Belida Wahon tidak membawa berita acara sumpah asli. Keduanya diusir keluar sidang oleh ketua majelis hakim, Yogi Dulhadi, SH, MH.

Sidang dilanjutkan, dari pihak masyarakat adat Dolulolong tampak hadir Juprians Lamablawa yang duduk di meja Penggugat sedangkan dari pihak Tergugat tampak kosong di meja Tergugat, tidak ada kuasa hukum maupun prinsipalnya Eliaser Yentji Sunur.

Kuasa hukum Penggugat, Juprians Lamablawa, SH, MH menegaskan kepada Majelis hakim, Tergugat prinsipal Eliaser Yentji Sunur harus hadir, patuh dan taat pada Peraturan MA RI Nomor 1 tahun 2016.

“Saya tegaskn melalui Majelis untuk Tergugat Prinsipal Eliaser Yentji Sunur harus patuh, taat dan tunduk pada Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2016 yang mengatur soal mediasi. Semua orang sama di hadapan hukum, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, tidak ada yang istimewa di hadapan hokum,” tegas Jupri.

Sidang dipadati pengunjung baik dari masyarakat umum maupun dari awak media. Tampak hadir prinsipal dari Penggugat dan masyarakat adat Dolulolong. Hadir juga pengurus DPC Partai Golkar, masyarakat Lewoleba dan sekitarnya.(*/fre)

No comment for Kemadabaja Pertanyakan Bupati, Hakim Usir Pengacara Dalam Sidang Gugatan Masyarakat Adat Dolulolong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.