Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Keluhkan Sampah Kiriman, Warga Pesisir Lewoleba Minta Bak dan Gerobak Sampah

Keluhkan Sampah Kiriman, Warga Pesisir Lewoleba Minta Bak dan Gerobak Sampah

(386 Views) November 25, 2016 4:30 am | Published by | No comment

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Para ketua Rumah Tangga (RT) di Kelurahan Lewoleba Tengah dan Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Lembata mengeluhkan “sampah kiriman”, baik dibawa banjir maupun arus laut. Mereka mengaku cukup kerepotan membersihkan sampah yang menumpuk di muara drainase.

“Orang masih suka buang sampah ke laut. Di belakang rumah saya, mereka buang sampah ke laut. Saya tegur, tapi mereka malah bilang: itu resiko kau yang tinggal di pinggir pantai. Rumah dan lingkungan kami bukan tempat sampah. Tapi, tiap kali hujan besar, maka sampah-sampah yang dibawa banjir penuh di muara. Orang yang tinggal jauh dari pantai kirim kami sampah lewat banjir di got,” ungkap Siti Zubaida, salah seorang peserta kegiatan: Temu Warga Pesisir Membangun Komitmen Menjaga Kebersihan Pantai dan Laut Teluk Lewoleba, Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/11/2016).

Kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pondok Perubahan dengan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI (Kemendagri), itu menghadirkan empat orang panelis. Masing-masing, Drs. Frans Wuhan (Ketua Komisi III DPRD Lembata), Farid Mahzar (Kepala Seksi Pengelolaan, Konservasi Sumber Daya Dinas Kelautan dan Perikanan Lembata), Fransiskus Bonefasius Dangkur (Sekcam Nubatukan), dan Ani Lamak (aktivis GEMPITA).

Sedangkan, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo menjadi keynote speaker. Namun dia tidak hadir. Sehingga materinya disampaikan Sunaryo, Kasubdit Mitra dan Pemberdayaan pada Direktorat Ormas, Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri.

Menurut warga pesisir Lewoleba, mereka cukup kesulitan mengatasi sampah kiriman. Selain tidak memiliki peralatan yang memadai, layanan mobil sampah juga tidak maksimal. “Kami butuh bantuan cangkul, linggis, sekop, dan gerobak sampah. Pemerintah tolong bangun bak sampah di tiap RT, sehingga ada tempat penampungan sampah yang pasti agar mereka tidak buang lagi di got atau di pantai,” ujar peserta pertemuan.

Ketua LSM Pondok Perubahan Yohanes Boro maupun ketua panitia penyelenggara, Philipus Payong Lamatapo dalam sambutan dan laporannya, juga sudah mengungkapkan keprihatinannya terhadap perilaku membuang sampah sembarangan.

“Ciri sebuah kota adalah keteraturan pengelolaan sampah, baik sampah rumah tangga, sampah perkantoran, maupun sampah industri. Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat merupakan watak kampung yang sudah harus ditinggalkan jika menginginkan Lewoleba menjadi kota benaran. Suka tidak suka, Lewoleba sudah berubah status menjadi kota,” ujar Yohanes Boro.

Momentum puncak perayaan HARI NUSANTARA di Lembata yang akan menghadirkan Presiden Joko Widodo, menurut Boro, harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong kesadaran kritis warga Kota Lewoleba untuk peduli terhadap sampah. “Kita tidak bisa hanya berpangku tangan menonton pasukan kuning memungut sampah. Sudah saatnya, kita bangkitan kesadaran kritis segenap elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih, bebas dari sampah. Kita akan mendiskusikan dan sekaligus membangun komitmen untuk menciptakan pantai dan laut Teluk Lewoleba yang bersih, bebas sampah. Jangan tunggu pasukan kuning masuk laut atau turun ke pantai untuk memberihkan sampah. Kita sebagai warga Kota Lewoleba, mulai menjaga kebersihan lingkungan kita masing-masing, termasuk lingkungan pantai dan kawasan perairan laut,” tandasnya.

Dia menambahkan, “Jika hujan deras, drainase kota penuh dengan sampah, bahkan sampai tumpah ruah ke jalanan umum. Bayangkan saja, jika semua sampah dibawa banjir hingga ke bibir pantai. Tak cuma pantai yang dipenuhi sampah, tapi laut pun penuh sampah.”

Menanggapi permintaan warga soal peralatan membersihkan sampah kiriman, ketua Komisi III DPRD Lembata, Frans Wuhan, meminta warga agar mengusulkannya melalui musrenbang, agar bisa diusulkan dalam pembahasan RAPBD 2017. “Jika tidak masuk dalam usulan, maka kami akan kesulitan menganggarkannya. Tapi, akan coba bunyikan ini dalam rapat paripurna agar menjadi perhatian pemerintah,” tandasnya.

Sekcam Nubatukan, Fransiskus Bonefasius Dangkur mengaku tak bisa berbuat apa-apa berkaitan dengan pengelolaan sampah, baik di jalan, drainase maupun pantai dan laut. “Karena kami di kecamatan tidak punya kewenangan dalam pengelolaan sampah. Dulu, sampah menjadi kewenangan kecamatan, tapi sekarang di Pol PP. Dan, perda yang baru akan berpindah lagi ke SKPD baru,” ujarnya, menjelaskan.

Dia menjelaskan agar semua pihak bisa terus mendorong wacana pengelolaan sampah dan kebersihan. “Masalah sampah dan kebersihan ini harus diperjelas nomenklatur dan kewenangannya pada instansi mana. Kami di kantor camat, ya sebatas melakukan koordinasi ke jajaran kelurahan dan desa. Tidak lebih dari itu,” ungkap dia.

Sementara itu, aktivis Gempita, Ani Lamak menguraikan pengalamannya mengenai bahaya sampah bagi kelangsungan hidup ekosistem laut. “Kami menemukan penyu yang mati, dalam perutnya terdapat sampah plastik. Sehingga kita jangan main-main dengan sampah. Mari kita mulai melakukan kampanye bersih-bersih pantai dan laut,” ucap dia. (at01)

Topik:
News:

No comment for Keluhkan Sampah Kiriman, Warga Pesisir Lewoleba Minta Bak dan Gerobak Sampah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *