Menu Click to open Menus
Home » HUKRIM » Kasus Ijazah Bupati Lembata: Aldiras Ragukan Keabsahan SP2HP, FP2L Siap Uji Hasil Penyelidikan

Kasus Ijazah Bupati Lembata: Aldiras Ragukan Keabsahan SP2HP, FP2L Siap Uji Hasil Penyelidikan

(1648 Views) July 2, 2016 2:42 pm | Published by | No comment

Emanuel B. Wahon, SH

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Dinilai tidak lazim, Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras) meragukan keabsahan Surat Pemberitahuan Perkembangan Proses Penyelidikan (SP2HP) terhadap kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Eliaser Yentji Sunur yang disampaikan Penyidik Polda NTT ke Alex Murin, sementara Forum Peduli Penyelamat Lewotana (FP2L) segera uji hasil penyelidikan Penyidik Polda NTT.

Koordinator Divisi Hukum dan HAM, Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras) Emanuel Belida Wahon, dan Ketua FP2L Alex Murin menyampaikan hal ini. Dua pentolan organisassi sosial gerakan Lembata itu dijumpai secara terpisah di Lewoleba, Sabtu (2/6).

Emanuel kepada aksiterkini.com mengatakan, SP2HP itu pantas untuk diragukan. Pasalnya, setelah meneliti format SP2HP yang dikantongi Alex Murin, dia menemukan banyak kejanggalan. Format SP2HP tidak sesuai dengan format SP2HP yang lazim digunakan di lingkungan Polri.

“Sesuai format SP2HP yang lazim di lingkungan Polri, sebuah SP2HP disertakan dengan dengan kode A1, atau A2, A3, A4, atau A5 pada sudut kanan atas, yang ditandatangani oleh ketua tim penyidik, mengetahui penyidik pengawas dan ditembuskan ke atasan langsung Direskrimum. Setelah SP2HP kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Eliaer Yentji Sunur, nomor nomor B/146/VI/2016/Direkrimum perihal Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan ke IV tanggal 27 Juni 2016 yang dikirim kepada saudara Alex Murin kami teliti ternyata hal prinsip itu tidak ditemukan. Anehnya lagi, surat itu ditandatangani langsung oleh Direskrimum. Nah… yang menjadi pertanyaan adalah kenapa SP2HP itu tidak sesuai format yang lazim? Atas dasar itulah kita patut meragukan keabsahannya,” ujar Wahon.

Selain itu, SP2HP yang diterima Alex Murin juga tidak terlihat logo Polri pada pojok kiri atas surat. “Ini yang aneh. Benar-benar aneh. Surat yang ditandatangani perwira polisi koq tidak ada logo Polri?” ujarnya.

Lebih jauh Eman yang disapa Nandes Wahon itu menerangkan, bila dalam SP2HP terdapat kode A1 berarti kasus yang disangkakan sedang dalam penelitian Labfor Polisi, sementara A2 berarti perkembangan penyelidikan belum dapat ditindaklanjuti ke penyidikan, kode A3 berarti kasus yang disangkakan ditingkatkan ke proses penyidikan, A4 berarti perkembangan penyelidikan dan A5 berarti Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

formatDi jelaskan pula, SP2HP sesuai perintah Perkap wajib di sampaikan ke pihak pelapor satu kali dalam sebulan.

Sementara itu, Ketua FP2L yang dalam kasus dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Bupati Lembata pun mengaku menemukan banyak kejanggalan. Ditanya tentang kode sebagaimana yang diterangkan Nandes, Alex menjelaskan semenjak kasus yang di laporkannya itu bergulir, dirinya sudah empat kali menerima SP2HP dan tidak terdapat kode apapun dalam surat itu.

Ketua FP2L itu mengatakan, sebagaimana dalam SP2HP ke IV, Penyidik beralasan jika kasus dugaan penggunaan ijazah palsu sebagaimana laporan polisi nomor LP/205/II/2016 Bareskrim tanggal 25 Februari 2016 tidak memenuhi unsur Pasal 263 ayat (1) dan (2) yang diperkuat dengan 5 alasan pendukung itu tidak masuk akal. Karena itu, FP2L segera mengambil langkah hukum untuk menguji hasil penyelidikan tim Penyidik Polda NTT.

“Sangat beralasan kalau kawan-kawan Aldiras meragukan FP2L itu, sebab setelah membaca alasan-alasan yang tertera dalam SP2HP kami juga menemukan banyak kejanggalan, dan atas sejumlah kejanggalan itu kami bersepakat untuk menempuh langkah hukum lain untuk menguji hasil penyelidikan Penyidik Polda NTT itu,” terang Alex. (ogy)

Topik:
News:

No comment for Kasus Ijazah Bupati Lembata: Aldiras Ragukan Keabsahan SP2HP, FP2L Siap Uji Hasil Penyelidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *