Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » “Kampung  Matahari”  Terbit  Di  Ritapiret

“Kampung  Matahari”  Terbit  Di  Ritapiret

(1097 Views) April 25, 2017 3:38 pm | Published by | 2 Comments

Oleh: Yurgo Purab

Anselmus Langowuyo, pria kelahiran Waiwerang, Adonara, Flores Timur ini  baru saja  menerbitkan sebuah  buku dengan judul “Kampung Matahari” (Penerbit Carol Maumere, 2017). Anak pertama ini terbit berkat  kejelian Ansel dalam meramu kata-kata di setiap lorong perjalanan tulisannya.

Ditemui di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret-Maumere, Flores-NTT pada Senin (24/4/2014), Anselmus menuturkan bahwa inti dari judul tulisan “Kampung Matahari” merupakan rangkuman dari  puisi-puisi yang ditulisnya  selama rentang  waktu beberapa dekade belakangan ini. Yang mana memuat beragam refleksi perjalanan ziarah hidupnya dalam mengamati dan merenungi realitas yang terpampang di depan matanya.

Mengenai hal ini, Alexander Bala Gawen, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores, Ende, dalam prolog buku tersebut menulis bahwa “Kampung Matahari” adalah sebuah perjumpaan kontekstual akan realitas hidup yang sebenarnya. Sebuah pertanyaan tentang kehidupan yang dipenuhi radikalisme, fundamentalisme, terorisme, sadisme, kekerasan, ketimpangan kemakmuran dan berbagai bentuk penindasan yang tampak menafikan peran ilmu dan teknologi (Bdk. Ansel Langowuyo. 2017:13).

Bagi pencinta sastrawan sekaliber Joko Pinurbo dan Rendra ini, “puisi adalah  tubuh dan jiwa yang mengata. Ia lahir dari apa yang saya rasakan, tumbuh dari apa yang saya pikirkan, mekar dari apa yang saya harapkan, dan mengakar dari apa yang saya imani. Karena itu, ia menegaskan bahwa puisi mesti lahir dari  pertautan antara tubuh (ragawi)  dan jiwa (rohani).

Pria yang dilahirkan 21 April 1993 tersebut menuturkan bahwa bakat menulis puisi itu tumbuh sejak  ia menempuh pendidikan di SMPK Phaladhya-Waiwerang. “Saat itu, Bapak Pit, Guru bahasa dan Sastra di SMPK Phaladhya-Waiwerang menyuruh kami untuk menulis dyari. Dan saya menulisnya dalam gaya puisi” , ceritanya. Alumnus Seminari  San Dominggo Hokeng, ini semakin  dikenal publik ketika ia membawakan beberapa pentasan monolog dan teater dalam asuhan Fr. Ino Koten  pada beberapa kesempatan  seperti  merayakan  HUT  STFK Ledalero-Maumere, Maumerelogia, serta pentasan menyambut sumpah pemuda di aula LK3I  Maumere serta beberapa kegiatan besar lainnya.

Sebagai anggota komunitas sastra Teater Tanya Ritapiret, Ansel telah berhasil menulis beberapa teks drama (aktus) seperti Rose and Peace (Mawar dan Damai), O Vos Omnes (Wahai Kalian Semua), 17 Menit di Puncak Bejo, Kemerdekaan Patung – Patung Kemerdekaan. Beberapa diantaranya pernah sukses dipentaskan di Seminari Ritapiret.

Selain menulis teks drama, Ansel juga telah menulis beberapa judul cerpen dan  puisi-puisi yang bernas.

Fredy Sebho, dosen STFK Ledalero, dalam endorsementnya terkait buku Ansel, menulis  tentang keiklasan Ansel yang membiarkan  imajinasinya berpendar tak tahu arah, tetapi menggunakan disiplin berpikirnya dalam mengolah kata-kata sehingga logika tetap ada di dalam puisi-puisinya.

Jika mengenal sosok yang satu ini, kita mengenal karya-karya Rendra. Maka,  puisi-puisi yang ditulisnya adalah puisi-puisi dengan nada pemberontakan, jeritan atas ketertindasan batin dan ketertindasan diri, yang terbelenggu oleh pelbagai ketimpangan praktik hukum. Jika sedang membaca puisi, gaya dan cara pembawaannya mirip sastrawan besar, Rendra. Tapi, tak jarang pula ia juga menyempatkan waktu untuk menulis karya-karya sastra yang bertemakan kedaerahan. 

Karya-karya Ansel merupakan karya yang masih amat muda. Namun, karya yang ditampilkannya sepertinya menampilkan gaya berpuisi yang agak lain dari perkembangan sastra sebelumnya.

Ketika ditanya apa motivasi yang mendorongnya menerbitkan karya awal ini? Ansel mengutip perkataan Mario F Lawi, salah satu sastrawan asal NTT, yang  waktu itu  berkunjung ke seminari Tinggi Ritapiret. Dalam tatap muka dengan seluruh anggota Teater Tanya Ritapiret, Mario Lawi pernah mengatakan bahwa dengan mendokumentasikan karya, berarti kita membiarkan karya itu menjadi milik banyak orang.

Atas dasar itulah, Ansel berani menerbitkan karya tersebut. Ia menyadari ada banyak ketidaksempurnaan dalam menulis menanak kata-katanya yang terkesan belum matang amat. Namun, ia tidak ingin setiap lembar refleksinya hilang tergerus zaman begitu saja. Karena itu, ia selalu meminta setiap orang (pembaca) untuk memberikan usul saran, kritikan demi pengembangan karya yang lebih baik tentunya. Ansel berharap agar anak-anak Indonesia, pemuda-pemuda Indonesia  harus rajin membaca dan terus menulis. Dengan membaca dan menulis mereka menciptakan sebuah moment keabadian. (*)

2 Comments for “Kampung  Matahari”  Terbit  Di  Ritapiret

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.