Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Kalahkan Leva, Lukisan Pesta Kacang Lewohala Juara Lomba Lukis “Budaya dan Kesucian”; Komunitas Garis Hitam Terbentuk

Kalahkan Leva, Lukisan Pesta Kacang Lewohala Juara Lomba Lukis “Budaya dan Kesucian”; Komunitas Garis Hitam Terbentuk

(486 Views) June 12, 2018 6:07 pm | Published by | No comment

Vicky menerima tropi dan sertifikat sebagai pemenang 1 lomba melukis. (foto: Freddy Wahon)

LEWOLEBA, aksiterkini.com – Enam belas (16) lukisan berkelas dihasilkan dalam lomba lukis bertajuk Budaya dan Kesucian, di Taman Daun, kawasan Bluwa, Lewoleba, Lembata, Selasa (12/6/2018). Hanya 10 lukisan yang diikutkan dalam perlombaan. Enam lainnya, cuma eksibisi. Yang menarik, lukisan pesta kacang di Lewohala terpilih sebagai pemenang, mengalahkan lukisan tentang budaya penangkapan paus di Lamalera atau lebih dikenal dengan sebutan Leva Nua.

Pesta kacang merupakan warisan budaya turun temurun yang tetap dirawat sampai saat ini, di kampong lama, Lewohala, kecamatan Ile Ape Timur. Rumpun warga yang tersebar dari Desa Kolontobo hingga Jontona, menggelar ritual adat setiap tahun di Lewohala.

“Upacara ini untuk mensyukuri hasil panen sekaligus memohon agar musim tanam berikutnya hasil panen tetap berlimpah,” ucap pelukis pesta kacang, Viky Lein, saat mempresentasekan lukisannya di hadapan Dewan Juri.

Salah satu juri, Fince Bataona sempat menohok, “Tempat taruh makanan di atas bale-bale itu terbuat dari apa?” Viky menjelaskan bahwa makanan diletakan di keleka atau bakul, yang terbuat dari anyaman daun lontar.

Lukisan Pesta Kacang merupakan satu-satunya lukisan dengan latar gunung dan pemandangan kawasan pegunungan. Sedangkan, enam lukisan berlatar laut dan prosesi penangkapan ikan paus. Dua lukisan leva nua yang mengundang perhatian juri, yakni lukisan yang memperlihatkan aksi lamafa saat hendak menancapkan tempuling ke tubuh ikan paus.

Arcy menerima hadiah sebagai pemenang ke-2. (foto: fince bataona)

“Melukis budaya itu, pelukis harus menguasai latar budayanya. Sehingga lukisannya tidak melenceng dari konteks keaslian budaya,” tandas Fince Bataona, yang mengaku anak seorang pelukis tapi dirinya bukan pelukis.

Dia bertanya kepada seorang pelukis leva nua, “Ikan apa yang mau ditikam?” Dijawab, ikan paus. Fince terus memburu, “Ini peledang atau perahu yang orang Lamalera biasa bilang Jhonson?” Dijawab, “Peledang”.

Fince menjelaskan, kalau peledang maka haluannya tidak seperti dalam gambar. “Karena haluan peledang itu tidak terbuat dari papan yang dipasang rapat seperti itu, karena harus berlubang.”

Begitu pula terhadap pelukis leva nua lainnya, Fince langsung menohok bahwa saat lamafa menikam ikan paus, layar peledang sudah digulung. “Ketika layar digulung, maka orang yang menunggu di darat, di pantai Lamalera sudah tahu bahwa lamafa sedang menikam ikan paus. Jadi layar diturunkan itu sebagai tanda bagi orang di darat,” jelas penulis novel Lamafa ini.

Pelukis leva nua lainnya, Arcy Batafor dikomentari oleh juri Aldino Purwanto Bediona. Arcy menjelaskan bahwa dirinya menggambar sebuah peledang yang patah jadi dua gara-gara dihembas ekor ikan paus. “Ini menggambarkan bahwa yang berada dalam peledang ini ada yang tidak beres. Padahal, untuk mendapatkan ikan paus maka lamafa dengan seluruh awak peledang harus dalam keadaan yang bersih. Kalau ada yang tidak beres, ini akibatnya, peledang pecah di tengah laut,” jelas Arcy.

No Kraeng menerima hadiah sebagai pemenang ke-3. (foto: Freddy Wahon)

Aldino Bediona menilai apa yang dilukiskan Arcy masih terlampau polos dan sederhana. “Kan masih bisa dieksplorasi lagi untuk lebih dramatis lagi. Ini patahannya juga sangat simetris, padahal kalau dihantam ekor ikan paus itu bisa berkeping-keping,” ujarnya.

Kendati begitu, semua juri –Bar Tokan, Aldino Bediona, Fince Bataona dan Agustinus Dasion, sepakat menempatkan lukisan Arcy Batafor sebagai pemenang kedua.

Pemenang ketiga adalah No Kraeng. Dia menggambar tumpukan gading dan diatasnya diletakan sebuah kotak dengan tulisan RIP. “Gading ini merupakan belis kepada anak gadis. Dulu, gading ini memiliki nilai spiritual dan nilai budaya yang sangat tinggi. Tapi, sekarang yang dilihat adalah nilai ekonomis dari gading. Ini yang saya sebut sebagai kematian nilai budaya dari gading,” jelas No Kraeng.

Ketua Panitia sedang berbicara di hadapan para juri. (foto: Freddy Wahon)

Pimpinan Taman Daun, Goris Batafor maupun ketua panitia, Bartholomeus Dasion memuji hasil karya lukis dari para pelukis muda berbakat. “Semua lukisan ini bagus-bagus. Tapi, kita harus memilih sesuai tema yang dibuat panitia. Sehingga yang tidak menang itu bukan berarti gambarnya jelek, tapi tidak sesuai kriteria menjadi pemenang,” ujar Goris Batafor, saat menyampaikan sambutan.

Dia menjelaskan bahwa lomba yang digelar Taman Daun merupakan bagi dari upaya menghimpun para pelukis di Kota Lewoleba. “Dan, hari ini kita lahirkan komunitus untuk para pelukis, namanya Garis Hitam. Itu tempat komunitas garis hitam,” ucap Goris Batafor sambil menunjuk bangunan tanpa dinding dengan papa nama Garis Hitam.(fre)

 

No comment for Kalahkan Leva, Lukisan Pesta Kacang Lewohala Juara Lomba Lukis “Budaya dan Kesucian”; Komunitas Garis Hitam Terbentuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.