Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Ini Pandangan Tokoh Adat Lewohala Tentang Perubahan Status Ile Lewotolok

Ini Pandangan Tokoh Adat Lewohala Tentang Perubahan Status Ile Lewotolok

(1616 Views) October 8, 2017 4:29 pm | Published by | No comment

ILE APE, aksiterkini.com – Para tokoh adat Lewohala yang bermukim di lereng gunung Ile Lewotolok sama sekali tak gentar dengan perubahan status dari normal menjadi waspada. Pasalnya, diyakini kalau para leluhurnya bersemayam di gunung tersebut. 

“Tanpa mengabaikan peringatan dari BMKG, kami tentu tetap waspada. Tetapi kami yakin kalau gunung yang kami percaya tempat bersemayamnya leluhur tidak akan membuat susah anaknya,” ungkap seorang tokoh adat Lewohala, Gabriel Lele kepada Yogi Making dari aksiterkini.com di sela acara ritual adat di kawasan rumah adat Lewohala di lereng gunung Ile Lewotolok, Minggu (8/10/2017).

Sebagai masyatakat adat, sambung dia, kami juga percaya bahwa selama menjalin hubungan kami dengan alam, mungkin saja ada tindakan yang membuat alam tempat bernaungnya, leluhur marah. “Karena itu, perubahan status Ile Lewotolok adalah bentuk peringatan kepada kami generasi Ile Ape untuk menjaga hubungan dengan baik. Menjaga alam seperti menjaga diri kami sendiri. Atau bisa kita bilang, Jangan sampai kita ambil dari alam sesuka hati, lalu kita lupa merawat dan jaga alam,” ucap dia, santai.

Pesta kacang tahun ini memang persis bertepatan dengan pengumuman perubahan status Ile Lewotolok dari BMKG. “Kami orang Lewohala melaksanakan ritual sora uta (pesta kacang), dan ritual ini adalah ritual syukur atas hasil panenan yang kami peroleh selama setahun, sekaligus sebagai ajang rekonsiliasi antara kami sesama anak Lewohala, baik itu dalam rumpun keluarga (suku) dan klen, juga menjadi ajang rekonsiliasi antara kami dengan alam,” tegasnya.

Dia mengungkapkan harapannya agar hubungan masyarakat dengan alam bisa kembali terjalin baik. Ya, “Kami berharap dengan acara ini kekecewaan alam terhadap kami anak Lewohala dan anak Ile Ape umumnya, bisa kita perbaiki kembali,” ucap Gabriel Lele.

Dia merasa tidak perlu takut jika leluhur sedang marah. Ya, “Kenapa kita harus takut kalau leluhur marah? Tidak. Justru ketika leluhur kecewa, tugas kita adalah periksa kesalahan dan perbaiki kembali hubungan dengan alam,” tandasnya.

Marsel Tuan, tokoh adat Lewohala lainnya justeru memandang perubahan status sebagai hal yang positif. “Perubahan status yang kami tandai dengan semburan api, menurut kami itu tanda alam, dimana menunjukan tahun baik. Artinya, kalau kami sebagai petani panenan tahun depan akan baik,” ujarnya.

Dia berharap semua pihak bisa melakukan introspeksi diri berkaitan dengan perubahan status Ile Lewotolok. “Bisa juga karena alam kecewa dengan perilaku manusia, seperti kejadian beberapa tahun silam dimana status gunung meningkat dan sempat membuat panik warga di beberapa desa. Hal ini karena informasi yang kami dapat adalah, ada oknum tertentu yang mengambil belerang di daerah atau tempat terlarang,” tandas Marsel Tuan.

Dia menegaskan bahwa masyarakat adat Lewohala tetap melaksanakan pesta kacang. “Ini ritual tahunan yang wajib dilaksanakan untuk syukur terhadap hasil panen dan bentuk terima kasih kami kepada leluhur yang sudah menjaga dan melindungi kami,” tegas dia.(fre)

No comment for Ini Pandangan Tokoh Adat Lewohala Tentang Perubahan Status Ile Lewotolok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.